Manajemen Tokopedia mengakui ada upaya pencurian data pengguna, namun perusahaan memastikan bahwa password tetap berhasil terlindungi, sehingga belum ada pengambilalihan akun. Kendati begitu, perusahaan e-commerce itu melakukan investigasi lebih lanjut.
Lantas bagaimana bila akun pengguna terlanjur dibobol oleh peretas?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila akun sudah diambil alih kembali, lalu periksalah histori belanja dan saldo di dompet digital (e-wallet). Menurutnya, bila ada transaksi yang tidak pernah dilakukan pengguna, maka bisa dilaporkan ke Tokopedia.
Sebab, masih memungkinkan tindakan pembatalan transaksi dan atau pengembalian dana. Namun, bila tindakannya berupa transfer dana, maka dipastikan raib.
Kemudian, ketika sudah berhasil mengambilalih akun, beri tambahan pengamanan baru, misalnya menggunakan Two Factor Authentication (TFA). Sebab, menurutnya, tingkat keamanan username dan password sangat lemah dan mudah dijebol.
"Ini perlindungan terbaik, jadi kalau sewaktu-waktu username dan password diambil alih, peretas tidak bisa sepenuhnya masuk karena akan tetap diminta password tambahan," katanya.
Lalu, hindari trojan atau perangkat lunak berbahaya yang dapat merusak sistem atau jaringan. Begitu pula dengan keylogger atau aplikasi yang bisa merekam aktivitas pengguna komputer.
Selanjutnya, aktifkan pembaharuan versi (automatic update) aplikasi. Menurutnya, penggunaan versi terbaru dari suatu aplikasi yang digunakan pengguna bisa mencegah peretasan karena biasanya ada penambahan tingkat keamanan di setiap versi terbaru.
Salah satunya, bisa menghindari dari upaya penipuan atau phising dari pihak lain. Alfons bilang upaya-upaya ini sejatinya juga bisa dilakukan pengguna sebagai langkah pencegahan untuk memperkuat keamanan akun dan meminimalisir peretasan.
Pencegahan lain, sambungnya, bisa dilakukan dengan tidak menyimpan nomor rekening kartu debit dan kredit di akun e-commerce. Begitu pula dengan kode CVV sebagai ketentuan final sebelum transaksi dilakukan.
"Jadi lebih baik repot memasukkan nomor kartu debit, kartu kredit ketika mau transaksi, daripada disimpan secara otomatis. Itu memudahkan penggunaan dana ketika sudah berhasil dibobol," jelasnya.
Kemudian, isilah e-wallet dengan saldo secukupnya sesuai kebutuhan. Saat ini, batas maksimal saldo e-wallet mencapai Rp10 juta, namun bila kebutuhan hanya Rp500 ribu sampai Rp1 juta, maka tak perlu 'menabung' di e-wallet.
Di sisi lain, ia turut menghimbau agar e-commerce senantiasa melakukan peningkatan keamanan server. Sebab, kejadian pembobolan sejatinya juga bisa terjadi karena kelalaian pengamanan server.
Sementara proses membaca password diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa hari setelah data pribadi diketahui.
"Jadi tidak perlu khawatir berlebih karena belum bisa terbaca secara langsung, meski email, aktivitas login, dan lainnya sudah berhasil didapat. Tapi baiknya sekarang seluruh pengguna melakukan ubah password untuk pencegahan," jelasnya.
(uli/age)