Berdasarkan catatan sepanjang tahun 2020, dentuman misterius pertama terjadi pada tanggal 11 April 2020 sekitar pukul 01.00-03.00 WIB. Kala itu, suara dentuman terdengar sebagain orang di Bogor, Sukabumi, Depok, Pelabuhan Ratu, DKI Jakarta dan Tangerang, Tangerang Selatan, Cileduk, hingga Serang.
Dentuman misterius kedua terjadi pada 11 Mei 2020 sekitar pukul 00.00-02.00 WIB. Sebagian orang di Ngawi, Sragen, Boyolali, hingga Grobokan melaporkan mendegar suara dentuman misterius tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia justru menyatakan aktivitas manusialah yang memberi pengaruh terhadap kondisi bumi.
BMKG menyatakan suara dentuman yang terjadi pada tanggal 11 April dan 11 Mei bukan dari aktivitas Litosfer (bagian kulit Bumi) atau atmosfer. Dari data-data yang ada, BMKG menduga sumber dentuman berasal dari aktivitas di ionosfer.
Menurut Kepala Sub Bidang Analisis Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Suaidi Ahadi, kesimpulan itu didapat dari data monitoring alat BMKG.
"Untuk dentuman kemarin, dapat dilihat dengan baik dengan alat magnetometer yang kami punya. Dari sinyal tersebut menyimpulkan bahwa energi yang dihasillan bukan bersumber dari litosfer dan atmosfer, tapi pada lapisan ionosfer," ujar Suaidi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/6).
Suaidi menyebut keyakinan BMKG bahwa dentuman pada 11 April dan 11 Mei bersumber dari lapisan ionosfer didukung oleh data jaringan GPS global. Menurutnya, BMKG menggunakan data itu untuk melihat daerah terdampak dari fenomena alam tersebut.
"Ternyata data GPS saling mendukung lokasi sumber terjadi Ionosfer atau lapisan Troposfer atas," ujarnya.
Suadi menyampaikan aktivitas di Ionosfer merupakan fenomena biasa. Dia menyebut fenomena itu akibat aktivitas plasma elektromagnetik yang terjadi pada lapisan tersebut.
Sedangkan aktivitas plasma elektromagnetik, lanjut Suaidi disebabkan ganguan plasma Ionosfer atau efek pantul dari magnetotail (Sub Storm) yang diakibatkan oleh badai magnetik dari Matahari (CME) beberapa hari sebelumnya.
Meski demikian, Di sisi lain, Peneliti Petir dan Atmosfer BMKG Deni Septiadi sempat menyatakan mengaku masih meragukan aktivitas ionosfer sebagai sumber dentuman. Sebab menurutnya, sumber suara di ionosfer tidak dapat didengar oleh banyak manusia di permukaan bumi.
"Jika menghubungkan dengan dentuman dengan frekuensi rendah (VLF ~ 3-30 KHz) yang rambatan suaranya 10-100 km tentu terlalu jauh," ujarnya.
Selama ini, dia menyebut peneliti menggunakan berbagai peralatan dan sensor untuk menangkap suaranya dalam melakukan kajian.
Dia justru menduga dentuman yang terdengar sebagian orang di Bandung, Jabodetabek, hingga Jawa Tengah berasal dari aktivitas manusia, bukan suara alami.
Menanggapi kemungkinan ini, Suaidi menyebut suara di lapisan yang berjarak 600 kilometer itu masih bisa terdengar ke Bumi jika energinya besar. Jarak 600 kilometer kira-kira serupa dengan jarak Jakarta-Madiun di Jawa Timur.
"Kalau energinya besar kemungkinan bisa terdengar. Jarak Ionosfer 100-600 kilometer" tuturnya.
Terpisah, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional mengaku belum dapat menjelaskan fenomena dentuman yang terjadi di Indonesia.
"Darimana arah sebenarnya, seberapa kuat suaranya, berapa frekuensinya, dan sebagainya," ujar Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, Rhorom Priyatikanto kepada CNNIndonesia.com.
Rhorom mengatakan diperlukan data kuantitatif terkait fenomeba tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang tepat.
(jps/eks)