Hal ini merujuk pada kasus dugaan peretasan akun Instagram Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) beberapa waktu lalu.
Menurut Alfons, sebelum kita kehilangan akses sepenuhnya atas akun Instagram, pemilik akun wajib mengaktifkan pengamanan dengan TFA (Two Factor Authentication). Cara ini dinilai sudah sangat baik dan sulit dipecahkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Instagram Respons Kasus Peretasan Akun YLBHI |
Selain itu, Alfons menyarankan kepada pengelola akun untuk menyematkan antivirus pada perangkat ponsel mereka seperti Gdata atau Webroot.
Pihak Instagram biasanya akan menghubungi melalui surat elektronik. Jika kita mendapati pemberitahuan tersebut, artinya perlu waspada untuk langsung mengamankan akun Instagram.
Bila proses hacker terjadi memberikan email peringatan kepada pengguna jika ada tindakan yang tidak biasa dari akun Instagram mereka.
Alfons pun menyarankan, jika memiliki bukti yang kuat jika akun Instagram diretas, bisa langsung membuat laporan kepada pihak kepolisian.
"Akun diretas bisa banyak kemungkinan, bisa oleh siapa saja. Kalau ada bukti yang kuat, boleh diutarakan ke pihak berwajib dengan bukti yang jelas dan sebaiknya jangan melemparkan dugaan saja karena kemungkinan bisa banyak," jelas Alfons.
Sebelumnya, Ketua Bidang Jaringan dan Kampanye YLBHI, Arif Yogiawan mengatakan pihaknya tidak mengetahui persis sejak kapan peretas bisa masuk ke akun Instagram. Lalu peretas telah berhasil mengubah alamat verifikasi akun mereka.
"Saya tidak tahu persis karena apa akun kami diretas. Tetapi kegiatan kami terakhir adalah menggelar diskusi webinar tentang otoritarian," kata Arif saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (15/6).
Lebih lanjut kemarin Arif mengatakan bahwa belum ada konten di Instagram YLBHI yang dihapus dan belum ada juga konten yang diunggah di akun mereka oleh peretas. (din/mik)