Orang Kaya Diimbau Main Supercar di Sirkuit, Bukan Jalan Tol

fea, CNN Indonesia | Senin, 04/05/2020 21:00 WIB
McLaren   Club   Indonesia   dengan   support   penuh   McLaren   Jakarta  
menyelenggarakan   track   day   pada   hari   Minggu,   2   September   2018   di   Sirkuit  
Sentul,  Bogor  dengan  tema  “Speed  Up  Thrill  In”. McLaren Club Indonesia dengan support penuh McLaren Jakarta menyelenggarakan track day pada hari Minggu, 2 September 2018 di Sirkuit Sentul, Bogor dengan tema “Speed Up Thrill In”. (McLaren Club Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat sekaligus praktisi keselamatan berkendara Jusri Pulubuhu menilai pemilik supercar semestinya tidak menjadikan jalan tol yang sepi karena pandemi virus corona sebagai arena kebut-kebutan. Menurut dia lokasi paling pas buat bersenang-senang bersama supercar yakni di sirkuit.

Supercar merupakan spesies mobil yang diciptakan untuk kecepatan, harganya yang mencapai miliaran rupiah membuatnya terbatas hanya dimiliki para orang kaya di dalam negeri. Menurut Jusri ada konsekuensi yang mesti dipahami pengemudi supercar saat berbaur dengan kendaraan lain di jalan raya.


Sebagai gambaran, supercar, mobil dengan tenaga lebih dari 500 hp, cuma butuh gigi kedua atau ketiga sampai 100 km per jam dengan hitungan akselerasi di bawah 5 detik. Kata Jusri ada banyak fitur supercar yang bakalan tidak terpakai saat digunakan di jalan raya.


Jusri mengatakan supercar di Indonesia sebaiknya hanya dijadikan koleksi saja. Dia beralasan kondisi lalu lintas, infrastruktur, dan populasi tinggi kendaraan di jalan raya Indonesia dengan kebiasaan tidak tertib menyulitkan pergerakan supercar.

Dia menyarankan pemilik supercar yang ingin mendapatkan sedikit keleluasaan saat berkendara di jalan raya bisa meminta pengawalan kepolisian seperti dilakukan komunitas saat konvoi. Saran lainnya disebut memacu supercar sampai rpm tinggi di sirkuit.

"Kendaraan tersebut paling ideal di sirkuit, walaupun Anda hobinya bukan balap," kata Jusri saat dihubungi, Senin (4/5).

Jusri mengatakan tanpa pengawalan kepolisian berarti tidak ada eksklusivitas buat supercar. Itu artinya tidak ada keistimewaan seperti boleh memacu kendaraan di atas batas kecepatan atau rekayasa jalan raya.

"Mereka harus merasakan konsekuensi di jalan raya dan ikut peraturan bila tanpa pengawalan," ucap Jusri.

Pemilik Supercar Tahan Diri

Meminta pengawalan untuk mengendarai supercar saat seperti sekarang ini kemungkinan sulit sebab kepolisian sedang fokus mengawal penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Alternatif lain, sirkuit, juga sepertinya bukan pilihan sebab tutup selama PSBB.

Salah satu sirkuit favorit digunakan komunitas supercar, Sentul International Circuit, di Bogor, Jawa Barat, menyatakan tutup sejak Maret dari sebagian besar aktivitas. Dari 22 jadwal balapan yang seharusnya digelar pada tahun ini, baru satu yang diselenggarakan pada Februari.


General Manager Sentul International Circuit Lola Moenek menyatakan Sirkuit Sentul setidaknya digunakan komunitas supercar enam kali selama setahun. Setiap kali disewa, kata Lola, pihaknya menyediakan fasilitas pendukung seperti marshall dan ambulans.

"Kalau menurut saran saya, kalau memang mau membawa supercar kalau di jalan raya memang bukan tempat kebut-kebutan, semua ada aturannya. Kalau memang mau menjalankan yang benar harus ke sebuah sirkuit, tetapi sayangnya sekarang sirkuit kita tidak buka," kata Lola.

Jadwal pembukaan Sirkuit Sentul disebut tergantung kebijakan pemerintah, Lola pihaknya bakal ikut aturan. Selama menunggu hal itu terjadi, dia menyarankan para pemilik supercar agar menahan diri.

"Manajemen sirkuit sentul mengimbau pemilik supercar menahan diri sampai keadaan pulih kembali dan semua bisa main lagi di tempat sebenarnya," ucap Lola. (fea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK