Sebab Covid-19 menyerang sistem pernapasan secara kompleks. Sementara 1,8 cineole hanya meredakan penyumbatan di hidung.
Padahal sistem pernapasan bukan hanya hidung, tapi juga tenggorokan hingga paru-paru. Bahkan virus bisa menular melalui mata hingga mulut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini diutarakan Niechi terkait dengan pendaftaran hak paten anti virus corona yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan).
Hanya saja dalam keterangan resmi, Kementan tak secara spesifik menyebut virus itu sebagai anti virus Covid-19. Patut diketahui varian virus corona tak hanya SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, tapi ada MERS, hingga SARS. Selain itu, sejak lama virus corona memang dikenal menginfeksi hewan dengan varian virus corona, alfa, beta, hingga gamma.
Selain itu, menurut Niechi dibutuhkan senyawa tambahan seperti myricetin untuk menghancurkan dahak di paru-paru dan meningkatkan imunitas.
Senyawa lain yang dibutuhkan adalah hesperidin dan luteolin. Hesperidin ditemukan di berbagai jenis jeruk yang bermanfaat untuk menghambat penggandaan virus serta ikatan protein virus ke sel manusia yang menjadi reseptor virus.
Senyawa luteolin golongan flavonoid banyak terdapat pada sayuran indigenious (lokal/asli) Indonesia seperti kelor, seledri, bayam, jinten, apel dan tempuyung. Luteolin bisa memecah protein S (spike).
Oleh karena itu, Niechi mengatakan tidak cukup pengembangan hanya pada satu senyawa saja, perlu riset lebih lanjut dan berulang-ulang yang melibatkan banyak senyawa dan mengombinasikan senyawa untuk menemukan anti virus.
"Bukan tidak mungkin kita akan menemukan anti virus Covid-19 ini. Kebetulan kandungan seperti ini banyak terdapat pada jenis lokal asli tanaman kita," ujar Niechi.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Akhmad Darmawan menjelaskan senyawa 1,8 cineole memang sudah dikenal untuk menyembuhkan influenza atau flu.
"Mengombinasikan 1,8-cineole dengan oseltamivir dan memberikan hasil bahwa kombinasi tersebut memberikan efek yang sinergis dalam melawan infeksi yang disebabkan virus influenza A (H3N2) atau flu burung," kata Akhmad.
Berdasarkan uji laboratorium Balitbang, eucalyptus mampu membunuh virus virus influenza, virus Beta dan gamma corona dalam skala 80-100 persen.
"Setiap virus memiliki karakteristik berbeda, pun virus yang sama jika sudah bermutasi sedikit banyak pasti mempunyai perbedaan. Nah, virus yang mempunyai perbedaan akan membutuhkan obat dengan karakteristik yang juga berbeda," tuturnya. (jnp/eks)