Pakar: Akun Bot Warnai Lampu Hijau Jokowi untuk Pilkada 2020

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Rabu, 23/09/2020 08:01 WIB
Menurut Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi puncak percakapan terjadi ketika Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Joko Widodo setuju melanjutkan Pilkada 2020. Presiden RI Joko Widodo. (Foto: Lukas - Biro Pers)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menyatakan percakapan tentang pelaksanaan Pilkada serentak 2020 cukup tinggi.

Menurut Ismail puncak percakapan terjadi ketika Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Joko Widodo setuju melanjutkan pilkada serentak 2020 di tengah pandemi Covid-19.

"Seminggu terakhir, terdapat total 208k percakapan, paling banyak di Twitter (175k), berita online (31k), dan IG (1,7k). Sejak 21 Sep terdapat total 112k, terbanyak di Twitter (101k), berita online (10k), dan IG (354)," kicau Ismail lewat akun Twitter pribadinya.


Ismail menuturkan pernyataan akademisi Azyumardi Azra akan 'Golput' paling disukai dan banyak dishare. Azyumardi diketahui berkicau bakal golput sebagai solidaritas bagi mereka yang wafat karena Covid-19.

Terkait hal itu, Islmail menilai ide itu bisa membangkitkan perlawanan publik untuk melakukan hal yang sama.

Sedangkan sikap Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang menuntut penundaan Pilkada serentak, kata Ismail juga banyak diperbincangkan. Sebab, NU dan Muhammadiyah dianggap mewakili suara publik yang signifikan jumlahnya.

Lebih lanjut, Ismail membeberkan hasil pemetaan Social Network Analysis (SNA) memperlihatkan ada satu klaster besar berwarna merah yang memberikan sentimen negatif terhadap pilkada. Namun di luar cluster itu, berkeliling akun-akun yang tersebar berawarna hijau dengan sentimen cenderung positif.

"Sebagian dari mereka membentuk sebuah cluster dengan simpul utama akun @1trenggalek. Ini adalah cluster yg mengantisipasi jika pilkada dijalankan, akan diamankan," kicau Ismail.

Adapun analisis SNA dengan mengacu tagar 'Pilkada'. Ismail berkata ada tiga klaster yang membicarakan pilkada serentak tahun ini. Pertama, klaster merah dari kalangan netizen yang kontra Pilkada. Kebanyakan tidak menggunakan hastag.

Kedua, klaster #TaatProkesSaatPilkada dengan top influencer @1trenggalek, @GroboganPolres, dan lainnnya. Ketiga, klaster #PilkadaLanjutProtokolKetat.

Klaster kedua, kata Ismail berasal dari institusi Polri yang mengajak publik agar taat protokol kesehatan selama proses Pilkada 2020. Klaster itu juga mengingatkan adanya kerawanan baru selama Pilkada, sehingga mengajak masyarakat untuk lapor jika ada pelanggaran.

"Cluster #TaatProkesSaatPilkada banyak berisi infografis dan meme sebagai media penyampai pesan. Salah satunya adalah tentang peraturan pilkada saat pandemi, pasal yang berlaku, dan 3M, dll," kata Ismail.

Ada bot dalam perbincangan Pilkada 2020

Ismail menyatakan ada bot yang digunakan dalam percakapan pro-kontra pelaksanaan Pilkada serentak 2020 di tengah pandemi Covid-19. Rata-rata bot score dari analisis DE sebesar 2.04.

"Setidaknya ada 3.5k post dari akun terindikasi robot, dan 10.3k+6.8k terindikasi cyborg," ujar Ismail.

Ismail menuturkan 19 persen cuitan terindikasi dari akun-akun bot.

"Di peta SNA, cluster yg menggunakan bot biasanya punya pola interaksi yang "terprogram, rapat antar beberapa akun dalam cluster, menjauh dari real user"," ujarnya.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]