Sel ini mampu mengenali virus dan merespons dengan tepat. Peneliti menyebut fenomena sebagai reaktivitas silang (cross reactivity). Fenomena ini mengakibatkan T cell berkembang sebagai respons terhadap virus lain yang serupa dengan SARS-CoV-2.
Dalam hal ini, sel-sel T tersebut mungkin tersisa dari paparan orang sebelumnya terhadap virus corona yang berbeda. Satu dari empat virus corona bisa menyebabkan pilek biasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Science Alert, penelitian ini diterbitkan di journal Cell (https://www.cell.com/cell/fulltext/S0092-8674(20)30610-3). Sette mengatakan T cell membantu menghasilkan kekebalan yang lebih cepat dan kuat.
Di antara 20 orang yang sampel darahnya diambil sebelum pandemi, 50 persen memiliki jenis sel darah putih yang disebut CD4 + - sel T yang membantu sistem kekebalan membuat antibodi. Peneliti mengatakan sel ini mampu mengenali virus corona baru dan membuat sistem kekebalan tubuh untuk segera melawan.
Dilansir dari Daily Mail, sekitar 70 persen sampel dari penderita Covid-19 membawa sel T pembunuh (T cell killer) CD8, sementara semuanya memiliki CD4.
Sel T pembunuh secara langsung membunuh sel-sel yang telah terinfeksi oleh patogen. Sementara sel T pembantu merangsang bagian lain dari respons imun, seperti sel B.
Sel B juga merupakan bagian dari sistem imun adaptif. Mereka membantu membuat antibodi yang spesifik untuk setiap patogen.
Di sisi lain, peneliti mengatakan diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui apakah atau sejauh mana reaktivitas silang ini mempengaruhi tingkat keparahan suatu kasus.
"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa reaktivitas silang dengan virus corona berperan dalam hasil klinis Covid-19 yang ringan atau parah atau tingkat infeksi pada populasi," Maillère Bernard, seorang ilmuwan di Université de Paris- Saclay.