Medan Magnet Bumi Melemah Bukan Karena Matahari Lockdown

CNN Indonesia | Selasa, 28/07/2020 14:42 WIB
BMKG memastikan pelemahan medan magnet Bumi tidak dipengaruhi oleh Matahari Lockdown atau fenomena Grand Solar Minimum (GSM). Ilustrasi medan magnet bumi. (iStockphoto/Abrill_)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan pelemahan medan magnet Bumi tidak dipengaruhi oleh Matahari lockdown. Matahari lockdown ini juga bisa disebut sebagai fenomena Grand Solar Minimum (GSM).

"Pelemahan medan magnet Bumi tidak terkait dengan aktivitas kemagnetan di Matahari atau siklus sebelas tahunan Matahari, yang saat ini dalam fase minimumnya (dikenal juga sebagai matahari lockdown)," kata Peneliti astronomi BMKG, Rukman Nugraha saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (27/7).

Menurut Rukman, pelemahan medan magnet Bumi disebabkan oleh kondisi internal Bumi khususnya yang berada di inti Bumi.


Sebab, medan magnet bumi sendiri dihasilkan oleh dinamika yang terjadi di inti-luar bumi yang terdiri atas besi dan nikel cair serta inti-dalam Bumi yang lebih padat.

"Gerakan fluida di inti-luar ini bersifat untuk mempercepat proses pembalikan arah medan magnet Bumi, sementara inti bagian dalam memperlambatnya," jelas Rukman.

"Dinamika kedua bagian inti inilah yang menyebabkan proses pembalikan arah medan magnet bumi bisa berlangsung dalam waktu ribuan tahun," tambahnya.

Lebih lanjut kata Rukman, di dalam proses pembalikan itulah terjadi yang saat ini disebut pelemahan medan magnet bumi.

Sebelumnya, Ilmuwan dari Europan Space Agency (ESA) memberikan hipotesis soal pelemahan misterius medan magnet Bumi yang disebut menjadi tanda bakal terbaliknya medan magnet dari Kutub Utara dan Selatan. 

Pelemahan ini terjadi di area yang terbentang antara Amerika Selatan dan Afrika yang kemudian dikenal dengan julukan South Atlantic Anomaly. 

Sebab hal ini disebutkan telah terjadi berkali-kali di sepanjang sejarah planet Bumi. Pembalikan kutub ini menurut ESA sudah tertunda kira-kira sekitar 250 ribu tahun. Namun teori ini tak bisa diterima sepenuhnya oleh ilmuwan lain. 

Dalam laporan ilmuwan ESA disebutkan bahwa dua abad ke belakang, kekuatan medan magnet Bumi telah berkurang sembilan persen. Fenomena melemahnya medan magnet ini memang tidak menimbulkan risiko bagi manusia atau mahkluk lain di permukaan Bumi.

Namun, pelemahan ini berpengaruh pada pesawat ruang angkasa dan satelit yang melayang di orbit rendah yang tengah ada di wilayah tersebut.

Pesawat-pesawat ini kemungkinan mengalami malfungsi ketika melewati kawasan dengan medan magnet yang melemah. Medan magnet juga melindungi Bumi dari radiasi kosmik dan partikel bermuatan yang dipancarkan matahari.

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]