Daftar Bocoran Bobrok Facebook, Dibongkar Lewat Facebook Papers
CNN Indonesia
Senin, 08 Nov 2021 21:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Facebook Papers membongkar bobrok perusahaan yang kini berganti nama jadi Meta itu. (REUTERS/CARLOS BARRIA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dokumen-dokumen internal yang masuk dalam Facebook Papers kembali ramai dibicarakan seiring dengan perubahan nama perusahaan milik Mark Zuckeberg itu menjadi Meta.
Dokumen-dokumen yang bocor merupakan pengungkapan yang dibuat kepada Komisi Sekuritas dan Bursa dan diberikan kepada Kongres dalam bentuk yang telah diedit oleh penasihat hukum pelapor, Frances Haugen.
Dokumen-dokumen dan cerita-cerita di dalam Facebook Papers itu menimbulkan kekhawatiran tentang potensi bahaya dari berbagai platform aplikasi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka juga menawarkan wawasan tentang cara kerja internal perusahaan, termasuk pendekatannya terhadap informasi yang salah dan moderasi ujaran kebencian, baik di Amerika Serikat maupun internasional.
The Wall Street Journal sebelumnya menerbitkan serangkaian cerita berdasarkan dokumen internal Facebook yang dibocorkan oleh Haugen, yang mengangkat kekhawatiran tentang dampak Instagram pada gadis remaja.
Facebook telah berulang kali mencoba untuk mendiskreditkan Haugen dan mengatakan laporan tentang dokumen tersebut salah dan mencirikan tindakannya.
"Inti dari cerita-cerita ini adalah premis yang salah. Kami adalah bisnis dan kami menghasilkan keuntungan. Tetapi gagasan bahwa kami melakukannya dengan mengorbankan keselamatan atau kesejahteraan utuk kepentingan komersial kami adalah salah," kata juru bicara Facebook sebelumnya dalam sebuah pernyataan kepada CNN.
Setahun pandemi, atau tepatnya Februari 2021, laporan penelitian Facebook dibagikan secara internal dan mencatat kekhawatiran tentang "Sistem internal kami belum cukup sering mengidentifikasi, menurunkan, dan atau menghapus komentar anti-vaksin."
Sebulan kemudian, laporan lain menyebut risiko pencapaian keseluruhan jumlah dari orang yang ragu-ragu akan vaksin mungkin lebih tinggi daripada yang diunggah.
"Namun kami kurang berinvestasi dalam mencegah keraguan dalam komentar dibandingkan dengan investasi kami dalam konten," tulis laporan tersebut seperti dilaporkan CNN.
Seorang juru bicara Facebook mengatakan perusahaan telah membuat perbaikan pada masalah yang diangkat dalam memo internal.
2. Perdagangan Manusia
Menurut satu laporan internal di Januari 2020 berjudul "Perhambaan Domestik dan Perdagangan Tenaga Kerja di Timur Tengah," penyelidikan Facebook menemukan hal berikut:
"Platform kami memungkinkan ada tiga tahap dari kehidupan eksploitasi manusia (perekrutan fasilitasi dan eksploitasi) melalui jaringan kompleks di dunia nyata."
"Para pedagang, perekrut dan fasilitator dari agensi menggunakan profile di Facebook IG, pages, Messenger dan WhatsApp."
Menanggapi hal itu, juru bicara Facebook mengatakan kepada CNN bahwa mereka melarang eksploitasi manusia dengan tegas.
"Kami tlah memerangi perdagangan manusia di platform kami selama bertahun-tahun," ucap juru bicara Facebook.
3. Dampak Algoritma
Sebuah catatan penelitian internal dari April 2019 menunjukkan bahwa beberapa partai politik Eropa menyebut keputusan Facebook 2018 mengubah algoritma News Feed telah memperburuk situasi politik.
Tapi menurut Facebook, pengenalan metrik tidak berdampak besar pada perubahan pemeringkatan konten bagi pengguna di jejaring sosial mereka karena likes, comment dan share tetap menjadi perhitungan utama.
Pada Juni 2020, seorang karyawan Facebook memposting laporan ke grup internal yang mengindikasikan ada kesalahan pendeteksian informasi dan ujaran kebencian di negara-negara berisiko seperti Myanmar dan Ethiopia.
Namun, di hadapan publik Facebook mengaku memiliki proses terbaik industri teknologi untuk meninjau dan memprioritaskan negara-negara dengan risiko bahaya dan kekerasan offline tertinggi, setiap enam bulan.
"Ketika kami menanggapi krisis, kami menyebarkan dukungan khusus negara sesuai kebutuhan," sebutnya.
5. Reaksi internal terhadap penyerbuan Gedung Capitol AS
Facebook juga dituduh menjadi salah satu penyulut pemberontakan di Capitol. Namun, Facebook merespons bahwa yang bertanggung jawab atas penyerbuan itu adalah mereka yang menghasut warga.
Dokumen-dokumen internal yang masuk dalam Facebook Papers kembali ramai dibicarakan seiring dengan perubahan nama perusahaan milik Mark Zuckeberg itu menjadi Meta.
Dokumen-dokumen yang bocor merupakan pengungkapan yang dibuat kepada Komisi Sekuritas dan Bursa dan diberikan kepada Kongres dalam bentuk yang telah diedit oleh penasihat hukum pelapor, Frances Haugen.
Dokumen-dokumen dan cerita-cerita di dalam Facebook Papers itu menimbulkan kekhawatiran tentang potensi bahaya dari berbagai platform aplikasi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka juga menawarkan wawasan tentang cara kerja internal perusahaan, termasuk pendekatannya terhadap informasi yang salah dan moderasi ujaran kebencian, baik di Amerika Serikat maupun internasional.
The Wall Street Journal sebelumnya menerbitkan serangkaian cerita berdasarkan dokumen internal Facebook yang dibocorkan oleh Haugen, yang mengangkat kekhawatiran tentang dampak Instagram pada gadis remaja.
Facebook telah berulang kali mencoba untuk mendiskreditkan Haugen dan mengatakan laporan tentang dokumen tersebut salah dan mencirikan tindakannya.
"Inti dari cerita-cerita ini adalah premis yang salah. Kami adalah bisnis dan kami menghasilkan keuntungan. Tetapi gagasan bahwa kami melakukannya dengan mengorbankan keselamatan atau kesejahteraan utuk kepentingan komersial kami adalah salah," kata juru bicara Facebook sebelumnya dalam sebuah pernyataan kepada CNN.
Setahun pandemi, atau tepatnya Februari 2021, laporan penelitian Facebook dibagikan secara internal dan mencatat kekhawatiran tentang "Sistem internal kami belum cukup sering mengidentifikasi, menurunkan, dan atau menghapus komentar anti-vaksin."
Sebulan kemudian, laporan lain menyebut risiko pencapaian keseluruhan jumlah dari orang yang ragu-ragu akan vaksin mungkin lebih tinggi daripada yang diunggah.
"Namun kami kurang berinvestasi dalam mencegah keraguan dalam komentar dibandingkan dengan investasi kami dalam konten," tulis laporan tersebut seperti dilaporkan CNN.
Seorang juru bicara Facebook mengatakan perusahaan telah membuat perbaikan pada masalah yang diangkat dalam memo internal.
Kasus Perdagangan Manusia hingga
Facebook Papers membongkar bobrok perusahaan yang kini berganti nama jadi Meta itu. (REUTERS/DADO RUVIC)
2. Perdagangan Manusia
Menurut satu laporan internal di Januari 2020 berjudul "Perhambaan Domestik dan Perdagangan Tenaga Kerja di Timur Tengah," penyelidikan Facebook menemukan hal berikut:
"Platform kami memungkinkan ada tiga tahap dari kehidupan eksploitasi manusia (perekrutan fasilitasi dan eksploitasi) melalui jaringan kompleks di dunia nyata."
"Para pedagang, perekrut dan fasilitator dari agensi menggunakan profile di Facebook IG, pages, Messenger dan WhatsApp."
Menanggapi hal itu, juru bicara Facebook mengatakan kepada CNN bahwa mereka melarang eksploitasi manusia dengan tegas.
"Kami tlah memerangi perdagangan manusia di platform kami selama bertahun-tahun," ucap juru bicara Facebook.
3. Dampak Algoritma
Sebuah catatan penelitian internal dari April 2019 menunjukkan bahwa beberapa partai politik Eropa menyebut keputusan Facebook 2018 mengubah algoritma News Feed telah memperburuk situasi politik.
Tapi menurut Facebook, pengenalan metrik tidak berdampak besar pada perubahan pemeringkatan konten bagi pengguna di jejaring sosial mereka karena likes, comment dan share tetap menjadi perhitungan utama.
Pada Juni 2020, seorang karyawan Facebook memposting laporan ke grup internal yang mengindikasikan ada kesalahan pendeteksian informasi dan ujaran kebencian di negara-negara berisiko seperti Myanmar dan Ethiopia.
Namun, di hadapan publik Facebook mengaku memiliki proses terbaik industri teknologi untuk meninjau dan memprioritaskan negara-negara dengan risiko bahaya dan kekerasan offline tertinggi, setiap enam bulan.
"Ketika kami menanggapi krisis, kami menyebarkan dukungan khusus negara sesuai kebutuhan," sebutnya.
5. Reaksi internal terhadap penyerbuan Gedung Capitol AS
Facebook juga dituduh menjadi salah satu penyulut pemberontakan di Capitol. Namun, Facebook merespons bahwa yang bertanggung jawab atas penyerbuan itu adalah mereka yang menghasut warga.