Siswanto kemudian menjelaskan bahwa matahari secara alami memiliki variasi perubahan dalam jumlah energi yang dipancarkannya.
Dia berkata variasi yang sudah dikenal adalah variasi 11 tahunan dimana matahari memancarkan energi secara maksimum, yaitu pada saat bintik matahari dalam puncak banyak jumlah dan saat pancaran energinya rendah pada saat bintik matahari lebih sedikit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Siklus matahari 11 tahunan, bersama faktor penyetir iklim (climate driver) lainnya, seperti aerosol letusan gunung api, perubahan kemiringan sumbu rotasi bumi, perubahan sirkulasi samudera, dapat menjelaskan perubahan naik dan turun (fluktuasi) suhu udara global, pada waktu itu hingga pertengahan abad 19, sekitar tahun 1950-an," ujarnya.
Lebih dari itu, dia berkata suhu udara permukaan global telah meningkat tajam dan tetap memiliki tren naik bahkan lebih tajam pada dekade akhir-akhir ini sejak 1959.
"Dari fakta ini telah jelas bahwa tren pemanasan suhu global yang diamati selama setengah abad terakhir ini tidak terpengaruh oleh tren penurunan aktifitas matahari tersebut. Bahkan 2016, 2019, 2017, 2018 adalah 4 tahun terpanas dalam sejarah kehidupan bumi selama ini," ujar Siswanto.
Sebelumnya, Siswanto menjelsakan GSM pada periode aktivitas matahari yang sangat rendah sekitar tahun 1650 hingga 1715 di belahan bumi utara terkombinasi dengan pendinginan suhu bumi efek dari aerosol akibat letusan besar banyak gunung api. Dia berkata letusan itu menghasilkan suhu permukaan bumi menjadi lebih rendah.
Lebih lanjut, Siswanto menyampaikan beberapa ilmuwan pakar aktivitas matahari juga meragukan dapat terjadinya GSM dan menyatakan bahwa relatif kecil kemungkinan dari variasi siklus matahari terakhir (disebut SC24) akan membentuk Grand Solar Minimum baru dalam beberapa dekade mendatang.
Jika GSM dapat berlangsung, dia berkata para ilmuwan telah mengkalkulasi besarnya efek yang mungkin dapat ditimbulkannya.
Besaran itu, lanjutnya sebenarnya ekivalen dengan dampak pertumbuhan konsentrasi karbon dioksida (CO2) selama tiga tahun ini.
"Jadi, GSM yang diperkirakan bisa terjadi itu hanya berfungsi mengimbangi beberapa tahun pemanasan yang disebabkan oleh aktivitas manusia (perubahan iklim antropogenik)," ujarnya.
Di sisi lain, Siswanto menyampaikan pemanasan suhu global yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia adalah enam kali lebih besar daripada pendinginan selama beberapa dekade dari Grand Solar Minimum yang diprediksikan dapat terjadi tersebut.
Bahkan, dia berkata suhu global akan terus menghangat jika GSM bertahan satu abad.