Clubhouse Blak-blakan Soal Fitur Banyak Dikloning Aplikasi Lain
CNN Indonesia
Selasa, 16 Nov 2021 15:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Clubhouse blak-blakan soal fitur audio yang banyak dikloning oleh aplikasi media sosial lain. (AFP/ODD ANDERSEN)
Jakarta, CNN Indonesia --
Fitur utama di media sosial Clubhouse yang membuat pendengar bisa berinteraksi lewat audio, kini banyak dikloning media sosial lain.
Twitter mengkloning fitur serupa Clubhouse lewat Spaces, Spotify dengan Greenroom, dan Instagram dengan Live Audio. Kloning fitur ini dilakukan usai nama Clubhouse meroket sekitar awal tahun ini. Meski begitu, Clubhouse mengaku tidak masalah.
"Ini (kloning fitur) bagus, karena akan jadi banyak orang yang terbiasa menggunakan audio dalam komunitas dan saat bersosialisasi. Sebagai sebuah platform terpenting adalah fokus. Sebab yang bisa jadi jawara adalah mereka yang fokus ke satu hal saja," kata CEO sekaligus Co-Founder Clubhouse Paul Davison dalam konferensi virtual satu tahun perjalanan Clubhouse di Indonesia dan Dunia, Selasa (16/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Davison mengatakan audio merupakan medium yang bisa bertahan lama. Mendengarkan orang berbicara pun sudah lama dilakukan bahkan sejak awal mula peradaban dimulai.
Di era modern seperti saat ini, lanjut Davison, teknologi tumbuh besar dengan berbagai perlengkapannya, mulai dari airpods, smart speaker, mesin penerjemah, text to speech sehingga tidak mengejutkan orang bisa memasukkan audio ke platform media sosial mereka.
"Sekarang semua sangat terhubung antara medium dan aplikasi. Orang akan menggunakan aplikasi yang sesuai dengan medium yang mereka harapkan. Misalnya kalau mereka berharap pada medium foto, mereka tidak akan siap untuk mendengar atau ngobrol. Pengguna akan memilih sesuai kebutuhannya," imbuhnya menjelaskan.
Fitur baru
Sejak diperkenalkan pertama kali pada 2019 lalu, Clubhouse kini sudah diperkaya dengan banyak fitur baru yang ditawarkan berdasarkan informasi spesifik yang diinginkan para penggunanya.
Mulai dari fitur wave, back channel atau direct message, payment, spesial audio, clips, links, replay serta fitur terbarunya yakni lokalisasi bahasa di 13 negara, termasuk Indonesia.
Kini, Clubhouse berharap bisa lebih berkembang dengan konten-konten yang membangun hubungan antara orang dengan orang yang lebih manusiawi. Tidak hanya mendengarkan, tapi orang juga bisa berbicara apapun yang mereka suka atau sesuatu peristiwa yang terjadi atau menjadi bahan pembicaraan hangat di sekitar.
"Terutama dengan fitur lokalisasi bahasa bisa membuat banyak komunitas tumbuh. Tantangannya adalah bagaimana mencari konten yang baik yang bisa memberikan value lebih kepada komunitas ke depannya," sebut Davison.
Pengguna Clubhouse di Indonesia
Menurut Davison, kesuksesan sebuah platform aplikasi media sosial juga harus didukung oleh komunitas yang menggunakannya. Bukan hanya dari perkembangan fitur yang dibuat oleh pembuatnya.
Aarthi Ramamurthy, Head of International Clubhouse menyebut Indonesia menjadi pasar penting bagi perkembangan Clubhouse sampai saat ini. Bukan hanya menyoal jumlah pengguna, tapi juga dari keunikan para penggunanya.
Sejak bisa dipakai di Android pada Mei dan fitur invitasi dihilangkan pada Juli, total ada 10 juta orang menggunakan Clubhouse dengan lebih dari satu miliar back channel masuk. Begitu juga dengan room yang tumbuh dari 300 ke 700 per harinya dengan rata-rata mendengarkan dan berbicara selama 70 menit.
"Selain faktor jumlah dan keragaman, tapi ada sebuah hal menarik yakni orang-orang Indonesia menemukan cara kreatif dan tidak ditemukan di negara lain soal bagaimana mereka menggunakan fitur dan konten yang ada. Jadi bukan hanya dari sisi jumah, tapi keragaman kontennya juga," jelas Aarthi.
