Indeks Inovasi RI Terendah Kedua di ASEAN, Daya Saing Rendah

CNN Indonesia | Sabtu, 04/07/2020 14:23 WIB
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menargetkan 50.000 perangkat uji (test kit) PCR diproduksi akhir Mei 2020 Menteri Riset dan Teknologi Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menyebut daya saing Indonesia dibanding negara-negara ASEAN masih rendah. (ANTARA/Martha Herlinawati S)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menyebut daya saing Indonesia dibanding negara-negara ASEAN masih rendah. Ini dilihat dari angka indeks inovasi global.

"Indeks inovasi global kita itu nomor dua terendah di ASEAN. Jauh di bawah negara tetangga kita Singapura dan Malaysia. Rendahnya indeks inovasi global membuat daya saing kita tidak terlalu baik," kata Bambang melalui konferensi video di acara Konferensi Forum Rektor Indonesia, Sabtu (4/7).

Padahal menurutnya inovasi perlu ditingkatkan untuk mendobrak pertumbuhan ekonomi. Ia mengingatkan Indonesia punya target menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2024. Untuk mencapai itu pendapat per kapita suatu negara harus mencapai lebih dari US$12.535.


Sedangkan pendapatan perkapita Indonesia baru di angka US$4.050. Ini hanya beda 5 dolar di atas batas pendapatan per kapita negara berpendapatan rendah.

"Di sini butuh perjalanan panjang. Karena untuk mengejar GNI per kapita 12 ribu kita butuh upaya yang biasa untuk lompat dari 4 ribu," ujarnya.

Untuk itu, Bambang menilai ada sejumlah upaya yang perlu dilancarkan pihaknya bersama industri dan akademisi. Salah satunya memperbaiki ekosistem riset dan inovasi.

Menurut dia selama ini ekosistem riset dan inovasi di Indonesia sudah baik, namun belum direalisasikan. Di samping itu pemanfaatan dana untuk riset dan inovasi juga belum dimaksimalkan.

Ia menyatakan belanja penelitian dan pengembangan atau GERD Indonesia baru mencapai 0,25 persen atau Rp37 triliun. Dan pemanfaatan itu juga didominasi sektor pemerintah sebanyak 84 persen.

Kondisi ini jauh dari angka ideal. Apalagi jika dibandingkan dengan negara yang gencar inovasi seperti Korea Selatan, di mana belanja litbang mereka di atas 4 persen. Dan 70 persen di antaranya didominasi sektor swasta.

Di samping itu Bambang juga menyarankan agar Indonesia tidak hanya berpaku pada sumber daya manusia. Melainkan mencoba memaksimalkan nilai tambah pada sumber daya alam.

(fey/dea)

[Gambas:Video CNN]