Jepang Minta AS Ekstradisi 2 Orang Komplotan Carlos Ghosn

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 03/07/2020 17:52 WIB
Nissan's former chairman Carlos Ghosn at a press conference in Beirut, Lebanon, Wednesday, Jan. 8, 2020. (AP Photo/Maya Alleruzzo) Carlos Ghosn. (AP Photo/Maya Alleruzzo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jepang secara resmi telah meminta kepada Amerika Serikat (AS) untuk mengekstradisi dua orang yang membantu mantan bos Nissan, Carlos Ghosn, melarikan diri dari Jepang pada akhir tahun lalu.

Kedua orang itu adalah kontraktor sekuriti dan mantan anggota kesatuan khusus AS Michael Taylor dan anaknya Peter. Keduanya telah ditahan di AS setelah Jepang mengungkap nama mereka dalam surat perintah penangkapan karena berpartisipasi dalam pelarian Ghosn.

Keduanya sudah ditangkap di Harvard, Massachusetts, AS. Peter diketahui ditangkap saat sedang berencana pergi ke Libanon, negara destinasi pelarian Ghosn.


Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari AS soal ekstradisi, namun negara ini punya perjanjian ekstradisi dengan Jepang. Sedangkan Jepang tak punya perjanjian ekstradisi dengan Libanon.

"Permintaan Jepang untuk ekstradisi Michael L. Taylor and Peter M. Taylor telah diajukan ke Kementerian Luar negeri AS sesuai dengan perjanjian ekstradisi antara AS dan Jepang," sebut Andrew Lelling, pengacara perwakilan AS di Massachusetts, mengatakan kepada pengadilan Boston, seperti dilansir dari AFP, Jumat (3/7).

Selain kedua orang itu, Jepang juga telah menuduh seorang warga negara Libanon bernama George-Antoine Zayek yang juga membantu Ghosn melarikan diri dari Jepang pada 29 Desember.

Menurut berkas pengadilan, Michael, Peter, dan Zayek, berpura-pura sebagai musisi saat membantu Ghosn yang bersembunyi di kotak besar berwarna hitam yang biasa digunakan mengangkut peralatan audio, kemudian membawanya ke pesawat jet sewaan.

Infografis Alur Cerita Pelarian diri GhosnFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Infografis Alur Cerita Pelarian diri Ghosn

Pada Januari Ghosn yang menggelar konferensi pers di Libanon sempat mengatakan 'tidak punya pilihan' selain melarikan diri. Dia merasa diperlakukan tidak adil oleh pengadilan Jepang dan menuduh eksekutif Nissan berkomplot untuk menjebaknya.

Ghosn ditangkap otoritas Jepang pada November 2018, kemudian dia berulang kali dituduh melakukan pelanggaran finansial oleh Nissan. Sistem peradilan Jepang membuat seseorang terdakwa bisa ditahan berulang-ulang karena dakwaan yang berbeda, dalam jangka waktu lama.

Ghosn sempat mendapatkan dua kali bebas dengan jaminan, namun pada kesempatan kedua ia memutuskan melarikan diri ke Libanon. Ghosn seharusnya menjalani masa peradilan pada April 2020.

(fea)

[Gambas:Video CNN]