Amin mengatakan pihaknya sudah menyepakati protokol nasional untuk menerapkan terapi plasma darah serta proses pengambilan donor.
"Kemarin kita baru menyepakati protokol nasional untuk penerapannya di rumah sakit dan juga proses pengambilan donor," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (14/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ini (terapi plasma darah) hanya dibolehkan kepada mereka yang penyakitnya berat, tidak untuk yang ringan dan tidak boleh untuk pencegahan," ucap Amin.
Setelah plasma masuk ke dalam tubuh pasien, pasien tersebut akan diamati secara intensif selama satu minggu. Amin mengatakan merujuk kepada estimasi tenaga medis di China, hanya dalam beberapa hari pasien sudah akan menunjukkan tanda-tanda membaik.
Amin menuturkan dua pasien dinyatakan sembuh dari Covid-19 setelah menjalani terapi plasma darah.
"Sudah ada dua sampai tiga pasien yang sembuh (karena terapi plasma darah), kira-kira dua hingga tiga minggu yang lalu," pungkasnya.
Terapi plasma darah sendiri berangkat dari tindakan yang dilakukan otoritas kesehatan China kepada orang terjangkit virus corona baru, yang diberikan antibodi mantan pasien Covid-19.
Otoritas Kesehatan China juga telah mendaftarkan plasma darah sebagai salah satu langkah perawatan pasien virus corona yang berada dalam kondisi kritis.
Amerika Serikat merupakan negara pertama yang menguji coba terapi plasma darah akhir Maret 2020, di bawah koordinasi Food and Drug Administration (FDA). Saat ini, para dokter dan peneliti memantau dengan cermat bagaimana plasma bekerja di dalam tubuh untuk menyembuhkan pasien Covid-19. (din/mik)