Sterilisasi ini dilakukan dengan memaparkan sinar UV-C itu selama lima menit ke masker N95 yang telah digunakan. Idealnya, sterilisasi masker N95 ini hanya dilakukan tiga kali.
Salah satu anggota tim peneliti dari dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Trisasi Lestari mengatakan pengembangan alat dilatarbelakangi atas sulitnya para tenaga medis dalam mendapatkan dan mahalnya masker N95 di pasaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak RS membuat alat sterilisasi masker N95 tetapi tanpa perhitungan kekuatan lampu UV-C atau lama paparan yang baik sehingga masker malah rusak. Kita pun terdorong membuat alat sterilisasi UV-C yang didesain khusus untuk masker N95," ujarnya.
Peneliti Fakultas Teknik UGM Eka Firmansyah mengatakan sterilisasi dengan memanfaatkan UV-C adalah salah satu metode yang biasa dilakukan untuk melakukan dekontaminasi bakteri atau virus.
"Paparan sinar UV dengan dosis yang tepat, tidak berlebihan dapat mengurangi risiko kerusakan filter masker N95 sehingga lebih aman untuk digunakan secara berulang," ujar Eka.
"Kita gunakan gelombang sinar UV-C dengan panjang gelombang antara 250-270nm, terbukti mampu merusak langsung DNA dan RNA bakteri atau virus sehingga efeknya mematikan bakteri dan virus itu sendiri," ujar Trisasi.
Lebih lanjut, proses pembuatan sterilisasi itu dimulai sejak awal April dan selesai dalam waktu satu bulan. Dia berkata alat steriliasi dibuat dalam dua ukuran yang mampu menampung 3 atau 9 masker sekaligus.
Trisasi menjelaskan proses sterilisasi masker dengan paparan sinar ultraviolet UV-C itu hanya memakan waktu selama kurang lebih lima menit untuk membunuh kuman dan virus yang menempel.
Trisasi menambahkan alat sterilisasi itu tidak hanya bisa diperuntukan pada masker saja. Tapi, bisa juga digunakan untuk sterilisasi alat medis lainnya seperti gunting, pisau bedah, dan kasa.
"Berapa lama efektif paparannya belum kami ukur. Tetapi asumsinya dengan lama paparan 5-10 menit sudah cukup mematikan," ujar Trisasi.
Rrencananya, alat itu akan distribusikan dulu ke beberapa puskesmas dan RS di Jogja, termasuk Lab Mikrobiologi FKKMK UGM tempat alat diuji coba. Alat itu juga akan terus dikembangkan agar bisa bisa diproduksi secara massal. (jps/eks)