Para peneliti menemukan fosil di Gua Liang Panning atau Liang Panninge di Maros, Sulawesi Selatan, yang disebut bisa mengungkap jejak kelompok manusia purba tak dikenal yang mendiami wilayah itu.
"Kami menemukan DNA pertama dari manusia purba di wilayah antara Asia dan Australia yang dikenal Wallacea, yang memberikan pandangan baru tentang keanekaragaman genetik dan sejarah awal populasi manusia modern di dunia," kata pakar arkeologi dari Pusat Penelitian Evolusi Manusia Universitas Griffith Australia, Prof. Adam Brumm, seperti dilansir CNN, Kamis (26/8).
Brumm adalah salah satu pakar yang menulis laporan penelitian itu di samping kandidat dokter di Institut Ilmu Sejarah Manusia Max Planck di Jerman, Selina Carlhoff.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Brumm, fosil manusia purba yang ditemukan pada 2015 silam itu berkelamin perempuan yang berusia sekitar 17 tahun atau 18 tahun. Dia mengatakan fosil itu kemungkinan besar dikubur di gua itu sekitar 7.200 tahun lampau.
Brumm meyakini fosil perempuan itu adalah bagian dari masyarakat Toalea yang diperkirakan menghuni kawasan semenanjung Sulawesi Selatan.
Para peneliti juga menemukan sejumlah artefak seperti peralatan berburu yakni mata panah bergerigi dari batu dan lukisan di dinding gua. Temuan itu membuat para peneliti memprediksi manusia sudah menghuni wilayah itu sejak 47 ribu tahun silam.
Akan tetapi, fosil itu cepat rusak dan jejak DNA-nya juga sulit dilacak karena diduga akibat proses pelapukan di wilayah iklim tropis.
Manusia yang hidup pada masa awal modern diperkirakan menjelajah ke kepulauan di wilayah Wallacea, terutama Sulawesi, Lombok dan Flores, dari wilayah Eurasia menuju benua Australia sekitar 50 ribu tahun silam. Akan tetapi, para ahli sampai saat ini belum bisa menentukan jejak jalur yang digunakan oleh para manusia itu buat menjelajah.
"Mereka kemungkinan menggunakan sebuah perahu atau semacamnya karena tidak ada daratan yang menyambung di antara pulau-pulau itu, bahkan saat puncak di masa akhir Zaman Es yakni ketika permukaan air di dunia lebih rendah 140 meter dari saat ini," kata Brumm.
Brumm mengatakan fosil manusia purba itu sebagian besar masih lengkap dan dengan tengkorak yang utuh. Menurut dia besar kemungkinan fosil itu adalah anggota masyarakat kebudayaan Toalea yang memiliki budaya berburu dan meramu.
"Toalea adalah istilah yang diberikan kepada kebudayaan masa prasejarah yang masyarakatnya berburu dan meramu yang hidup di wilayah dataran lebat dan pegunungan Sulawesi Selatan antara 8000 tahun lalu sampai sekitar abad kelima Masehi. Mereka membuat peralatan dari batu (termasuk mata panah yang dikenal sebagai Mata Panah Maros) yang tidak ditemukan di wilayah lain di Indonesia," ujar Brumm.
Carlhoff menyatakan peneliti berhasil mengambil jejak DNA dari tulang petrous di bawah telinga fosil.
"Ini tantangan berat karena sebagian besar fosil semakin rusak akibat iklim tropis," kata Carlhoff.
Jejak DNA dari fosil itu memperlihatkan dia adalah manusia purba perempuan keturunan dari gelombang pertama manusia modern yang masuk ke wilayah Wallacea lebih dari 50 ribu tahun lalu.
Kelompok manusia purba itu menjadi bagian orang-orang yang menghuni benua Australia, atau ketika lapisan es masih menyatukan Australia dan Papua. Mereka kemungkinan besar adalah nenek moyang dari penduduk asli di Australia dan Papua.
Akan tetapi, dari hasil penelitian lebih lanjut dengan membandingkan genome masyarakat yang tinggal di wilayah Wallacea terungkap fosil itu adalah jenis manusia purba yang belum diketahui.
DNA fosil itu juga memperlihatkan dia adalah anggota dari masyarakat yang datang setelah Benua Australia dihuni. Sebab menurut Brumm masyarakat itu bukan nenek moyang suku asli Australia dan Papua.
