Sebab, vaksin belum terbukti mampu mencegah virus masuk ke tubuh manusia. Namun, ketika virus masuk, maka antibodi manusia bisa melawan. Sebab, sebelumnya ia sudah "dilatih" untuk mengenali dan memerangi virus itu dari suntikan vaksin.
Vaksin memang tak digunakan untuk mencegah infeksi Covid-19. Tapi, hanya untuk mencegah gejala berat ketika seseorang terinfeksi virus corona.
Pakar Biologi Molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, semua uji klinis pada vaksin Covid saat ini tidak didesain untuk membuktikan mampu mencegah infeksi virus corona.
"Yang dicoba buktikan adalah mampukah mencegah gejala paska infeksi. Maka terlepas dari angka efikasi sekian persen, itu kebal dari gejala bukan infeksi," cuitnya beberapa waktu lalu (14/1).
Ahmad menekankan bahwa vaksinasi berguna untuk mengurangi beban perawatan layanan kesehatan bagi mereka yang bergejala sedang hingga berat.
Menurut Kusnandi Rusmil Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad, terpaparnya sejumlah relawan di Bandung pasca penyuntikan adalah wajar. Sebabnya, para relawan tidak dilarang untuk beraktivitas. Sehingga bisa jadi mereka bertemu dengan orang yang sudah terpapar virus corona.
"Ya itulah gunanya penelitian (mengetahui) ada berapa yang sakit supaya kita bisa tahu berapa efikasi dari vaksin tersebut. Kan kita meneliti supaya tahu, manjur tidak vaksinnya," tuturnya.
Hal serupa juga diungkap Ahli Epidemiologi FKM UI, Pandu Riono.
"Vaksinasi hanya cegah agar orang yg divaksinasi tak sakit covid-19 yang sampai dirawat di RS, dengan kematian yang tinggi," cuitnya Jumat (15/1).
Ia mengingatkan infeksi hanya bisa dicegah dengan memakai masker dan disiplin protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak).
Relawan tak dilarang berinteraksi
Menurut Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad Kusnandi Rusmil, terpaparnya sejumlah relawan di Bandung pasca penyuntikan wajar terjadi karena relawan tidak dilarang untuk beraktivitas.
Sehingga sangat mungkin mereka bertemu dengan orang yang sudah terpapar virus corona dan ikut terinfeksi.
"Ya itulah gunanya penelitian (mengetahui) ada berapa yang sakit supaya kita bisa tahu berapa efikasi dari vaksin tersebut. Kan kita meneliti supaya tahu, manjur tidak vaksinnya," tuturnya.
Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo mengatakan metode yang dilakukan oleh uji vaksin Sinovac di Bandung sudah benar, untuk mengetahui sejauh mana efektivitas dari vaksin Covid-19.
"Memang relawan tidak dilarang untuk berinteraksi, kalau dilarang bagaimana kita tahu efikasi vaksin?" ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/1).
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga menyebut terinfeksinya relawan
uji vaksin bukan berarti penelitian gagal.
"Jadi menurut saya cerita itu harus dibedah dan tidak digeneralisasi seolah-olah gagal," kata Emil di Makodam III/Siliwangi, Kota Bandung, Senin (18/1).
Emil menjelaskan, antibodi yang dihasilkan oleh vaksin Covid-19 akan terbentuk di bulan ketiga. Sehingga gagal atau tidaknya vaksin lebih tepat ditanyakan setelah memasuki masa tiga bulan itu.
Rincian relawan yang terkena Covid-19 adalah 18 orang penerima plasebo atau obat kosong dan 7 orang penerima vaksin dari jumlah total relawan 1.603 orang.
Sebelumnya, Tim uji klinis vaksin Unpad telah melaporkan penelitian vaksin selama tiga bulan pertama kepada Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang hasilnya keluar izin penggunaan darurat pada 11 Januari 2021.
Penghitungan efikasi vaksin
Adapun efikasi atau khasiat dari uji klinis di Indonesia mencapai 65,3 persen atau sudah memenuhi syarat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mewajibkan batas efikasi vaksin untuk pandemi minimal 50 persen.
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Zullies Ikawati menjelaskan mekanisme penghitungan efikasi yang dilakukan oleh tim uji klinis Unpad. Mereka yang terinfeksi Covid-19 menjadi faktor penting perhitungan efikasi vaksin.
Perhitungan ini mencari berapa efektif gejala Covid-19 parah dicegah pada mereka yang disuntik vaksin. Hasilnya pun dibandingkan dengan relawan yang mendapat suntik plasebo dan terinfeksi Covid-19.
Zullies menuturkan uji klinis di Bandung yang melibatkan 1600 orang, terdapat 800 subjek yang menerima vaksin dan 800 subyek yang mendapatkan placebo (vaksin kosong berisi cairan garam).
Dari kelompok yang divaksin terdapat 26 orang yang terinfeksi (3.25 persen), sedangkan dari kelompok placebo ada 75 orang yang terinfeksi (9.4 persen). Adapun metode menghitung efikasi vaksin Sinovac adalah (0.094 - 0.0325)/0.094 x 100 persen = 65.3 persen.
"Jadi yang menentukan adalah perbandingan antara kelompok yang divaksin dengan kelompok yang tidak," ujarnya.
Sebab, vaksin belum terbukti mampu mencegah virus masuk ke tubuh manusia. Namun, ketika virus masuk, maka antibodi manusia bisa melawan. Sebab, sebelumnya ia sudah "dilatih" untuk mengenali dan memerangi virus itu dari suntikan vaksin.
Vaksin memang tak digunakan untuk mencegah infeksi Covid-19. Tapi, hanya untuk mencegah gejala berat ketika seseorang terinfeksi virus corona.
Pakar Biologi Molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, semua uji klinis pada vaksin Covid saat ini tidak didesain untuk membuktikan mampu mencegah infeksi virus corona.
"Yang dicoba buktikan adalah mampukah mencegah gejala paska infeksi. Maka terlepas dari angka efikasi sekian persen, itu kebal dari gejala bukan infeksi," cuitnya beberapa waktu lalu (14/1).
Ahmad menekankan bahwa vaksinasi berguna untuk mengurangi beban perawatan layanan kesehatan bagi mereka yang bergejala sedang hingga berat.
Menurut Kusnandi Rusmil Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad, terpaparnya sejumlah relawan di Bandung pasca penyuntikan adalah wajar. Sebabnya, para relawan tidak dilarang untuk beraktivitas. Sehingga bisa jadi mereka bertemu dengan orang yang sudah terpapar virus corona.
"Ya itulah gunanya penelitian (mengetahui) ada berapa yang sakit supaya kita bisa tahu berapa efikasi dari vaksin tersebut. Kan kita meneliti supaya tahu, manjur tidak vaksinnya," tuturnya.
Hal serupa juga diungkap Ahli Epidemiologi FKM UI, Pandu Riono.
"Vaksinasi hanya cegah agar orang yg divaksinasi tak sakit covid-19 yang sampai dirawat di RS, dengan kematian yang tinggi," cuitnya Jumat (15/1).
Ia mengingatkan infeksi hanya bisa dicegah dengan memakai masker dan disiplin protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak).
Relawan tak dilarang berinteraksi
Menurut Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad Kusnandi Rusmil, terpaparnya sejumlah relawan di Bandung pasca penyuntikan wajar terjadi karena relawan tidak dilarang untuk beraktivitas.
Sehingga sangat mungkin mereka bertemu dengan orang yang sudah terpapar virus corona dan ikut terinfeksi.
"Ya itulah gunanya penelitian (mengetahui) ada berapa yang sakit supaya kita bisa tahu berapa efikasi dari vaksin tersebut. Kan kita meneliti supaya tahu, manjur tidak vaksinnya," tuturnya.
Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo mengatakan metode yang dilakukan oleh uji vaksin Sinovac di Bandung sudah benar, untuk mengetahui sejauh mana efektivitas dari vaksin Covid-19.
"Memang relawan tidak dilarang untuk berinteraksi, kalau dilarang bagaimana kita tahu efikasi vaksin?" ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/1).
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga menyebut terinfeksinya relawan
Bukan Tanda Kegagalan
Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalismaaa
uji vaksin bukan berarti penelitian gagal.
"Jadi menurut saya cerita itu harus dibedah dan tidak digeneralisasi seolah-olah gagal," kata Emil di Makodam III/Siliwangi, Kota Bandung, Senin (18/1).
Emil menjelaskan, antibodi yang dihasilkan oleh vaksin Covid-19 akan terbentuk di bulan ketiga. Sehingga gagal atau tidaknya vaksin lebih tepat ditanyakan setelah memasuki masa tiga bulan itu.
Rincian relawan yang terkena Covid-19 adalah 18 orang penerima plasebo atau obat kosong dan 7 orang penerima vaksin dari jumlah total relawan 1.603 orang.
Sebelumnya, Tim uji klinis vaksin Unpad telah melaporkan penelitian vaksin selama tiga bulan pertama kepada Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang hasilnya keluar izin penggunaan darurat pada 11 Januari 2021.
Penghitungan efikasi vaksin
Adapun efikasi atau khasiat dari uji klinis di Indonesia mencapai 65,3 persen atau sudah memenuhi syarat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mewajibkan batas efikasi vaksin untuk pandemi minimal 50 persen.
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Zullies Ikawati menjelaskan mekanisme penghitungan efikasi yang dilakukan oleh tim uji klinis Unpad. Mereka yang terinfeksi Covid-19 menjadi faktor penting perhitungan efikasi vaksin.
Perhitungan ini mencari berapa efektif gejala Covid-19 parah dicegah pada mereka yang disuntik vaksin. Hasilnya pun dibandingkan dengan relawan yang mendapat suntik plasebo dan terinfeksi Covid-19.
Zullies menuturkan uji klinis di Bandung yang melibatkan 1600 orang, terdapat 800 subjek yang menerima vaksin dan 800 subyek yang mendapatkan placebo (vaksin kosong berisi cairan garam).
Dari kelompok yang divaksin terdapat 26 orang yang terinfeksi (3.25 persen), sedangkan dari kelompok placebo ada 75 orang yang terinfeksi (9.4 persen). Adapun metode menghitung efikasi vaksin Sinovac adalah (0.094 - 0.0325)/0.094 x 100 persen = 65.3 persen.
"Jadi yang menentukan adalah perbandingan antara kelompok yang divaksin dengan kelompok yang tidak," ujarnya.