AS Minta Eropa Tak Pakai Teknologi Skrining Bagasi China

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 05:15 WIB
Ilustrasi Sementara Pemeriksaan Bagasi Pesawat Ilustrasi skrining bagasi bandara. (Laudy Gracivia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat (AS) meminta negara-negara Eropa untuk tidak menggunakan teknologi skrining bagasi perusahaan milik China, yakni Nutech. AS dilaporkan khawatir perangkat skrining bagasi itu dapat mengirimkan data sensitif, seperti info penumpang dan manifes pengiriman ke mata-mata China.

Seperti klaim terhadap teknologi Huawei, tudingan AS itu sayangnya tidak disertai bukti tentang pengiriman data dari Nuctech ke sistem pengawasan Tiongkok. Namun, Administrasi Keamanan Transportasi AS telah melarang Nuctech terpasang di banyak bandara AS sejak tahun 2014.

Melansir Engadget, Nuctech telah membantah pernyataan AS. Mereka mengklaim bahwa data dari perangkatnya hanya milik pelanggan dan sama sekali tidak ditransfer ke pemerintah China.


Nutech juga membantah klaim bahwa mereka mendominasi bisnis bagasi dan kargo, serta memberi harga murah untuk memenangkan persaingan usaha. Uni Eropa pernah menyatakan Nutech bersalah karena melakukan dumping harga pada tahun 2010.

Sejak dinyatakan bersalah, Nuctech telah mendirikan pabrik di Polandia untuk menjaga harganya tetap murah.

Departemen Luar Negeri AS sejauh ini tidak secara langsung mengkonfirmasi strategi tersebut. Namun, mereka menyatakan bahwa AS tidak mendukung perusahaan yang didukung oleh rezim otoriter.

Melansir Business Insider, AS menuduh Huawei sebagai saluran mata-mata China. Pejabat AS mengatakan Huawei telah memiliki teknologi mata-mata selama lebih dari satu dekade.

AS mengklaim memiliki informasi valid sejak lama hingga mulai membagikannya kepada sekutu, seperti Jerman dan Inggris sebagai upaya untuk membuat mereka membekukan peralatan Huawei dari jaringan 5G

Namun, informasi tersebut tampaknya tidak mengganggu Inggris. Sebab, negara itu mengumumkan akan mengizinkan Huawei untuk membangun infrastruktur 5G dalam jumlah terbatas.

Sebelumnya, Departemen Pertahanan AS merilis daftar 20 perusahaan yang dibekingi oleh militer China, salah satunya Huawei. AS menuduh pabrikan teknologi itu berkonspirasi melakukan pencurian rahasia dagang dan membantu upaya spionase China.

Tensi hubungan antara AS dan China terus memanas belakangan ini, terlebih saat pandemi virus corona. AS berulangkali menyebut virus corona berasal dari China, tuduhan yang selalu disangkal Tiongkok. Ketegangan juga terjadi di sektor perdagangan.

China diketahui memperingatkan akan mengambil sejumlah langkah untuk melindungi Huawei dan perusahaan lain setelah AS mengumumkan pembatasan baru atas pembelian produk dari perusahaan teknologi raksasa itu.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]