Akibatnya, platform media sosial dipaksa untuk mengambil tindakan untuk menghentikan penyebaran narasi tersebut setelah serangkaian menara-menara 5G dibakar.
Melansir CNN, teori yang mencoba menghubungkan pandemi Covid-19 dengan 5G dinilai tidak masuk akal. Sebab, Covid-19 disebabkan oleh virus menular dan menyebar di wilayah dunia yang belum memiliki teknologi 5G.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
5G dapat mengakses rentang gelombang frekuensi radio yang lebih luas daripada sebelumnya, memungkinkan peningkatan kecepatan dan bandwidth.
Profesor bioteknologi di Universitas Pennsylvania, Kenneth Foster menuturkan banyak teori konspirasi tentang bahaya 5G fokus pada frekuensi radio yang dilalui sinyal. Namun, dia mengatakan jaringan 5G pita-rendah dan menengah-pita beroperasi pada frekuensi yang hampir sama dengan jaringan yang ada.
"Tidak ada yang berbeda dalam hal paparan," kata Foster.
Peneliti radiologi New York University School of Medicine, Chris Collins menuturkan kemajuan besar dari 5G yang akan datang merupakan hasil dari jaringan high-band, yang mana sinyal bergerak lebih dari frekuensi gelombang milimeter.
Namun, dia berkata frekuensi gelombang milimeter tidak perlu dikhawatirkan karena tidak dapat menembus permukaan, seperti dinding, pohon atau kulit manusia.
"Agak ironi bahwa ada kekhawatiran tentang 5G karena akan beroperasi pada frekuensi yang lebih tinggi," kata Collins.
Seperti gelombang radio FM dan cahaya, Collins menyampaikan gelombang frekuensi radio adalah bentuk radiasi "non-ionisasi". Itu artinya gelombang itu tidak memiliki energi yang cukup untuk merusak DNA di dalam sel dan menyebabkan kanker seperti sinar-X.
Namun, hal itu bertentangan dengan para kritikus. Mereka berpendapat bahwa terlalu sedikit penelitian yang telah dilakukan pada efek potensial 5G.
Kepala Kabinet Komisi Eropa Vytenis Andriukaitis berkata pihaknya akan terus melacak penelitian tentang 5G ketika infrastruktur jaringan diperluas.
"Yakinlah bahwa Komisi akan terus mengikuti perkembangan masa depan dalam rangka menjaga kesehatan warga Eropa," kata Andriukaitis.
Melansir The Sun, pengawas radiasi ICNIRP menyatakan radiasi dari ponsel 5G tidak dapat menyebabkan kerusakan. Hal itu keluar setelah tujuh tahun mempelajari bukti ilmiah.
"Kami tahu sebagian masyarakat khawatir tentang keamanan 5G dan kami berharap pedoman yang diperbarui akan membantu membuat orang nyaman," kata Ketua ICNIRP, Eric van Rongen.
"Pedoman ini telah dikembangkan setelah peninjauan menyeluruh terhadap semua literatur ilmiah yang relevan, lokakarya ilmiah dan proses konsultasi publik yang luas," ujarnya.
Melansir situs Badan Kesehatan Dunia, virus tidak dapat melakukan perjalanan lewat gelombang radio atau jaringan seluler. Covid-19 juga menyebar di banyak negara yang belum memiliki jaringan seluler 5G.
"Covid-19 menyebar melalui tetesan pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin atau berbicara. Orang juga dapat terinfeksi dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian mata, mulut atau hidung mereka," kata WHO. (jps/mik)