Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN Rhorom Priyatikanto mengatakan pasang tinggi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir akan tetap terjadi meski tidak ada gerhana bulan.
"Saat ini [Bumi] lebih dekat dengan bulan purnama, dan ada pengaruh dari Bulan. Tapi tidak bisa serta-merta menjadi penyebab pasang surut," kata Rhorom saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (9/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rhorom mengatakan pada 3 Juni lalu, Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi. Kala itu, pasang surut lebih tinggi dari rata-rata. Akan tetapi, ia meragukan bahwa gerhana Bulan menjadi satu-satunya penyebab tingginya pasang surut.
Beberapa waktu lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan semua daerah mengalami banjir rob saat pasang. Sebab, setiap daerah memiliki ambang batas air yang berbeda.
Tidak hanya di musim hujan, Eko mengatakan pasang sudah biasa terjadi setiap hari. Ia mengatakan sesungguhnya pasang surut maksimum dapat terjadi dua kali dalam sebulan. Yaitu pada awal/akhir dan pertengahan bulan hijriah.
"Walau tidak hujan pun dapat terjadi banjir rob jika tinggi pasang sudah melewati ambang batas pasang surut normal," ujar Eko.
Sebelumnya, BMKG memprediksi banjir pesisir atau rob akan kembali melanda perairan utara Pulau Jawa pada awal Juni 2020.
Selain itu, banjir pesisir atau rob turut menggenangi kawasan Perumahan Pantai Mutiara, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara, Minggu (7/6). Ketinggian rob yang merendam kawasan elite itu hingga pukul 09.00 WIB sekitar 20 sampai 40 sentimeter (cm). (jnp/eks)