"Sebelumnya diperkirakan manusia dengan gen Asia memasuki wilayah Wallacea pada sekitar 3.500 tahun lampau ketika masyarakat yang berbahasa Austronesia yang sudah memiliki kebudayaan menetap dari masa Neolitik di Taiwan menjelajah melalui Filipina dan Indonesia," kata Brumm.
"Diperkirakan mereka adalah kelompok tersendiri dari manusia modern yang ada di wilayah ini yang kami juga belum tahu sampai saat ini, karena situs arkeologi di wilayah Wallacea terpencar dan fosil manusia purba sangat jarang ditemukan," lanjut Brumm.
Brumm menyatakan sampai saat ini diyakini sudah tidak ada lagi keturunan dari masyarakat itu. Penelusuran gen dari fosil perempuan itu juga membuka kemungkinan keterkaitan dengan kelompok manusia Denisova.
Manusia purba Denisova diperkirakan hidup di wilayah Siberia dan Tibet.
"Fakta gen mereka ditemukan di situs masyarakat berburu dan meramu di Liang Panning mendukung hipotesis kami yakni manusia purba Denisova mendiami wilayah yang lebih luas," kata seorang peneliti lainnya di Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi, Prof. Johannes Krause.
Ketika DNA fosil itu dibandingkan dengan DNA dari masyarakat berburu dan meramu lainnya di wilayah Wallacea ternyata tidak mengandung jejak DNA manusia Denisova.
"Keberadaan kelompok manusia purba Denisova dan manusia modern di wilayah Wallacea kemungkinan besar sudah tumpang tindih. Kemungkinan itu adalah wilayah utama tempat masyarakat Denisova dan nenek moyang penduduk asli Australia dan Papua bercampur," kata peneliti dari Pusat Evolusi Manusia dan Lingkungan Palaeo Universitas Tubingen Senckenberg, Prof. Cosimo Posth.
Sampai saat ini para peneliti belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi terhadap kebudayaan Toalea. Penemuan ini juga menjadi bagian dari buat memahami sejarah manusia purba di Asia Tenggara.
Brumm berharap bisa mendapatkan lagi DNA dari masyarakat kebudayaan Toalea sehingga mereka bisa mengungkap keberagaman dan sejarah nenek moyang penduduk di kawasan itu.
Para peneliti menemukan fosil di Gua Liang Panning atau Liang Panninge di Maros, Sulawesi Selatan, yang disebut bisa mengungkap jejak kelompok manusia purba tak dikenal yang mendiami wilayah itu.
"Kami menemukan DNA pertama dari manusia purba di wilayah antara Asia dan Australia yang dikenal Wallacea, yang memberikan pandangan baru tentang keanekaragaman genetik dan sejarah awal populasi manusia modern di dunia," kata pakar arkeologi dari Pusat Penelitian Evolusi Manusia Universitas Griffith Australia, Prof. Adam Brumm, seperti dilansir CNN, Kamis (26/8).
Brumm adalah salah satu pakar yang menulis laporan penelitian itu di samping kandidat dokter di Institut Ilmu Sejarah Manusia Max Planck di Jerman, Selina Carlhoff.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Brumm, fosil manusia purba yang ditemukan pada 2015 silam itu berkelamin perempuan yang berusia sekitar 17 tahun atau 18 tahun. Dia mengatakan fosil itu kemungkinan besar dikubur di gua itu sekitar 7.200 tahun lampau.
Brumm meyakini fosil perempuan itu adalah bagian dari masyarakat Toalea yang diperkirakan menghuni kawasan semenanjung Sulawesi Selatan.
Para peneliti juga menemukan sejumlah artefak seperti peralatan berburu yakni mata panah bergerigi dari batu dan lukisan di dinding gua. Temuan itu membuat para peneliti memprediksi manusia sudah menghuni wilayah itu sejak 47 ribu tahun silam.
Akan tetapi, fosil itu cepat rusak dan jejak DNA-nya juga sulit dilacak karena diduga akibat proses pelapukan di wilayah iklim tropis.
Manusia yang hidup pada masa awal modern diperkirakan menjelajah ke kepulauan di wilayah Wallacea, terutama Sulawesi, Lombok dan Flores, dari wilayah Eurasia menuju benua Australia sekitar 50 ribu tahun silam. Akan tetapi, para ahli sampai saat ini belum bisa menentukan jejak jalur yang digunakan oleh para manusia itu buat menjelajah.
"Mereka kemungkinan menggunakan sebuah perahu atau semacamnya karena tidak ada daratan yang menyambung di antara pulau-pulau itu, bahkan saat puncak di masa akhir Zaman Es yakni ketika permukaan air di dunia lebih rendah 140 meter dari saat ini," kata Brumm.
Brumm mengatakan fosil manusia purba itu sebagian besar masih lengkap dan dengan tengkorak yang utuh. Menurut dia besar kemungkinan fosil itu adalah anggota masyarakat kebudayaan Toalea yang memiliki budaya berburu dan meramu.
"Toalea adalah istilah yang diberikan kepada kebudayaan masa prasejarah yang masyarakatnya berburu dan meramu yang hidup di wilayah dataran lebat dan pegunungan Sulawesi Selatan antara 8000 tahun lalu sampai sekitar abad kelima Masehi. Mereka membuat peralatan dari batu (termasuk mata panah yang dikenal sebagai Mata Panah Maros) yang tidak ditemukan di wilayah lain di Indonesia," ujar Brumm.
Carlhoff menyatakan peneliti berhasil mengambil jejak DNA dari tulang petrous di bawah telinga fosil.
"Ini tantangan berat karena sebagian besar fosil semakin rusak akibat iklim tropis," kata Carlhoff.
Peneliti Temukan DNA Manusia Purba Tak Dikenal di Sulsel
Jejak DNA dari fosil itu memperlihatkan dia adalah manusia purba perempuan keturunan dari gelombang pertama manusia modern yang masuk ke wilayah Wallacea lebih dari 50 ribu tahun lalu.
Kelompok manusia purba itu menjadi bagian orang-orang yang menghuni benua Australia, atau ketika lapisan es masih menyatukan Australia dan Papua. Mereka kemungkinan besar adalah nenek moyang dari penduduk asli di Australia dan Papua.
Akan tetapi, dari hasil penelitian lebih lanjut dengan membandingkan genome masyarakat yang tinggal di wilayah Wallacea terungkap fosil itu adalah jenis manusia purba yang belum diketahui.
DNA fosil itu juga memperlihatkan dia adalah anggota dari masyarakat yang datang setelah Benua Australia dihuni. Sebab menurut Brumm masyarakat itu bukan nenek moyang suku asli Australia dan Papua.
"Sebelumnya diperkirakan manusia dengan gen Asia memasuki wilayah Wallacea pada sekitar 3.500 tahun lampau ketika masyarakat yang berbahasa Austronesia yang sudah memiliki kebudayaan menetap dari masa Neolitik di Taiwan menjelajah melalui Filipina dan Indonesia," kata Brumm.
"Diperkirakan mereka adalah kelompok tersendiri dari manusia modern yang ada di wilayah ini yang kami juga belum tahu sampai saat ini, karena situs arkeologi di wilayah Wallacea terpencar dan fosil manusia purba sangat jarang ditemukan," lanjut Brumm.
Brumm menyatakan sampai saat ini diyakini sudah tidak ada lagi keturunan dari masyarakat itu. Penelusuran gen dari fosil perempuan itu juga membuka kemungkinan keterkaitan dengan kelompok manusia Denisova.
Manusia purba Denisova diperkirakan hidup di wilayah Siberia dan Tibet.
"Fakta gen mereka ditemukan di situs masyarakat berburu dan meramu di Liang Panning mendukung hipotesis kami yakni manusia purba Denisova mendiami wilayah yang lebih luas," kata seorang peneliti lainnya di Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi, Prof. Johannes Krause.
Ketika DNA fosil itu dibandingkan dengan DNA dari masyarakat berburu dan meramu lainnya di wilayah Wallacea ternyata tidak mengandung jejak DNA manusia Denisova.
"Keberadaan kelompok manusia purba Denisova dan manusia modern di wilayah Wallacea kemungkinan besar sudah tumpang tindih. Kemungkinan itu adalah wilayah utama tempat masyarakat Denisova dan nenek moyang penduduk asli Australia dan Papua bercampur," kata peneliti dari Pusat Evolusi Manusia dan Lingkungan Palaeo Universitas Tubingen Senckenberg, Prof. Cosimo Posth.
Sampai saat ini para peneliti belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi terhadap kebudayaan Toalea. Penemuan ini juga menjadi bagian dari buat memahami sejarah manusia purba di Asia Tenggara.
Brumm berharap bisa mendapatkan lagi DNA dari masyarakat kebudayaan Toalea sehingga mereka bisa mengungkap keberagaman dan sejarah nenek moyang penduduk di kawasan itu.