Hapus Aplikasi Scan Barcode Android, Banyak Malware

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Rabu, 10/02/2021 09:07 WIB
Segera hapus aplikasi scan barcode yang dikembangkan perusahaan LavaBird LTD. Ilustrasi aplikasi scan barcode. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Google Play Store dilaporkan telah menghapus aplikasi scan barcode yang dikembangkan perusahaan LavaBird LTD karena kedapatan mengandung malwere.

Penghapusan dilakukan setelah Google menerima laporan dari Malwarebytes bahwa pembaruan Barcode Scanner menyertakan kode 'Android / Trojan.HiddenAds.AdQR' yang akan mengarahkan pengguna ke situs iklan pihak ketiga di browser default perangkat. Selain itu kerja ponsel berat dan cepat menghabiskan daya baterai.

Melansir Android Central, tindakan yang dilakukan oleh Barcode Scanner diduga merupakan taktik untuk mendapatkan pendapatan iklan.


Aplikasi itu mendorong pihak ketiga ke pengguna dengan cara yang jahat, terutama mengingat aplikasi menyertakan kode untuk mencoba dan menyembunyikan dirinya sendiri.

Saat ini, aplikasi tersebut telah dihapus dari Play Store. Namun, sebelum itu aplikasi telah diinstal di lebih dari 10 juta perangkat dan dilaporkan merupakan bagian dari Google Play Pass, yang berarti jutaan ponsel cerdas dapat terkena malware dari aplikasi ini.

Malware pada scan barcode beraksi beberapa menit setelah dipasang. Jadi, pengunduh aplikasi itu akan melihat browser terbuka secara otomatis dan memerintahkan untuk mengunduh aplikasi lain, mengutip Malwarebytes.

Malwarebytes menyampaikan mayoritas aplikasi gratis di Google Play menyertakan semacam periklanan dalam aplikasi. Mereka melakukan itu dengan memasukkan iklan ke kode aplikasi yang biasanya di akhir pengembangan aplikasi. Versi berbayar tidak menyertakan itu.

Dalam kasus Barcode Scanner, kode berbahaya telah ditambahkan pada versi terbaru. Selain itu, kode yang ditambahkan sulit untuk dideteksi.

Malwarebytes mengaku sulit untuk mengetahui sudah berapa lama Barcode Scanner berada di Google Play Store sebagai aplikasi yang sah sebelum menjadi berbahaya. Berdasarkan tingginya jumlah penginstalan dan masukan pengguna, perusahaan menduga aplikasi ini sudah ada selama bertahun-tahun.

(jps/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK