Analisis BMKG Soal Gempa Mamuju, Berharap Tak Makin Besar

eks, CNN Indonesia | Jumat, 15/01/2021 12:30 WIB
Analisis BMKG menunjukkan gempa Mamuju-Majene di Sulawesi Barat pada Jumat lebih besar dari sebelumnya dan berharap tak makin membesar. BMKG beri hasil analisis gempa Sulawesi Barat yang mengguncang Mamuju-Majene dan sekitarnya yang diharap tak makin membesar (ANTARA FOTO/AKBAR TADO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) berharap gempa bumi yang menggoyang Mamuju, Majene, dan kawasan lain sekitar Sulawesi Barat yang berjenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) tak makin membesar.

Pasalnya, gempa kedua yang terjadi pada Jumat dini hari bermagnitudo 6,3, lebih kuat dari gempa sebelumnya. Pada Kamis (14/1) gempa serupa terjadi dengan magnitudo 5,9.

Lantaran gempa yang terjadi dini hari lebih kuat dari gempa sebelumnya, BMKG untuk sementara menetapkan gempa magnitudo 6,2 sebagai gempa utama.


"Semoga status ini tidak berubah dan justru akan meluruh, melemah hanya terjadi gempa susulan (aftershocks) dengan kekuatan yang terus mengecil dan kembali stabil," harap Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono lewat keterangan resmi, Jumat (15/1).

Majene kembali diguncang gempa kuat dengan magnitudo 6,2 pada Jumat, 15 Januari 2021 pukul 01.28.17 WIB. Episenter terletak pada koordinat 2,98 LS dan 118,94 BT tepatnya di darat pada kedalaman 10 km.

Akibatnya, dampak gempa kedua ini lebih merusak dan lebih luas cakupan dari gempa sebelumnya yang terjadi Kamis siang.

Gempa kerak dangkal ini terjadi akibat aktivitas sesar aktif Mamuju-Majene Thrust. Jenis gempa itu didapat setelah memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, baik gempa signifikan pertama dan kedua.

"Mekanisme sesar naik ini mirip dengan pembangkit gempa Lombok 2018, dimana bidang sesarnya membentuk kemiringan ke bawah daratan Majene," jelasnya.

Seperti halnya gempa pertama kemarin, dampak gempa kedua tadi pagi dini hari tadi menyebabkan guncangan gempa dirasakan di Majene dan Mamuju mencapai skala intensitas V-VI MMI (memicu kerusakan), sedangkan di Palu, Mamuju Tengah, Mamuju Utara dan Mamasa mencapai skala intensitas III-IV MMI (benda-benda terpelanting)

Berdasarkan pantauan BMKG, sejak hari Kamis 14 Januari 2021 pukul 13.35.49 WIB hingga pagi ini Jumat 15 Januari 2021 pukul 06.00 WIB hasil telah terjadi gempa sebanyak 28 kali di Majene.

BMKG akan terus memantau aktivitas gempa yang terjadi dan dilaporkan kepada masyarakat. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang tetapi waspada.

Gempa susulan masih akan terus terjadi seperti lazimnya pasca gempa kuat akan diikuti rangkaian gempa susulan, untuk itu masyarakat diminta mewaspadai kemungkinan gempa susulan yang kekuatannya signifikan.

Dengan kembalinya terjadi gempa kuat di Majene ini maka gempa yang terjadi pada hari Kamis 14 Januari 2021 pukul 13.35.49 WIB kemarin statusnya menjadi gempa pendahuluan/pembuka (foreshock).

Masyarakat juga diimbau tidak lagi menempati bangunan tempat tinggal yang sudah rusak atau rusak sebagian. Sebab, berpotensi mengalami kerusakan lebih berat jika terjadi gempa susulan signifikan.

Masyarakat juga diimbau waspada dengan kawasan perbukitan dengan tebing curam karena gempa susulan signifikan dapat memicu longsoran (landslide) dan runtuhan batu (rock fall).

"Apalagi saat ini musim hujan yang dapat memudahkan terjadinya proses longsoran karena kondisi tanah lereng perbukitan basah dan labil," lanjutnya.

Mengingat pesisir Majene pernah terjadi tsunami pada tahun 1969, masyarakat yang bermukim di wilayah Pesisir Majene perlu waspada jika merasakan gempa kuat agar segera menjauh dari pantai tanpa menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG.

Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya dengan berita bohong (hoaks) mengenai prediksi dan ramalan gempa yang akan terjadi dengan kekuatan lebih besar dan akan terjadi tsunami.

(eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK