13 Juta Akun Dijual, Bukalapak Sebut Tak Ada Data Baru Bocor

jnp, CNN Indonesia | Rabu, 06/05/2020 09:16 WIB
Tampilan e-commerce bukalapak. CNNIndonesia/Safir Makki Ilustrasi Bukalapak (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin menegaskan tidak ada data baru pengguna layanan ecommerce itu yang bocor dan dijual di forum hacker.

Hal ini diungkap merespon pemberitaan data 13 juta akun Bukalapak yang dijual di forum peretas sejak Senin lalu (4/5). Oleh karena itu, Rachmat menegaskan data-data pelanggan Bukalapak masih aman.

Rachmat mengatakan bahwa 13 juta data akun yang bocor tersebut merupakan data yang sama saat 13 juta data akun Bukalapak dijual oleh peretas Pakistan yang bernama Gnosticplayers tahun lalu.


"Tidak ada kasus baru. Saya bisa konfirmasi setelah pengecekan oleh tim internal bahwa link yang beredar adalah data set yang sama seperti tahun lalu," kata Rachmat saat dihubungi CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Rabu (6/5).

"Perlu ditegaskan bahwa saat ini data konsumen aman di Bukalapak," tegas Rachmat.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, Rabu (6/5), penjual dengan nama akun Asian Boy menyebut data yang ia jual tertanggal tahun 2017. Rachmat mengatakan pada percobaan peretasan pada 2019, Bukalapak telah berhasil menemukan sumber peretasan menghentikannya.

Selain Asian Boy, data itu juga dijual oleh Tryhard User yang juga menawarkan 12 juta data Bukalapak.

"Tahun 2019 sudah kejadian dan kita hentikan dengan security system kita," lanjutnya lagi.

Data 13 juta akun Bukalapak ini dijual di forum yang sebelumnya menjadi tempat penjualan 91 juta pengguna Tokopedia.

Data yang dijual kali ini, jumlahnya serupa dengan kasus kebocoran data Bukalapak tahun lalu yang dijual oleh Gnosticplayers.

Rachmat Kaimuddin menjelaskan keamanan data pengguna adalah prioritas perusahaan. Bukalapak selalu berusaha meningkatkan keamanan data agar data pengguna tak disalahgunakan.

Rachmat menjelaskan Bukalapak menggunakan sistem perlindungan berlapis saat menerima, menyimpan, dan mengolah seluruh data pengguna.

"Saat menerima, kami menggunakan metode https sehingga data yang masuk tidak mudah diretas. Saat menyimpan, kami menerapkan metode perlindungan termutakhir dengan perlindungan berlapis," kata Rachmat. 

Saat menggunakan dan mengolah data, Bukalapak melakukan pengawasan ketat sehingga jejak orang yang mengakses, membaca, mengganti, atau menghapus data terekam secara baik.

"Untuk data-data yang sensitif seperti KTP, kami simpan di tempat penyimpanan khusus dalam periode waktu tertentu yang dapat secara otomatis terhapus untuk melindungi privasi pengguna kami," kata Rachmat.

Rachmat mengingatkan ancaman peretasan yang dilakukan oleh pihak - pihak tidak bertanggung jawab terhadap industri teknologi digital akan selalu ada.

Sehingga ia mengimbau pengguna untuk melakukan langkah-langkah pencegahan sebagai berikut, seperti tertulis dalam keterangan resmi Bukalapak.

1. Ganti kata sandi akun secara berkala
2. Aktifkan verifikasi dua Langkah
3. Lebih berhati-hati terhadap Phishing
4. Perbarui Data Diri Secara Berkala
5. Amankan Data Finansial (eks/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK