Mereka melakukan studi pertama dengan menguji coba jenis komposisi bioaerosol (mikroorganisme udara) dan mereka berhasil mengidentifikasi bahwa keadaan atmosfer tidak berubah meski banyak aktivitas manusia.
Aktivitas-aktivitas manusia itu antara lain pembakaran fosil, menanam tanaman tertentu, memproduksi pupuk, dan pembuangan air limbah. Salah satu ilmuwan yakni Sonia Kreidenweis pun meyakini bahwa udara yang ada di lapisan batas Samudra Selatan bebas dari partikel aerosol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aerosol yang mengendalikan sifat-sifat awan di Samudra Selatan sangat berkaitan dengan proses biologis laut dan Antartika tampaknya terisolasi dari penyebaran mikroorganisme ke selatan serta pengendapan nutrisi," kata ilmuwan lainnya yaitu Thomas Hill seperti dikutip CNN.
Lihat juga:NASA Bantah Temukan Alam Semesta Paralel |
Menurut hasil penelitian yang sudah dipublikasikan dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences, Hill dan kawan-kawan mengambil sampel udara di atmosfer yang memiliki kontak langsung dengan laut. Lalu mereka memeriksa komposisi mikroba yang seringkali tersebar ribuan kilometer oleh angin.
Setelah itu para ilmuwan menggunakan sekuensing DNA (proses atau teknik penentuan urutan basa nukleotida pada suatu molekul DNA) dan pelacakan sumber. Hasilnya, mereka menemukan bahwa asal-usul mikroba berasal dari laut.
Polusi udara sudah menjadi krisis kesehatan global dan dapat membunuh jutaan orang tiap tahunnya menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Sebab, polusi udara dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan kanker paru-paru.