Ketergantungan IG, WA, FB, Saran Pakar Negara Buat Alternatif

CNN Indonesia | Senin, 11/10/2021 19:35 WIB
Pakar menyarankan agar negara membuat alternatif terkait dengan ketergantungan pengguna atas layanan Facebook, Instagram, Whatsapp. Ilustrasi. Pakar menyarankan agar negara membuat alternatif terkait dengan ketergantungan pengguna atas layanan Facebook, Instagram, Whatsapp. (REUTERS/DADO RUVIC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar keamanan siber sekaligus Chairman CISReC, Pratama Persada menilai pentingnya pemerintah bangun aplikasi media sosial alternatif bagi masyarakat.

Hal itu diungkap terkait gangguan pada layanan Facebook, WhatsApp dan Instagram yang mengganggu komunikasi jutaan pengguna dunia.

"Masalahnya adalah negara kita belum punya alternatif apps yang dibutuhkan... Harusnya negara memikirkan ini dari sekarang, bisa mencontoh China yang punya banyak aplikasi alternatif karena mereka melarang FB dan Google," ujar Pratama kepada CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Jumat (8/10) malam.


Beberapa waktu lalu, terdapat sejumlah platform layanan pesan instan buatan lokal yang bisa digunakan warga, seperti Catfiz, Callind, Pesankita Indonesia, Oy! Indonesia, Stealth Chat, dan Imes.

Lebih lanjut, Pratama menyebut China sebagai salah satu negara yang sudah membangun platform media sosial alternatif. Hal itu merupakan respons pemerintah usai melarang Facebook dan Google beroperasi di negara tirai bambu itu.

Pemerintah China dijelaskan Pratama juga berhasil mendorong pengembang swasta dalam menciptakan eksosistem media sosial pengganti Facebook dan Google. Produk yang dihasilkan di antaranya WeChat, Weibo, QQ dan Baidu.

Tak hanya menyarankan untuk membangun platform media sosial di dalam negeri. Pratama juga menyarankan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar menggunakan platform alternatif.

Ketergantungan FB, WA, IG

Kendati demikian Pratama tak menampikmasyarakat Indonesia saat ini sangat bergantung dengan Facebook, Whatsapp dan juga Instagram. Hal itu lantaran ketiga platform memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh sebagian besar manusia.

Dia menjelaskan apa yang diberikan Facebook adalah sebuah ekosistem digital yang lengkap. Mulai menjalin pertemanan baru, menyambung pertemanan lama, bahkan tersedia banyak fitur baru seperti marketplace dan video watch.

Ditambah lagi dengan langkah Facebook mengakuisisi WhatsApp dan Instagram. Pratama menilai langkah itu menjadikan ekosistem media sosial milik Mark Zuckerberg semakin lengkap.

"Namun jelas berisiko dari sisi eksploitasi data pribadi untuk keperluan iklan dan juga riset yang tidak diketahui oleh penggunanya," pungkasnya.

Di samping itu ketergantungan penggunaan media sosial sepeeri FB, IG dan WA dijelaskan Pratama tak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan masyarakat dunia. Lagi-lagi alasannya adalah tak adanya platform alternatif bagi pengguna.

Di samping itu Pratama menyorotimeningkatnya tren penggunaan TikTok saat ini. Ia menyebut TikTok menjadi media alternatif untuk menggantikan Instagram meskipun platform itu tak secara khusus memamerkan foto melainkan dalam bentuk kombinasi cuplikaan video, foto dan disertai musik.

"Yang paling bisa menjadi alternatif adalah TikTok untuk menggantikan Instagram, meski tidak bisa posting foto, namun karakteristik pemakainya sama yaitu milenial dengan konten khasnya," tuturnya.

Selebihnya, pada platform lain seperti WA dan FB disebut Pratama belum tergantikan sama sekali. Karena fungsinya yang tidak tergantikan di dunia inilah maka respon masyarakat global sangat serius akan matinya layanan FB dalam waktu kurang lebih 5 jam.



(can/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK