Cara Arkeolog Hitung Umur Lukisan Gua 45 Ribu Tahun
CNN Indonesia
Jumat, 29 Jan 2021 16:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Lukisan gua tertua dunia di Sulawesi. (Maxime Aubert, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sekelompok peneliti berhasil menemukan gambar cadas atau lukisan gua tertua di dunia. Lukisan yang diketahui berbentuk babi berusia 45.500 tahun itu ditemukan di Leang Tedongnge, Sulawesi Selatan.
Basran Burhan, arkeolog Universitas Griffith yang terlibat dalam penemuan itu mengaku tidak ahli dalam menghitung usia gambar cadas. Dia menyebut orang yang ahli dalam hal itu adalah Maxime Aubert, peneliti dari Universitas Griffith yang juga terlibat dalam penelitian gambar cadas di Leang Tedongnge.
Namun, dia membeberkan ada beragam metode penanggalan, salah satunya Uranium-series. Metode Uranium-series yang digunakan untuk mengukur usia gambar cadas di Leang Tedongnge membutuhkan sampel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena sampel penanggalan gambar cadas itu adalah batuan, ornamen gua maka yang cocok itu adalah Uranium," ujar Basran kepada CNNIndonesia.com.
Basran pun mengungkap alasan dalam jurnal bahwa usia gambar cadas di Leang Tedongnge merupakan umur minimum. Sebab, peneliti menghitung usia batu yang menjadi sampel, bukan gambar.
Secara lebih spesifik, Basran menjelaskan gambar cadas digambar di atas sebuah batuan. Setelah sekian tahun, tumbuh ornamen gua di atas pigmen gambar yang disebut sebagai 'popcorn' yang bentuknya seperti biji jagung.
"Jadi dia (popcorn) biasanya tumbuh karena tetesan air. Jadi tetesan itu melarutkan batu gamping, jadi air itu membawa karbonat, kemudian diendapkan lagi di atas pigmen gambar itu," ujarnya.
Pada proses itu, Basran menyebut kandungan Uranium juga tertempel di atas gambar. Semakin banyak tetesan, kata dia maka semakin banyak Uranium yang terdapat di atas gambar.
"Nah itu dia berbentuk lapisan yang sangat tipis. Nah itu yang dihitung uraniumnya," ujar Basran.
Baran menambahkan pengambilan sampel menggunakan bor berukuran kecil (rotary tools). Besaran sampel yang diambil biasanya hanya berukuran 1x1 cm dengan ketebalan 1-2 cm tergantung sampelnya.
Sedangkan untuk sampel Leang Tedongnge, dia berkata sampel dipahat dengan alat khusus. Saat itu, peneliti berhasil memperoleh pigmen hingga ornamen.
"Jadi kalau dibikin irisannya, terlihat lapisannya. Ada paling dalam media gambarnya, terus ornamennya. Kalau hitung umur, yang dihitung ornamennya yang di atas pigmen. Makanya disebut umur minimum karena umur yang keluar adalah umur setelah gambar cadas dibikin. Jadi ada peluang lebih tua dari itu," ujarnya.
Infografis Karya Seni Gua di 10 Negara
Peneliti Gambar Cadas Prasejarah Institut Teknologi Bandung, Pindi Setiawan menjelaskan para peneliti mengambil sampel dari penemuan seni cadas lukisan gua ke laboratorium dan dideteksi menggunakan alat sejenis reaktor bernama Spektrometer.
"Kita ambil sampelnya lalu kita bawa ke Laboratorium, lalu dideteksi dengan alat bernama Spektrometer, lalu dibawa ke lab yang ada di Universitas Griffith Australia," ujar Pindi pada CNNIndonesia.com.
Ia menjelaskan sampel yang diambil merupakan lapisan kalsit terluar serta mengambil sampel dari lapisan pigmen dari sebuah rock art. Melalui identifikasi itu nantinya dapat disimpulkan selisih turanium yang menunjukan berapa usia lukisan tersebut.
"Nanti hasilnya bisa dilihat, apakah lukisan ini berasal dari zaman es 40 ribu tahun lalu, atau zaman sesudah es mencair 4500 tahun lalu," kata Pandi.
Pandi mengatakan proses penelitian dari benda prasejarah dapat memakan waktu yang cukup lama. Proses identifikasi dapat berlangsung beberapa minggu hingga berbulan-bulan, tergantung dari sampel yang diambil oleh peneliti di lapangan.
"Penelitian seperti ini tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Prosesnya bisa sebulan tergantung sampelnya. Ada sampel yang bersih dan kotor lalu sampel itu harus diurai. Makanya prosesnya lama," tuturnya.
Lebih lanjut Pandi mengatakan benda seni cadas prasejarah tidak hanya terdapat di Sulawesi saja, namun juga banyak bertebaran di Kalimantan. Hanya saja proses pencarian benda prasejarah di Sulawesi terbilang mudah untuk diaksesnya.
"Di Kalimantan dari tempat satu ke tempat lainnya cukup lama, jadi saat ini dominan dari Sulawesi," ucapnya.
Sekelompok peneliti berhasil menemukan gambar cadas atau lukisan gua tertua di dunia. Lukisan yang diketahui berbentuk babi berusia 45.500 tahun itu ditemukan di Leang Tedongnge, Sulawesi Selatan.
Basran Burhan, arkeolog Universitas Griffith yang terlibat dalam penemuan itu mengaku tidak ahli dalam menghitung usia gambar cadas. Dia menyebut orang yang ahli dalam hal itu adalah Maxime Aubert, peneliti dari Universitas Griffith yang juga terlibat dalam penelitian gambar cadas di Leang Tedongnge.
Namun, dia membeberkan ada beragam metode penanggalan, salah satunya Uranium-series. Metode Uranium-series yang digunakan untuk mengukur usia gambar cadas di Leang Tedongnge membutuhkan sampel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena sampel penanggalan gambar cadas itu adalah batuan, ornamen gua maka yang cocok itu adalah Uranium," ujar Basran kepada CNNIndonesia.com.
Basran pun mengungkap alasan dalam jurnal bahwa usia gambar cadas di Leang Tedongnge merupakan umur minimum. Sebab, peneliti menghitung usia batu yang menjadi sampel, bukan gambar.
Secara lebih spesifik, Basran menjelaskan gambar cadas digambar di atas sebuah batuan. Setelah sekian tahun, tumbuh ornamen gua di atas pigmen gambar yang disebut sebagai 'popcorn' yang bentuknya seperti biji jagung.
"Jadi dia (popcorn) biasanya tumbuh karena tetesan air. Jadi tetesan itu melarutkan batu gamping, jadi air itu membawa karbonat, kemudian diendapkan lagi di atas pigmen gambar itu," ujarnya.
Pada proses itu, Basran menyebut kandungan Uranium juga tertempel di atas gambar. Semakin banyak tetesan, kata dia maka semakin banyak Uranium yang terdapat di atas gambar.
"Nah itu dia berbentuk lapisan yang sangat tipis. Nah itu yang dihitung uraniumnya," ujar Basran.
Baran menambahkan pengambilan sampel menggunakan bor berukuran kecil (rotary tools). Besaran sampel yang diambil biasanya hanya berukuran 1x1 cm dengan ketebalan 1-2 cm tergantung sampelnya.
Sedangkan untuk sampel Leang Tedongnge, dia berkata sampel dipahat dengan alat khusus. Saat itu, peneliti berhasil memperoleh pigmen hingga ornamen.
"Jadi kalau dibikin irisannya, terlihat lapisannya. Ada paling dalam media gambarnya, terus ornamennya. Kalau hitung umur, yang dihitung ornamennya yang di atas pigmen. Makanya disebut umur minimum karena umur yang keluar adalah umur setelah gambar cadas dibikin. Jadi ada peluang lebih tua dari itu," ujarnya.
Infografis Karya Seni Gua di 10 Negara
Selisih Uranium Bedakan Lukisan Zaman Es
Lukisan babi usia 45 ribu tahun di Sulawesi. (Maxime Aubert, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)
Peneliti Gambar Cadas Prasejarah Institut Teknologi Bandung, Pindi Setiawan menjelaskan para peneliti mengambil sampel dari penemuan seni cadas lukisan gua ke laboratorium dan dideteksi menggunakan alat sejenis reaktor bernama Spektrometer.
"Kita ambil sampelnya lalu kita bawa ke Laboratorium, lalu dideteksi dengan alat bernama Spektrometer, lalu dibawa ke lab yang ada di Universitas Griffith Australia," ujar Pindi pada CNNIndonesia.com.
Ia menjelaskan sampel yang diambil merupakan lapisan kalsit terluar serta mengambil sampel dari lapisan pigmen dari sebuah rock art. Melalui identifikasi itu nantinya dapat disimpulkan selisih turanium yang menunjukan berapa usia lukisan tersebut.
"Nanti hasilnya bisa dilihat, apakah lukisan ini berasal dari zaman es 40 ribu tahun lalu, atau zaman sesudah es mencair 4500 tahun lalu," kata Pandi.
Pandi mengatakan proses penelitian dari benda prasejarah dapat memakan waktu yang cukup lama. Proses identifikasi dapat berlangsung beberapa minggu hingga berbulan-bulan, tergantung dari sampel yang diambil oleh peneliti di lapangan.
"Penelitian seperti ini tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Prosesnya bisa sebulan tergantung sampelnya. Ada sampel yang bersih dan kotor lalu sampel itu harus diurai. Makanya prosesnya lama," tuturnya.
Lebih lanjut Pandi mengatakan benda seni cadas prasejarah tidak hanya terdapat di Sulawesi saja, namun juga banyak bertebaran di Kalimantan. Hanya saja proses pencarian benda prasejarah di Sulawesi terbilang mudah untuk diaksesnya.
"Di Kalimantan dari tempat satu ke tempat lainnya cukup lama, jadi saat ini dominan dari Sulawesi," ucapnya.