Saat ini perangkat diharapkan memasuki uji klinis pada bulan Juli dan tersedia untuk umum paling cepat pada bulan Agustus.
Para peneliti mengklaim sensor ini bisa digunakan berulang kali. Sensor bisa mendeteksi infeksi virus corona dalam 60 detik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir Apple Insider, pemimpin proyek Massood Tabib-Azar menyampaikan ukuran sensor itu hanya selebar satu inci. Sensor bakal terhubung dengan ponsel lewat Bluetooth. Sensor ini bakal ditenagai lewat kabel yang terhubung ke port pengisian daya smartphone.
"Pengguna hanya perlu mencolokkan sensor ke port pengisian daya ponsel mereka dan meluncurkan aplikasi pendamping sebelum menempatkan partikel air liur mikroskopis ke atasnya. Pada menit berikutnya, hasilnya akan ditampilkan pada ponsel. Jika virus ada, untaian DNA pada sensor mengikat proteinnya. Ini memicu hambatan listrik, menandakan hasil positif," ujar Tabib-Azir, seperti dikutip Metro.
Tabib-Azar menyampaikan untaian DNA dalam virus nantinya mengikat protein pada sensor, yang pada gilirannya akan menciptakan hambatan listrik dan memicu hasil positif atau negatif pada aplikasi.
Setelah tes selesai, sampel dapat dihancurkan menggunakan arus listrik. Sehingga sensor bisa tetap steril dan bisa untuk digunakan kembali untk tes lain.
Skenario lain, hasil tes positif para pengguna juga bisa langsung dikirim ke otoritas kesehatan. Sehingga pemerintah bisa langsung melacak jumlah pasien positif corona. (jps/eks)