Rencana Jeff Bezos ke Luar Angkasa dan Deretan Risiko

CNN Indonesia | Sabtu, 12/06/2021 19:09 WIB
Miliarder sekaligus pemilik perusahaan antariksa Blue Origin Jeff Bezos mengumumkan rencana terbang ke luar angkasa 20 Juli mendatang. Miliarder sekaligus pemilik perusahaan antariksa Blue Origin Jeff Bezos. (REUTERS/Rex Curry)
Jakarta, CNN Indonesia --

Miliarder sekaligus pemilik perusahaan antariksa Blue Origin Jeff Bezos mengumumkan rencana terbang ke luar angkasa 20 Juli mendatang.

Jeff akan terbang bersama adiknya, Mark Bezos dan satu penumpang lain yakni pemenang lelang tiket yang sampai saat ini masih berlangsung.

Mereka akan menuju ke tepi luar angkasa menggunakan pesawat New Shepard. Pesawat buatan Blue Origin ini merupakan pesawat full otonom sehingga tidak membutuhkan pilot.


Pesawat ini telah menjalani 15 kali uji penerbangan dan belum pernah mengalami kecelakaan.

Hal ini sesuai dengan misi penerbangan Bezos yang dipandang memiliki resiko yang lebih rendah dibandingkan misi perjalanan ruang angkasa yang lebih ambisius.

Kendati demikian, perjalanan itu tetap sarat risiko. CNN mengulas sejumlah risiko yang mereka hadapi

Jeff dan dua penumpang lain akan ke luar angkasa dalam perjalanan sub-orbital singkat.

Sehingga tidak membutuhkan kecepatan tinggi atau proses yang intens saat kembali memasuki atmosfer bumi.

Namun mereka tetap perlu memperhatikan temperatur pesawat saat kembali memasuki atmosfer bumi. Tercatat, suhu eksternal pesawat ruang angkasa dapat mencapai hingga 3.500 derajat Fahrenheit atau sekitar 1.926 derajat Celcius.

Astronaut juga harus bersiap merasakan tekanan akibat mesin G-force di dinding pesawat yang dapat mencapai 4,5 G. Sehingga, kesalahan sekecil apapun dapat memiliki konsekuensi besar.

Kemudian, atmosfer bumi yang berada di atas ketinggian 50.000 kaki bukan tempat yang aman dijelajahi tanpa pakaian antariksa karena oksigen yang menurun.

Sementara itu, Bezos dan dua rekannya akan melakukan perjalanan hingga di ketinggian 350.000 kaki sehingga mutlak membutuhkan setelan baju astronaut agar tetap bernapas.

Rupanya, kapsul yang mereka tumpangi telah menyediakan cukup oksigen sehingga mereka tidak memerlukan setelan khusus agar tetap aman. Mereka juga dapat menggunakan masker oksigen jika tekanan udara di kabin turun.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ketika pesawat kehilangan kendali saat berada di ketinggian. Terkait hal ini, pesawat luar angkasa New Shepard telah dilengkapi sistem pelontar.

Sistem ini dirancang untuk membuang kapsul New Shepard dan penumpang menjauh dari roket jika terjadi keadaan darurat. Selain itu, mereka juga telah memasang fitur keamanan cadangan untuk membantu kapsul mendarat dengan halus meskipun beberapa parasut gagal digunakan.

Namun, tidak ada jaminan bahwa sistem keamanan canggih dari pesawat New Shepard itu bebas dari malfungsi.

Mereka perlu berkaca kembali pada peristiwa yang menimpa satu pesawat ruang angkasa suborbital Virgin Galactic pada tahun 2014.

Kala itu dua pilot mereka menguji coba pesawat tersebut sebelum melakukan misi luar angkasa. Saat terbang, mereka telah memasang sabuk pengaman di kursi dan telah disematkan parasut darurat.

Namun pesawat justru meledak beberapa saat setelah terlepas dari induknya.

Salah satu pilot berhasil terlepas dari ruang pesawat, sedangkan satu pilot lain masih terjebak di kokpit. Pilot yang selamat berhasil mendarat dengan kursi yang masih menempel.

Dari hasil penyelidikan mengatakan sayap lipat pesawat yang digunakan untuk menstabilkan kecepatan pesawat dilepaskan lebih awal dari seharusnya sehingga kapal meledak.

Sejak kejadian itu Blue Origin terus melakukan serangkaian uji coba untuk mengetahui kemampuan kerja pesawatnya. Dari uji coba itu, Blue Origin belum mengalami kecelakaan tragis yang serupa dengan Virgin Galactic selama fase pengujian.

Terlepas dari beberapa risiko tersebut, penerbangan sub orbital yang akan dijalani oleh Jeff Bezos dan dua penumpang lain menjadi catatan baru untuk misi perjalanan manusia ke luar angkasa.

(nly/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK