Daftar Wilayah Jatim Berpotensi Dihantam Tsunami 29 Meter
CNN Indonesia
Kamis, 16 Sep 2021 07:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Daftar sejumlah wilayah di Jawa Timur yang bisa kena tsunami dengan gelombang maksimum 29 meter seperti di Pacitan. (AFP PHOTO / ROMEO GACAD)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati membeberkan sejumlah wilayah Jawa Timur lain yang terimbas tsunami dengan tinggi maksimum 29 meter seperti di Pacitan.
Ia menjelaskan berdasarkan hasil analisis BMKG wilayah Jatim itu meliputi Kabupaten Trenggalek, dan waktu tercepat imbas tsunami tiba di Kabupaten Blitar 20-24 menit.
"Hasil analisis kami untuk wilayah Jatim, seluruh pesisir itu potensinya, tinggi maksimum 26-29 meter di Kabupaten Trenggalek, itu tinggi maksimum. Waktu tiba tercepat 20-24 menit di Kabupaten Blitar," ujar Dwikorita dalam webinar di saluran Youtube Info BMKG beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Dwikorita memperingatkan pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Pacitan, Jatim bersiap dengan skenario terburuk gempa dan tsunami 28 meter yang berpotensi menerjang daerah itu dalam 29 menit.
"Berdasarkan hasil penelitian, wilayah Pantai Pacitan memiliki potensi tsunami setinggi 28 meter dengan estimasi waktu tiba sekitar 29 menit. Adapun tinggi genangan di darat berkisar sekitar 15-16 meter dengan potensi jarak genangan mencapai 4 - 6 kilometer dari bibir pantai," ujar Dwikorita, Minggu (12/9), seperti dikutip Antara.
Kesiapan dan kewaspadaan itu diungkap Dwikorita dinilai sebagai cara menghindari dan mengurangi risiko bencana gempa dan tsunami yang mengintai pesisir selatan Jawa akibat pergerakan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.
Dalam kesempatan itu, Dwi bersama Menteri Sosial Tri Rismaharini dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji melakukan verifikasi zona bahaya dan menyusuri jalur evakuasi bencana.
Daftar daerah di Jawa Timur terimbas tsunami akibat gempa megathrust :
- Pacitan: tinggi 28 meter tiba dalam 29 menit.
- Trenggalek: potensi tinggi maksimum 26-29 meter.
- Blitar: tsunami tiba paling cepat 20-24 menit di Kabupaten Blitar.
Meski demikian, tsunami imbas gempa megathrust ini berpotensi terjadi di seluruh kawasan pesisir selatan Jawa Timur. Secara keseluruhan, potensi tsunami tersebar di sepanjang jalur megathrust selatan yang memanjang di seluruh jalur barat pulau Sumatra, selatan Pulau Jawa, Bali, hingga Sumba, seperti dikonfirmasi Kepala Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Daryono kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu (23/8).
Dengan skenario itu, kata Dwikorita, masyarakat yang berada di zona bahaya perlu berlatih secara rutin untuk melakukan langkah evakuasi mandiri bila mendapatkan Peringatan Dini Tsunami maksimum 5 menit setelah gempa terjadi.
Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir pantai juga diimbau segera mengungsi ke dataran yang lebih tinggi jika merasakan goncangan gempa yang besar.
"Untuk masyarakat yang berada di pantai, tidak perlu menunggu perintah, aba-aba, atau sirene, segera lari karena waktu yang dimiliki hanya sekitar 29 menit, sedangkan jarak tempat yang aman yang lebih tinggi cukup jauh," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa skenario gempa memiliki arti yang sifatnya masih potensi, yang bisa kapan saja terjadi atau bahkan tidak terjadi.
Meski demikian masyarakat dan pemerintah daerah disebutnya harus sudah siap dengan skenario terburuk itu.
Apabila masyarakat dan pemerintah daerah sudah siap, ucap Dwikorita, maka kerugian materi hingga korban jiwa dapat diminimalisir.
Lewat skenario terburuk itu, ia mengatakan pemerintah daerah bersama masyarakat bisa lebih maksimal mempersiapkan upaya mitigasi yang lebih komprehensif.
