Cara Amankan Dompet Kripto dan NFT dari Ancaman Hacker

CNN Indonesia
Kamis, 13 Jan 2022 20:16 WIB
Pemilik dompet kripto direkomendasikan tidak pernah memberi kunci privasi ke siapapun untuk mengamankan aset digital kripto dan NFT. Ilustrasi kripto.(iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Industri kripto dan non-fungible token (NFT) diprediksi akan mengalami peningkatan serangan siber pada 2022 yang mengancam pemilik aset digital itu. Langkah pencegahan penting dipahami buat mengantisipasi usaha hacker, salah satunya mengamankan dompet (wallet) tempat penyimpanan kripto dan NFT.

Sebelumnya perusahaan keamanan siber Kaspersky merilis sebuah laporan yang memprediksi lanskap siber kawasan Asia Tenggara pada 2022. Pada laporan tersebut dijelaskan bahwa industri kripto dan NFT menjadi sektor yang mengalami peningkatan serangan siber.

Associate Professor SEB Telkom University Andry Alamsyah mengatakan serangan yang menyasar kedua industri tersebut tidak akan berbasis kripto, melainkan dengan metode scam dan pishing seperti serangan siber yang kerap terjadi di dunia digital.


"Seperti serangan pada banyak akun lainnya [meskipun tidak berbasis kripto] yaitu scam dan phishing, dimana user dengan 'tidak sengaja' memberikan credentials-nya," kata Andry kepada CNNindonesia.com melalui pesan teks, Kamis (13/1).

Kemudian kebocoran credential yang terjadi akan membuat hacker atau peretas dapat mengakses wallet kripto milik pengguna.

Pada umumnya saat membuat wallet kripto dan NFT, seseorang akan diberikan private key (kunci privasi) berupa serangkaian kata-kata, jumlahnya bisa hingga 12 kata, sebagai kode identitas satu-satunya kepemilikan wallet.

Kunci privasi ini seharusnya tidak boleh diketahui siapapun, sebab yang mengetahuinya bisa mengakses wallet dari gadget mana saja dan memindahkan isinya ke wallet lain.

"Attacker bisa mendapatkan informasi untuk mengakses wallet yang digunakan sebagai kunci kepemilikan aset kripto atau NFT," ujar Andry.

Andry lantas menjelaskan tentang wallet kripto yang terdiri dua jenis, hot dan cold. Sebagian besar orang menggunakan hot wallet yang artinya terkoneksi ke internet.

"Wallet yang banyak dipakai orang saat ini adalah hot wallet bisa disimpan di cloud, aplikasi tertentu, Metamask, dll," kata Andry.

"Nah hot wallet ini memang nyaman digunakan, karena langsung connect dengan ekosistem kripto, namun kerugiannya ya kalo sudah dijebol ya langsung abis asetnya dicuri," tambahnya.

Sedangkan cold wallet merupakan wallet berbentuk perangkat keras yang cenderung lebih aman karena tidak terhubung ke internet kecuali diinginkan. Andry bahkan menyarankan pengguna memilih cold wallet ini untuk menghindari serangan siber dari peretas.

Selain menggunakan , Andry menyarankan beberapa hal yang bisa digunakan untuk menghindari serangan siber bagi pengguna kripto dan NFT, yakni menggunakan jasa platform yang menyediakan asuransi kehilangan aset seperti Coinbase atau bergabung ke platform/ekosistem yang bisa menjamin keamanan lebih, seperti OpenSea yang memungkinkan memblokir NFT curian.

Mata uang kripto sendiri adalah aset digital yang diamankan kriptografi di dalam konsep desentralisasi blockchain, ini membuatnya dianggap aman dan sangat tidak mungkin dipalsukan.

Seiring perkembangan teknologi, blockchain juga bisa menghasilkan NFT, aset unik yang cuma bisa dibuat satu kali. Hal ini yang membuat NFT kerap diasosiasikan sebagai bentuk seni digital, meski demikian pemanfaatannya masih sangat luas.

(lnn/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER