Penjelasan Sains soal Mineral Rare Earth ala Prabowo-Luhut

CNN Indonesia | Rabu, 24/06/2020 07:35 WIB
Di Rembang sudah ada 210 tambang yang memperoleh izin pemerintah dan telah beroperasi. Total luas areal tambang mereka mencapai 820 hektare, terdiri dari tambang batu andesit 75 hektare, batu kapur (batu gamping) 493 hektare, pasir kuarsa 160 hektare, batu tras 80 hektare, tanah urug 10 hektare, 2 hektare tanah liat. Seluruh tambang tersebut sejauh ini menyerap 1.800 tenaga kerja.Tambang kapur di Rembang antara lain dimiliki seorang nama terkenal di jagat politik Republik. Marzuki Alie, mantan Ketua DPR RI periode 2009-2014. Petinggi Partai Demokrat ini memiliki saham di PT Gunung Mas Mineral, yang izin operasi tambangnya hampir habis. CNN Indonesia/Andry Novelino Ilustrasi rare earth atau logam tanah jarang. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mineral Rare earth atau bisa juga disebut logam tanah jarang adalah kumpulan 17 unsur kimia pada tabel periodik yang terdiri dari 15 unsur lantanida ditambah skandium dan yttrium.

Pembicaraan terkait logam tanah jarang mengemuka ke publik setelah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bertemu pekan lalu.

Saat itu, Luhut mengatakan bahwa rare earth merupakan komoditas mineral hasil ekstrak tin atau timah. Komoditas itu kemudian dijadikan untuk campuran kebutuhan pembuatan magnet, elektronik, hingga senjata.


Menyoal lebih lanjut logam tanah jarang dari sisi sains, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara, Irwandy Arif, logam tanah jarang diperoleh dari mineral Monazit dan Xenotime.

"Jadi, sumber daya tanah logam di Indonesia itu biasanya berasosiasi dengan mineral yang mengandung timah. Logam tanah jarang bisa diperoleh mineral Monazit dan Xenotime," kata Irwandy saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (23/6).

"Kedua jenis mineral tersebut bisa diperoleh juga sebagai hasil samping pengolahan biji Zirkonium yang terdapat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah," sambungnya.

Monazit sendiri merupakan senyawa fosfa logam tanah jarang yang mengandung 50 sampai 70 persen oksida. Senyawa ini diambil dari mineral pasir berat yang merupakan hasil samping dari senyawa logam berat lain.

Monazit memiliki kandungan thorium yang cukup tinggi sehingga mineral tersebut mempunyai sifat radioaktif.

Sementara Xenotime merupakan senyawa ittirium phosphat yang mengandung 54 sampai 65 persen logam tanah jarang termasuk erbium, cerium, dan thorium.

Menurut Irwandy, logam tanah jarang kurang berperan dalam industri baterai namun banyak digunakan dalam industri mobil listrik, elektronika, satelit, katalis, magnet, sensor, bahkan untuk keperluan militer.

"Elemen-elemen di militer dipakai juga (logam tanah jarang). Pernyataan pak Luhut itu secara umum (kegunaan logam tanah jarang) tetapi perlu diingat jumlah yang ada di timah itu belum signifikan," tuturnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Irwandy, material logam tanah jarang yang dimiliki Indonesia hanya sekitar 23 ribu materik ton dan sejauh ini belum ada perusahaan yang memfokuskan untuk mengembangkannya.

"Sumber daya Monazit di timah yang dimiliki Indonesia itu sekitar 23.000 metrik ton dan belum tersedia data cadangan. Sampai saat ini, tidak ada satu pun perusahaan di Indonesia yang memfokuskan diri di bidang logam tanah jarang," jelas Irwandy.

"Sejauh ini logam tanah jarang hanya sebagai hasil sampingan pada mineral timah tetapi itu pun belum diberdayakan secara optimal," lanjut dia.

Lebih lanjut kata Irwandy, posisi Indonesia kurang strategis pada sumber daya logam tanah jarang.

Saat ini ada lima negara yang mendominasi yaitu China, Brazil, Vietnam, Rusia, dan India. Bahkan Negeri Tirai Bambu sendiri dapat menghasilkan logam tanah jarang sebesar 44 juta metrik ton.

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]