"Jika masyarakat terlatih maka tidak ada istilah gugup dan gagap saat bencana terjadi. Begitu gempa terjadi, baik masyarakat maupun pemerintah sudah tahu apa-apa saja yang harus dilakukan dalam waktu yang sangat terbatas tersebut," ujar dia menegaskan.
Dwikorita menyatakan hingga kini tidak ada teknologi atau satu pun di dunia yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa dan tsunami secara tepat dan akurat, lengkap dengan perkiraan tanggal, jam, lokasi dan magnitudo gempa.
Hal ini diutarakan agar warga tak panik jika beredar hoaks yang menyebut akan terjadi gempa dengan tanggal dan waktu yang spesifik. Sebab, hingga saat ini BMKG tak bisa menentukan secara pasti kejadian gempa di masa mendatang lantaran tidak ada teknologi yang mendukung.
Ia mengatakan bahwa semua yang berkaitan dengan potensi bencana didasari oleh salah satunya sejarah gempa di wilayah tersebut.
Sementara itu, BMKG memberi rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk menyiapkan dan menambah jalur-jalur evakuasi lengkap dengan rambu-rambu di zona merah menuju zona hijau.
Mengingat luasnya zona bahaya (zona merah) dan padatnya pemukiman penduduk, maka pemerintah daerah harus lebih cermat dan tepat dalam memperhitungkan jumlah dan lokasi jalur evakuasi yang diperlukan.
Pemerintah daerah, lanjut Dwikorita, juga perlu mempersiapkan secara khusus sarana dan prasarana evakuasi bagi kelompok lanjut usia (lansia) dan difabel.
Pertimbangannya adalah jarak lokasi tempat evakuasi, waktu datangnya gelombang genangan tsunami, kalayakan jalur, serta menyiapkan mekanisme dan sarana prasarana evakuasi secara tepat.
Selain itu dia berharap masyarakat juga harus terus diberikan edukasi mengenai potensi bencana dan cara menghadapinya.
Ia mengatakan perlunya menyiapkan semacam tempat evakuasi sementara, maupun tempat evakuasi akhir sebagai tempag penampungan khusus bagi warga yang mengungsi dengan ketersediaan logistik yang memadai.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati membeberkan sejumlah wilayah Jawa Timur lain yang terimbas tsunami dengan tinggi maksimum 29 meter seperti di Pacitan.
Ia menjelaskan berdasarkan hasil analisis BMKG wilayah Jatim itu meliputi Kabupaten Trenggalek, dan waktu tercepat imbas tsunami tiba di Kabupaten Blitar 20-24 menit.
"Hasil analisis kami untuk wilayah Jatim, seluruh pesisir itu potensinya, tinggi maksimum 26-29 meter di Kabupaten Trenggalek, itu tinggi maksimum. Waktu tiba tercepat 20-24 menit di Kabupaten Blitar," ujar Dwikorita dalam webinar di saluran Youtube Info BMKG beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Dwikorita memperingatkan pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Pacitan, Jatim bersiap dengan skenario terburuk gempa dan tsunami 28 meter yang berpotensi menerjang daerah itu dalam 29 menit.
"Berdasarkan hasil penelitian, wilayah Pantai Pacitan memiliki potensi tsunami setinggi 28 meter dengan estimasi waktu tiba sekitar 29 menit. Adapun tinggi genangan di darat berkisar sekitar 15-16 meter dengan potensi jarak genangan mencapai 4 - 6 kilometer dari bibir pantai," ujar Dwikorita, Minggu (12/9), seperti dikutip Antara.
Kesiapan dan kewaspadaan itu diungkap Dwikorita dinilai sebagai cara menghindari dan mengurangi risiko bencana gempa dan tsunami yang mengintai pesisir selatan Jawa akibat pergerakan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.
Dalam kesempatan itu, Dwi bersama Menteri Sosial Tri Rismaharini dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji melakukan verifikasi zona bahaya dan menyusuri jalur evakuasi bencana.
Daftar daerah di Jawa Timur terimbas tsunami akibat gempa megathrust :
- Pacitan: tinggi 28 meter tiba dalam 29 menit.
- Trenggalek: potensi tinggi maksimum 26-29 meter.
- Blitar: tsunami tiba paling cepat 20-24 menit di Kabupaten Blitar.
