China Tak Puas Hasil Matahari Buatan, Genjot ke Titik Panas Tertinggi

lnn | CNN Indonesia
Kamis, 23 Des 2021 14:39 WIB
Proyek Matahari buatan milik China dilaporkan akan memasuki babak baru dengan pengujian yang dimulai Desember 2021. Ilustrasi. Proyek Matahari buatan milik China dilaporkan akan memasuki babak baru dengan pengujian yang dimulai Desember 2021. (Foto: NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Proyek Matahari buatan milik China dilaporkan akan memasuki babak baru dengan pengujian yang dimulai Desember ini.

China telah memulai proyek Matahari buatan sejak 2006, dan pada Desember 2020 lalu proyek ini berhasil memberikan sebuah lompatan besar.

Saat itu Matahari buatan milik China tercatat menghasilkan suhu sebesar 120 derajat Celcius selama 101 detik.


Kali ini proyek Matahari buatan China disebut telah dimulai lagi untuk babak pengujian baru yang bertujuan untuk mencapai suhu yang lebih tinggi dan durasi yang lebih lama.

Tokamak superkonduktor canggih eksperimental China atau EAST merupakan perangkat yang digunakan untuk menguji teknologi fusi nuklir yang berpotensi menyediakan energi bersih tanpa batas untuk umat manusia.

Perangkat ini menggunakan medan magnet untuk membatasi bahan bakar fusi dalam bentuk plasma.

Perangkat seperti EAST sering disebut Matahari buatan karena menghasilkan tenaga dengan metode yang mirip dengan proses fusi Matahari di tata surya kita.

Direktur Institut Fisika Plasma di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (ASIPP), Song Yuntao mengatakan bahwa untuk pengujian di babak baru ini, EAST telah dilengkapi dengan generator panas yang diberikan peningkatan, seperti dikutip dari CGTN.

Seorang peneliti ASIPP yang mengelola eksperimen EAST, Qian Jinping mengatakan kepada kantor berita Xinhua bahwa EAST menghasilkan listrik lebih dari 100 kali per hari untuk meningkatkan kinerjanya.

Pengujian babak baru Matahari buatan China ini diperkirakan akan berlangsung selama setengah tahun.

Selama 10 tahun terakhir sejak didirikan, sebanyak lebih dari 10 ribu peneliti ilmiah China dan asing telah bekerja sama untuk mewujudkan impian Matahari buatan menggunakan perangkat ilmiah besar ini, dan secara berturut-turut mencapai lompatan besar.

Seperti pada November 2018, EAST menghasilkan suhu elektron 100 juta derajat Celcius di plasma intinya, hampir tujuh kali suhu interior Matahari. Dan tahun lalu, EAST mencapai suhu plasma 100 juta derajat Celcius yang berlangsung selama 20 detik.

Teknologi fusi nuklir sebetulnya tak hanya bisa diterapkan untuk pembuatan sumber energi, namun teknologi turunannya juga bisa diaplikasikan di berbagai bidang.

Dilansir dari Global Times, teknologi turunan dari penelitian fusi nuklir memiliki prospek aplikasi yang luas seperti untuk pengobatan kanker, kereta maglev dan resonansi magnetik nuklir dan aplikasi lainnya, kata para peneliti.

(lnn/fjr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER