Menurut Dirjen IKP Widodo Muktiyo, influencer merupakan salah satu kanal komunikasi pemerintah untuk menjangkau masyarakat, khususnya kaum milenial.
Ia mengatakan komunikasi publik yang dilakukan Gugus Tugas soal Covid-19 bertujuan untuk membuat masyarakat memahami pandemi. Namun di sisi lain, komunikasi publik juga harus membuat masyarakat tenang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditjen IKP mengemban tugas komunikasi publik yang berkaitan dengan pandemi Covid-19. Komunikasi publik bertugas untuk memberikan informasi kepada publik tanpa menimbulkan kecemasan.
"Memberikan informasi supaya rakyat semua paham dan bisa tenang menghadapi. Ini suatu proses dua bulan ini kita lihat, awalnya belum tahu, belum percaya. Setelah percaya karena belum utuh akhirnya panik, dari perilaku diri kita dan perilaku ekonomi seperti panic buying," kata Widodo.
"Ini jadi situasi menarik karena dalam dirinya terjadi keinginan tetapi kemudian harus mengerti situasi ini akan merugikan semua kita. Ini dinamika berbeda lagi untuk protokol komunikasi," kata Widodo.
Widodo mengatakan dalam larangan mudik, pihaknya berusaha membuat komunikasi agar masyarakat paham mengapa tidak bisa mudik, bukan terpaksa tidak bisa mudik.
"Dalam tatanan perilaku itu tidak hanya kognitif tapi afeksi. Sampai kepada perilaku psikomotornya dengan suka hati. Bahkan kami di pesan-pesan selalu mengatakan mudik bisa ditunda atau diundur besok hingga akhir tahun dan sebagainya," ujar Widodo. (jnp/eks)