Meski demikian, tsunami imbas gempa megathrust ini berpotensi terjadi di seluruh kawasan pesisir selatan Jawa Timur. Secara keseluruhan, potensi tsunami tersebar di sepanjang jalur megathrust selatan yang memanjang di seluruh jalur barat pulau Sumatra, selatan Pulau Jawa, Bali, hingga Sumba, seperti dikonfirmasi Kepala Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Daryono kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu (23/8).
Dengan skenario itu, kata Dwikorita, masyarakat yang berada di zona bahaya perlu berlatih secara rutin untuk melakukan langkah evakuasi mandiri bila mendapatkan Peringatan Dini Tsunami maksimum 5 menit setelah gempa terjadi.
Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir pantai juga diimbau segera mengungsi ke dataran yang lebih tinggi jika merasakan goncangan gempa yang besar.
"Untuk masyarakat yang berada di pantai, tidak perlu menunggu perintah, aba-aba, atau sirene, segera lari karena waktu yang dimiliki hanya sekitar 29 menit, sedangkan jarak tempat yang aman yang lebih tinggi cukup jauh," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa skenario gempa memiliki arti yang sifatnya masih potensi, yang bisa kapan saja terjadi atau bahkan tidak terjadi.
Meski demikian masyarakat dan pemerintah daerah disebutnya harus sudah siap dengan skenario terburuk itu.
Apabila masyarakat dan pemerintah daerah sudah siap, ucap Dwikorita, maka kerugian materi hingga korban jiwa dapat diminimalisir.
Lewat skenario terburuk itu, ia mengatakan pemerintah daerah bersama masyarakat bisa lebih maksimal mempersiapkan upaya mitigasi yang lebih komprehensif.
"Jika masyarakat terlatih maka tidak ada istilah gugup dan gagap saat bencana terjadi. Begitu gempa terjadi, baik masyarakat maupun pemerintah sudah tahu apa-apa saja yang harus dilakukan dalam waktu yang sangat terbatas tersebut," ujar dia menegaskan.
Gempa Tak Dapat Diprediksi Kapan Terjadi, Hati-hati Hoaks
Ilustrasi. Daftar sejumlah wilayah di Jawa Timur yang bisa kena tsunami dengan gelombang maksimum 29 meter seperti di Pacitan. (iStock/Bobbushphoto)
Dwikorita menyatakan hingga kini tidak ada teknologi atau satu pun di dunia yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa dan tsunami secara tepat dan akurat, lengkap dengan perkiraan tanggal, jam, lokasi dan magnitudo gempa.
Hal ini diutarakan agar warga tak panik jika beredar hoaks yang menyebut akan terjadi gempa dengan tanggal dan waktu yang spesifik. Sebab, hingga saat ini BMKG tak bisa menentukan secara pasti kejadian gempa di masa mendatang lantaran tidak ada teknologi yang mendukung.
Ia mengatakan bahwa semua yang berkaitan dengan potensi bencana didasari oleh salah satunya sejarah gempa di wilayah tersebut.
Sementara itu, BMKG memberi rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk menyiapkan dan menambah jalur-jalur evakuasi lengkap dengan rambu-rambu di zona merah menuju zona hijau.
Mengingat luasnya zona bahaya (zona merah) dan padatnya pemukiman penduduk, maka pemerintah daerah harus lebih cermat dan tepat dalam memperhitungkan jumlah dan lokasi jalur evakuasi yang diperlukan.
Pemerintah daerah, lanjut Dwikorita, juga perlu mempersiapkan secara khusus sarana dan prasarana evakuasi bagi kelompok lanjut usia (lansia) dan difabel.
Pertimbangannya adalah jarak lokasi tempat evakuasi, waktu datangnya gelombang genangan tsunami, kalayakan jalur, serta menyiapkan mekanisme dan sarana prasarana evakuasi secara tepat.
Selain itu dia berharap masyarakat juga harus terus diberikan edukasi mengenai potensi bencana dan cara menghadapinya.
Ia mengatakan perlunya menyiapkan semacam tempat evakuasi sementara, maupun tempat evakuasi akhir sebagai tempag penampungan khusus bagi warga yang mengungsi dengan ketersediaan logistik yang memadai.