Fb Kembali Hapus Akun Palsu Buatan Rusia Jelang Pilpres AS

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Senin, 28/09/2020 12:15 WIB
Penutupan akun-akun palsu ini dalam langkah antisipatif Facebook menjelang pemilih presiden Amerika Serikat pada November 2020. Logo Facebook. (Foto: AFP/DENIS CHARLET)
Jakarta, CNN Indonesia --

Facebook mengklaim telah mengidentifikasi dan menutup akun palsu yang berpotensi mengganggu jalannya pemilih presiden Amerika Serikat pada November 2020. Dari banyak akun yang ditutup, salah satunya akun provokatif dan fiktif yang terkait dengan intelijen militer Rusia.

Facebook menyampaikan seluruh akun palsu buatan militer Rusia itu belum terbukti mengganggu pilpres AS kali ini. Namun, penutupan ini dalam langkah antisipatif perusahaan.

Melansir CNN, Senin (28/9), intelijen militer Rusia diduga pernah menggunakan akun Facebook palsu dan membuat situs web untuk "DC Leaks", halaman yang mempublikasikan dan mendistribusikan email yang diretas terkait dengan kampanye Hillary Clinton. Jaksa AS menyebut Rusia bertanggungjawab atas peretasan tersebut.


Kepala kebijakan keamanan siber Facebook, Nathaniel Gleicher menuturkan ada kekhawatiran bahwa akun seperti itu dapat digunakan dalam pilpre AS.

"Secara realistis ini adalah salah satu ancaman yang harus kami antisipasi," ujar Gleicher.

Facebook menyampaikan akun palsu yang ditutup beroperasi di sekitar Rusia dan Suriah. Dalam penyelidikan, Facebook menyebut akun palsu itu sering memposting berita dan peristiwa terkini, termasuk perang saudara Suriah, politik dalam negeri Turki, masalah geopolitik di kawasan Asia-Pasifik, NATO, perang di Ukraina, serta politik di Baltik, Georgia, Armenia, Ukraina, Rusia, Belarusia, dan AS.

Tak hanya Facebook, Twitter juga melakukan tindakan serupa menutup akun fiktif yang berpotensi menggangu pemiliu di AS.

Lebih lanjut, Facebook mengaku memiliki bukti bahwa kelompok tersebut telah menyamar sebagai jurnalis. Sehingga, wartawan di AS mendapat pengawasan khusus jelang kampanye pemilihan.

Facebook juga mengatakan akan menutup akun yang terkait dengan orang-orang yang telah dikaitkan dengan Badan Riset Internet (IRA), kelompok yang terkenal menggunakan media sosial untuk mencoba ikut campur dalam pilpres AS tahun 2016.

Facebook mengidentifikasi sebuah situs web, tertaut ke halaman-halaman yang ditutupnya. Situs web itu menggambarkan dirinya sebagai 'pusat analitis independen. Facebook mengidentifikasi ini setelah mendapat masukan dari FBI.

Awal bulan ini, Facebook juga telah menutup akun ke situs web yang menyamar sebagai outlet berita sayap kiri independen. Facebook mengatakan situs itu juga terkait dengan IRA. Situs web tersebut merekrut penulis AS tanpa disadari untuk berkontribusi.

Melansir Silicon, ada tiga jaringan yang diduga terhubung dengan militer Rusia, termasuk IRA. Ketiga jaringan itu berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu sebagai bagian utama dari operasi untuk menyesatkan orang tentang siapa mereka dan apa yang mereka lakukan.

"Selama tiga tahun terakhir, kami telah membagikan temuan kami tentang lebih dari 100 jaringan perilaku tidak autentik terkoordinasi yang kami deteksi dan hapus dari platform kami," kata Gleicher.

Penghapusan jaringan akun palsu Rusia terjadi ketika Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan kesepakatan antara Rusia dan Amerika Serikat untuk menjamin tidak terlibat dalam campur tangan dunia maya dalam pemilihan satu sama lain.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]