"Jadi setelah kita menelaah keterkaitan indeks ultraviolet dengan Covid-19 di Indonesia, benang merah yang bisa kita tarik adalah bahwa radiasi ultraviolet baik secara langsung atau tidak langsung mengurangi risiko transmisi Covid-19," ujar Albert dalam diskusi virtual, Jumat (12/6).
Namun, Albert menyampaikan kesimpulan itu harus dikaji lebih mendalam. Sebab, dia menyampaikan data penelitian masih Meta-analysis dan Covid-19 merupakan hal yang baru dalam dunia penelitian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga pelemahan virus corona pada kondisi yang lebih hangat menyebabkan penurunan jumlah kasus," ujarnya.
Keterkaitan kedua, dia berkata terkait dengan produksi vitamin D. Dia menyebut vitamin D hasil radiasi UV berperan penting untuk daya tahan dan memperkuat imunitas tubuh sehingga bisa mengurangi risiko kematian akibat Covid-19.
"Radiasi ultraviolet dari matahari berperan dalam sintesis dari provitamin D menjadi vitamin D di dalam tubuh manusia secara alami," ujar Albert.
Lebih lanjut, Albert menuturkan ada tiga jenis radiasi ultraviolet berdasarkan rentang gelombangnya, yakni A, B, dan C. Setiap radiasi, dia menyebut memiliki tingkat energi dan daya tembus lapisan atmosfer yang berbeda.
Dia menyebut, sekitar 90-95 persen radiasi UV tipe A dengan tingkat energi paling rendah dapat menembus lapisan permukaan atmosfer. Sedangkan 5-10 persen radiasi UV tipe B yang bisa mencapai permukaan.
"Meskipun ultraviolet tipe C memiliki energi yang paling tinggi, tidak ada radiasi tipe itu yang mencapai permukaan karena semuanya tersekat dengan lapisan ozon yang ada di stratosfer," ujarnya.
Adapun faktor yang mempengaruhi nilai indeks UV adalah posisi relatif matahari-bumi, tutupan awan, tingkat polusi udara, serta tipe permukaan dan topografi. Nilai indeks UV terdiri dimulai dari angka 0.
"Indeks UV 0-2 dan diberikan kode warna hijau itu risiko bahaya rendah. Sedangkan 3-7 yang kuning dan oranye itu risiko paparan bahwa sedang. Dan untuk indeks UV dari 8 sampai ke atas diberi warna merah hingga ungu diartikan bahwa risiko tinggi dan ekstrim," ujar Albert.