Studi dari Universitas Utrecht dan Erasmus Medical Center and Harbour BioMed (HBM) itu diharapkan bisa menjadi langkah awal untuk mengembangkan antibodi manusia yang bisa mengobati atau mencegah Covid-19.
Penelitian yang sudah melalui tahap peninjauan ulang ini (peer review) dipublikasikan pekan lalu di jurnal Nature Communication. Studi tersebut dites pada sel kultur manusia menggunakan koleksi antibodi yang dimiliki peneliti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan menggunakan kumpulan antibodi SARS-CoV, peneliti berhasil mengidentifikasi antibodi yang juga menetralkan infeksi SARS-CoV-2 dalam sel kultur.
"Fitur antibodi yang menetralkan silang ini sangat menarik dan menunjukkan kemungkinan memiliki potensi dalam mitigasi penyakit yang disebabkan oleh virus corona terkait yang muncul di masa depan," ujar Bosch.
Penulis utama studi dari Pusat Medis Erasmus, Frank Grosveld mengatakan penemuan tersebut memberikan dasar yang kuat untuk penelitian tambahan dalam mengkarakterisasi antibodi dan memulai pengembangan pengobatan Covid-19 yang potensial.
Terapi antibodi konvensional pertama kali dikembangkan pada hewan dan kemudian harus menjalani pekerjaan tambahan untuk 'memanusiakan' mereka. Antibodi dihasilkan dengan menggunakan teknologi transgenik H2L2 dari Harbour BioMed.
Sehingga, cara ini disebut berbeda dari antibodi terapeutik konvensional. Sebab pada cara konvensional antibodi tersebut biasanya dikembangkan pada spesies lain terlebih dulu sebelum diuji ke manusia, seperti dilaporkan Sky News.
Kepala Eksekutif HBM Jingsong Wang mengklaim temuan itu sebagai penelitian yang inovatif. Namun, dia menilai masih banyak pekerjaan yang diperlukan untuk menilai apakah antibodi itu dapat melindungi atau mengurangi keparahan penyakit pada manusia.
"Kami berharap dapat memajukan pengembangan antibodi dengan mitra. Kami percaya teknologi kami dapat berkontribusi untuk mengatasi kebutuhan kesehatan masyarakat yang paling mendesak ini dan kami mengejar beberapa jalan penelitian lain," kata Wang .
Ilustrasi. (CNNIndonesia/Safir Makki) |
Identifikasi antibodi penetral SARS-CoV-2, reaktivitas ELISA (silang) dinilai dari supernatan yang mengandung antibodi dari koleksi 51 hibrida SARS-S yang berasal dari tikus H2L2 transgenik yang diimunisasi yang mengkode imunoglobulin chimerik.
Empat dari 51 supernatan hibrid SARS-S menampilkan reaktivitas ELISA-lintas-reaktif dengan subunit SARS2-S1, di mana satu memamerkan aktivitas penetral-silang SARS-S dan SARS2- Infeksi VSV pseudotip
Netralisasi SARS-CoV dan SARS-CoV-2 yang otentik dilakukan menggunakan uji netralisasi pengurangan plak seperti dijelaskan sebelumnya, dengan beberapa modifikasi.
Antibodi netralisasi dapat mengubah arah infeksi pada host yang terinfeksi yang mendukung pembersihan virus atau melindungi host yang tidak terinfeksi yang terpapar virus.
Antibodi tersebut, baik sendiri atau dalam kombinasi diharapkan memberi potensi untuk mencegah dan atau mengobati Covid-19. Bahkan mungkin juga penyakit lain yang muncul di masa depan pada manusia yang disebabkan oleh virus dari subgenus Sarbecovirus. (jps/eks)
Ilustrasi. (CNNIndonesia/Safir Makki)