Polisi Belum Terapkan Sanksi Tilang Penggunaan Roof Box Mobil

M. Ikhsan | CNN Indonesia
Senin, 10 Jan 2022 21:00 WIB
Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Arga Dija Putra mengatakan sanksi tilang tak diberikan selama penggunaannya masih normal. Penggunaan roof rack pada mobil belum ditilang. (Foto: Istockphoto/kostsov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ditlantas Polda Metro Jaya menegaskan belum menerapkan sanksi tilang terkait penggunaan roof box pada mobil.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Arga Dija Putra mengatakan sanksi tilang tak diberikan selama penggunaannya masih normal dan tidak membahayakan penghuni kabin serta pengguna jalan lainnya.

"Jadi pada intinya kita dari pihak kepolisian belum melakukan sanksi tilang selama, di dalam batas wajar dan normal silakan saja," kata Arga saat dihubungi CNNIndonesia, Senin (10/1).


Kendati demikian, Arga tak menjelaskan lebih lanjut soal batas wajar dan normal terkait penggunaan roof box pada mobil.

Arga hanya kembali menegaskan bahwa sanksi tilang belum diterapkan. Ia turut menyebut bahwa sampai saat ini juga belum ada dasar hukum terkait tilang tersebut.

"Intinya kami belum melakukan sanksi tilang untuk itu, belum (ada aturan hukum)," ucap Arga.

Sebelumnya, dari informasi yang dihimpun, pengamat transportasi Budiyanto menyebut bahwa penambahan roof box dari mobil standar bawaan pabrik dapat dikenakan sanksi tilang.

Ini merujuk pada Pasal 50 ayat 1 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ). Selain itu, juga merujuk Pada pasal 131 huruf e dan Pasal 132 ayat ( 2 ) dan ayat 7 Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2012 tentang Kendaraan.

Sony Susmana dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) menjelaskan menambah beban di atap mobil sama saja dengan memindahkan pusat gravitasi ke area lebih tinggi atas. Bila hal itu dilakukan, maka titik keseimbangan mobil akan berbeda dari biasanya.

Pergeseran titik gravitasi itu mesti dipahami pengemudi agar pola mengemudi bisa menyesuaikan. Salah satu penyesuaian yakni mengurangi kecepatan mobil sekitar 10 km per jam dari batas normal.

"Misalnya ada tulisan batas kecepatan di rambu 60 km per jam, berarti 50 km per jam," ujar Sony.

Bila meletakkan barang di atap, walau sudah dirasa diikat kencang, tetap saja berisiko goyang karena pergerakan mobil sepanjang perjalanan. Agar menjaga keseimbangan setidaknya tidak terlalu banyak berubah, Sony bilang pemudik juga harus mengerti tata cara peletakan barang.

"Sebaiknya yang di atas ringan-ringan, bukan yang berat di atas karena ya tidak aman," kata Sony.

(dis/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER