Kepala Subbidang Analis Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Suaidi Ahadi mengatakan dentuman di lonosfer akibat aktivitas plasma elektromagnetik.
"Curiga terbesar sebagai sumber dentuman adalah aktivitas di Ionosfer," ujar Suaidi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Suadi, Data Indeks Dst untuk tanggal 10 April 2020 dan 10 Mei 2020 memiliki kemiripan yang sama yaitu nilai indeks Postif di atas 10 yang artinya menunjukkan aktivitas badai Magnetik Berada di Ionosfer.
"Menariknya adalah, untuk Tanggal 10 April untuk Jam Suspect Nilai tertinggi ada pada Stasiun Lampung, Sukabumi dan Yogya Sedangkan tanggal 10 Mei nilai tertinggi Indeks pada Jam Suspect berturut turut yaitu Yogya, Sukabumi dan Lampung, yang artinya lokasi Suspect juga terlokasi dengan baik," ujar Suaidi.
Di sisi lain, Suaidi menuturkan dugaan itu berasal dari data-data yang ada, terutama data Indeks Dst Lokal dan Peta Spasial TEC, juga data bunyi dentuman yang menyebar ke berbagai lokasi, dan rekaman signal akustik dari Accelerograph.
Suaidi mengatakan dentuman yang berasal dari aktivitas lotisfer adalah hal yang biasa. Namun, dia mengatakan perlu kajian lebih lanjut terkait data dukung dari Satelit Magnetik Global dan Ionsonde di Ground Base dan data Infrasound. (jps/mik)