Tagar #TagihanPLNOkSaja muncul setelah pelanggan layanan listrik negara itu mengeluh lonjakan listrik yang tak lazim. Beberapa warganet mengakui lonjakan tagihan abnormal hingga 10 kali lipat di kala pandemi Covid-19.
"Tagar #TagihanPLNOkSaja ini bisa jadi contoh sempurna, dimana sebuah kampanye online yang niatnya bagus untuk mengelola krisis, malah mendapat "backfire" atau serangan balik negatif yang lebih kuat, dengan tagar perlawanan #TagihanPLNOkSajaNdasmu dan #PLNVangke," kata Ismail lewat cuitannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
[Gambas:Twitter]
Analisis Ismail menyebut ada banyak akun bodong yang ikut meramaikan tagar #TagihanPLNOkSaja. Akun-akun tersebut ada yang tidak memiliki follower, ada juga yang hanya memiliki 1 follower.
[Gambas:Twitter]
Ismail mengatakan seharusnya memainkan tagar yang lebih netral atau minta maaf untuk meredakan keluhan warganet. Ia memberikan contoh tagar #PenjelasanTagihanPLN, #TentangTagihanPLN, atau #TagihanPLN101. Tagar ini dianggap tidak menyinggung emosi pelanggan yang tagihannya 'tidak oke'.
Tagar #SorryBroSoalTagihanPLN, juga disarankan agar terlihat lebih empatik terhadap para konsumen
Ismail kemudian menjelaskan emosi awal dalam tagar #TagihanPLNOkSaja didominasi oleh 'anticipation' saat sedang mengalami puncak pada 9 Juni pukul 12.00 WIB. Emosi tersebut berisi harapan agar masyarakat mengerti cara perhitungan tagihan dan mengerti keadaan yang sudah dijelaskan dengan baik.
Akan tetapi, mulai pukul 17:30 di hari yang sama (9 Juni), emosi "anger" atau marah mulai naik pesat. Emosi ini dicetuskan oleh cuitan @MudjiburRohman. (jnp/eks)