Fitur utama di media sosial Clubhouse yang membuat pendengar bisa berinteraksi lewat audio, kini banyak dikloning media sosial lain.
Twitter mengkloning fitur serupa Clubhouse lewat Spaces, Spotify dengan Greenroom, dan Instagram dengan Live Audio. Kloning fitur ini dilakukan usai nama Clubhouse meroket sekitar awal tahun ini. Meski begitu, Clubhouse mengaku tidak masalah.
"Ini (kloning fitur) bagus, karena akan jadi banyak orang yang terbiasa menggunakan audio dalam komunitas dan saat bersosialisasi. Sebagai sebuah platform terpenting adalah fokus. Sebab yang bisa jadi jawara adalah mereka yang fokus ke satu hal saja," kata CEO sekaligus Co-Founder Clubhouse Paul Davison dalam konferensi virtual satu tahun perjalanan Clubhouse di Indonesia dan Dunia, Selasa (16/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Davison mengatakan audio merupakan medium yang bisa bertahan lama. Mendengarkan orang berbicara pun sudah lama dilakukan bahkan sejak awal mula peradaban dimulai.
Di era modern seperti saat ini, lanjut Davison, teknologi tumbuh besar dengan berbagai perlengkapannya, mulai dari airpods, smart speaker, mesin penerjemah, text to speech sehingga tidak mengejutkan orang bisa memasukkan audio ke platform media sosial mereka.
"Sekarang semua sangat terhubung antara medium dan aplikasi. Orang akan menggunakan aplikasi yang sesuai dengan medium yang mereka harapkan. Misalnya kalau mereka berharap pada medium foto, mereka tidak akan siap untuk mendengar atau ngobrol. Pengguna akan memilih sesuai kebutuhannya," imbuhnya menjelaskan.
Fitur baru
Sejak diperkenalkan pertama kali pada 2019 lalu, Clubhouse kini sudah diperkaya dengan banyak fitur baru yang ditawarkan berdasarkan informasi spesifik yang diinginkan para penggunanya.
Mulai dari fitur wave, back channel atau direct message, payment, spesial audio, clips, links, replay serta fitur terbarunya yakni lokalisasi bahasa di 13 negara, termasuk Indonesia.
Clubhouse blak-blakan soal fitur audio yang banyak dikloning oleh aplikasi media sosial lain. (AFP/ODD ANDERSEN)
Kini, Clubhouse berharap bisa lebih berkembang dengan konten-konten yang membangun hubungan antara orang dengan orang yang lebih manusiawi. Tidak hanya mendengarkan, tapi orang juga bisa berbicara apapun yang mereka suka atau sesuatu peristiwa yang terjadi atau menjadi bahan pembicaraan hangat di sekitar.
"Terutama dengan fitur lokalisasi bahasa bisa membuat banyak komunitas tumbuh. Tantangannya adalah bagaimana mencari konten yang baik yang bisa memberikan value lebih kepada komunitas ke depannya," sebut Davison.
Pengguna Clubhouse di Indonesia
Menurut Davison, kesuksesan sebuah platform aplikasi media sosial juga harus didukung oleh komunitas yang menggunakannya. Bukan hanya dari perkembangan fitur yang dibuat oleh pembuatnya.
Aarthi Ramamurthy, Head of International Clubhouse menyebut Indonesia menjadi pasar penting bagi perkembangan Clubhouse sampai saat ini. Bukan hanya menyoal jumlah pengguna, tapi juga dari keunikan para penggunanya.
Sejak bisa dipakai di Android pada Mei dan fitur invitasi dihilangkan pada Juli, total ada 10 juta orang menggunakan Clubhouse dengan lebih dari satu miliar back channel masuk. Begitu juga dengan room yang tumbuh dari 300 ke 700 per harinya dengan rata-rata mendengarkan dan berbicara selama 70 menit.
"Selain faktor jumlah dan keragaman, tapi ada sebuah hal menarik yakni orang-orang Indonesia menemukan cara kreatif dan tidak ditemukan di negara lain soal bagaimana mereka menggunakan fitur dan konten yang ada. Jadi bukan hanya dari sisi jumah, tapi keragaman kontennya juga," jelas Aarthi.