Eijkman Jelaskan 2 Faktor Mutasi Corona Eek di Pasien RI

CNN Indonesia | Rabu, 07/04/2021 16:48 WIB
Eijkman jelaskan dua faktor kemunculan mutasi virus SARS-CoV-2 varian Covid-19 E484K alias Eek di Indonesia. Eijkman respons Covid-19 eek. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman belum dapat memastikan seorang penderita Covid-19 di Jakarta memiliki mutasi virus SARS-CoV-2 varian E484K alias Eek. Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio mengatakan ada dua kemungkinan munculnya mutasi tersebut di Indonesia.

"Ada dua kemungkinan utama, yaitu dia tertular dari seseorang yang pernah ke luar negeri. Yang kudus, mungkin mutasi itu muncul sendiri di Indonesia," ujar Amin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (7/4).

Amin menuturkan munculnya dua kemungkinan mengingat pasien tersebut tidak pernah ke luar negeri, terutama Jepang yang pertama kali mengumumkan varian Eek. Varian E484K alias Eek selama ini juga diketahui ditemukan pada varian Inggris (B.1.1.7) , Afrika Selatan (B.1.351), dan Brasil (P1).


Terkait kemungkinan kedua, kata Amin merupakan hal yang normal. Dia mengatakan virus biasa mengalami mutasi setiap saat dan secara acak.

"Jadi bisa saja terus kebetulan jadi E484K. Intinya ada perubahan di posisi 484K itu dari E menjadi K," ujarnya.

Terkait dengan kondisi itu, Amin tidak menutup kemungkinan ada warga Indonesia lain yang memiliki mutasi Eek. Sebab, dia menyatakan ada potensi tidak terdeteksi atau orang yang terinfeksi itu tidak mengalami gejala sehingga tidak menjadi perhatian untuk sampelnya dikirim ke laboratorium.

Di sisi lain, Amin membeberkan mutasi Eek ditemukan dari seorang perempuan berusia 29 tahun yang dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta Barat. Perempuan itu dinyatakan positif setelah sebelumnya mengalami gejala Covid-19.

"Tapi kemudian sampelnya dikirim ke Eijkman untuk didiagnosis," ujar Amin.

Pasien yang identitasnya dirahasiakan itu kini sudah diperbolehkan pulang karena sudah dinyatakan negatif. Amin pun mengatakan pasien itu pun tidak bisa menularkan mutasi E484K karena sudah dinyatakan negatif.

Amin mengklaim menerima sample pasien itu pada 2 Februari 2021. Kemudian, Eijkman melakukan pengetesan PCR dengan hasil positif.

Setelah itu, Eijkman mengidentifikasi lebih lanjut sampel itu dengan Whole Genome Sequence. Dari hasil WGS, dia menyampaikan pihaknya mendapatkan mutasi E484K. Namun, dia menegaskan mutasi itu bukan dari varian B.1.1.7.

"Ini dari lineage yang berbeda, bukan B.1.1.7, tapi dari lineage B11398. Jadi tersendiri." ujarnya.

Amin menambahkan mutasi E484K terletak di Receptor Binding Domain (RBD). Jadi, E484K ada di bagian ujung Spike Protein yang menempel langsung di reseptor ACE2 pada sel manusia.

Lebih dari itu, Amin mengatakan pihaknya masih melakukan WGS dalam jumlah besar untuk mendeteksi mutasi dan varian baru di Indonesia, misalnya B.1.1.7 hingga E484K. Dia pun mengimbau masyarakat terus melakukan 3M dan 3T karena virus sulit dikenali, perlu dibawa ke laboratorium.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK