Menurut Gates, pendekatan swab mandiri membantu deteksi infeksi dan penyebaran virus lebih cepat. Sebab, pengetesan ini bisa dilakukan dengan segera di berbagi lokasi, tidak hanya di pusat kesehatan.
Selain itu, cara ini juga membantu melindungi petugas medis dari risiko paparan infeksi. Sebab, kalau pengetesan dilakukan di pusat kesehatan, petugas medis mesti mengganti alat pelindung diri setiap selesai mengambil sampel untuk mencegah penyebaran penularan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gates mengatakan yayasan miliknya telah berinvestasi dalam penelitian untuk menunjukkan bahwa pasien memiliki peluang untuk melakukan swab mandiri. Ia juga meminta para penerima dana ini untuk mendesain penyeka yang murah dan dapat diproduksi dalam skala besar dengan kualitas baik.
Semua tes PCR Covid-19 hingga saat ini melibatkan pengambilan usap hidung dan memprosesnya dalam mesin Polymerase Chain Reaction (PCR).
Gates mengatakan tes PCR cukup sensitif karena umumnya dapat menunjukkan apakah seseorang memiliki virus bahkan sebelum memiliki gejala atau menginfeksi orang lain.
Namun, Gates mengaku pihaknya sudah berkomunikasi dengan produsen perihal bagaimana cara agar mesin volume tinggi bisa dua kali lebih produktif.
"Setiap orang yang membuat mesin ini dan beberapa pendatang baru membuat mesin sebanyak mungkin. Menambahkan kapasitas dan memanfaatkan penuh mesin yang sudah tersedia akan meningkatkan kapasitas pengujian," tulisnya dalam catatan di blog pribadi Gates Notes.
Tes cepat tanpa laboratorium
Ilustrasi. Bill Gates mendukung pelaksaan rapid test dengan metode tes swab (ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE) |
Gates menambahkan jenis tes lain yang sedang dikembangkan adalah Rapid Diagnostic Test (RDT). Jenis itu seperti tes kehamilan di rumah. Setiap orang akan menyeka hidung secara mandiri dengan cara yang sama seperti untuk tes PCR. Tidak dikirim ke laboratorium, hasil tes RDT ditaruh di wadah cair dan kemudian dituangkan ke selembar kertas yang akan berubah warna jika mendeteksi virus.
"Bentuk tes ini mungkin tersedia dalam beberapa bulan. Meskipun tidak akan sama sensitifnya dengan tes PCR, bagi seseorang yang memiliki gejala itu cukup akurat. Anda masih perlu melaporkan hasil tes ke pemerintah karena mereka membutuhkan visibilitas ke tren penyakit," ujar Gates.
Adapun tentang tes serologi dengan menggunakan darah, dia menilai hanya menunjukkan hasil positif pada penyakit yang terlambat dideteksi. Sehingga, dia menilai tes itu tidak membantu seseorang dalam memutuskan apakah akan dikarantina. Terlebuh, dia berkata tes yang dilakukan sejauh ini memiliki masalah dengan false positive.
"Tes masih akan tersedia di pusat-pusat medis, tetapi yang paling sederhana adalah memiliki mayoritas dilakukan di rumah. Untuk membuat itu berfungsi, pemerintah harus memiliki situs web yang dapat dikunjungi dan digunakan untuk melaporkan keadaan, termasuk gejala," ujarnya.
"Jika positif, seseorang akan mendapatkan peringkat prioritas dan semua penyedia tes akan diminta untuk memastikan mereka memberikan hasil cepat ke tingkat prioritas tertinggi," Gates.
Perlu pengetesan sehari
Selain itu, Gates juga menyarankan agar pengetesan bisa dilakukan dengan segera. Sebagai contoh di AS, hasil tes baru bisa diterima setelah 7 hari. Padahal selama 7 hari itu belum tentu seseorang bebas dari infeksi corona. Maka hasil pengetesan instan menurutnya sangat dibutuhkan.
"Di Amerika Serikat, butuh lebih dari tujuh hari di beberapa lokasi untuk mendapatkan hasil tes, (hal ini) mengurangi nilai (akurasi)-nya secara dramatis. Penundaan semacam ini tidak dapat diterima," ujar Gates. (jps/eks)
Ilustrasi. Bill Gates mendukung pelaksaan rapid test dengan metode tes swab (ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE)