Cara Penularan Penyakit Mulut dan Kuku, Kontak hingga Pernafasan

CNN Indonesia
Kamis, 12 Mei 2022 16:08 WIB
Penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada umumnya terjadi melalui kontak dan pernafasan. Ilustrasi. Penularan penyakit mulut dan kuku pada ternak mesti diwaspadai. (Foto: CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam sejumlah kasus, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ditularkan dari hewan ke hewan maupun kepada manusia dengan sejumlah metode, mulai dari inseminasi buatan hingga pernafasan.

"Hewan peka tertular melalui jalur inhalasi, ingesti dan melalu perkawinan alami ataupun buatan. Metoda penularan yang umum adalah melalui kontak dan pernafasan (aerosol)," dikutip dari modul kesiagaan darurat veteriner Indonesia yang dibuat Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Kamis (12/5).

Diketahui, PMK kembali mewabah usai pertama kali masuknya ke Indonesia pada 1887 di Malang, Jawa Timur. Kejadian wabah terakhir terjadi di pulau Jawa pada 1983.

Hewan yang dapat menularkan virus PMK antara lain, sapi, kerbau, domba dan babi. Sejumlah besar virus terdapat dalam jaringan, sekresi dan eksresi sebelum dan pada waktu timbulnya gejala klinis.

Kementan menuturkan sejumlah kasus penularan terjadi melalui, pertama, inseminasi buatan.

"Berdasarkan percobaan, PMK dapat ditularkan melalui inseminasi buatan dari semen (sperma) hewan tertular PMK," dikutip dari modul tersebut.

"Virus PMK ditemukan pada semen dari mulai 4 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 37 hari setelah munculnya gejala klinis. Virus masuk ke dalam semen pada saat viremia (kondisi kadar virus tinggi dalam darah) atau karena adanya lesi di sekitar preputial (pada lipatan kulit depan alat kelamin mamalia)," lanjut Kementan.

Lesi merupakan area abnormal jaringan di dalam atau di luar tubuh yang mungkin menjadi lebih besar atau mengubah penampilan, dan mungkin atau mungkin tidak bersifat kanker.

Kedua, virus PMK juga bisa tersebar melalui angin. Bahkan, penyebarannya bisa terjadi sampai 10 kilometer tergantung dengan kondisi lingkungan.

Supaya virus bisa lepas ke udara, ada beberapa hal yang mempengaruhinya. Misalnya, jumlah virus dalam udara, jumlah hewan tertular dan spesies hewan rentan, tingkatan penyakit-sejumlah virus dapat dilepaskan sebelum timbulnya gejala klinis dan sebagian besar antara 4-7 hari setelah infeksi, ketika vesikel terkelupas, jumlah hewan rentan di lokasi terhembus, dan strain virus.

"Babi merupakan hewan yang dapat mengeksresikan virus dalam jumlah besar melalui pernafasannya, dan sapi mudah sekali tertular PMK melalui jalur pernafasannya," ucap Kementan.

"Sehingga biasanya pola penyebaran PMK melalui jalur ini dapat dilihat berasal dari babi ke sapi. Kelompok sapi dalam jumlah banyak lebih mungkin terserang daripada kelompok sapi dalam jumlah sedikit," jelasnya.

Ketiga, melalui kontak dengan kendaraan dan peralatan yang terkontaminasi virus. "Orang bisa membawa virus tersebut melalui sepatu, tangan dan pakaian yang terkontaminasi."

Untuk itulah perlu sistem dekontaminasi alias pembersihan peralatan dan kendaraan setelah digunakan.

Keempat, melalui pernafasan. Menurut Kementan, orang yang terinfeksi bisa saja secara klinis sehat. Namun, mereka dapat mengeluarkan virus PMK dari hidung dan tenggorokan sampai 36 jam.

Selama periode itu, kata Kementan, "virus dikeluarkan melalui batuk, bersin, pembicaraan, pernafasan dan pada ludah. Melalui percobaan orang yang membawa virus PMK dapat menularkan virus tersebut ke orang lain dan juga ke hewan rentan."

Kelima, melalui makanan sisa atau sampah. Menurut Kementan, ini bisa terjadi melalui praktek pemberian sisa makanan (swill feeding) yang mengandung produk hewan, daging dan tulang dari hewan tertular kepada babi.

"Hewan terutama babi bisa tertular PMK dengan memakan hijauan, pakan, produk hewan, air ataupun dengan menjilati benda yang terkontaminasi virus PMK atau sampah sisa makanan dari rumah, restoran, hotel yang mengandung virus PMK," kata Kementerian.

Selain itu, sampah yang terkontaminasi virus bisa disebarkan oleh anjing, kucing, hewan yang masuk kelas rodensia seperti tikus, unggas, dan burung.

"Pembuangan limbah dari tempat tertular, terutama dari peternakan babi dan sapi yang mengalir ke jalan dan selokan bisa menjadi sumber kontaminasi bagi kendaraan, hewan dan rumput," sebut modul tersebut.

Keenam, sampah organik yang tak dimasak yang biasa diberikan pada babi serta susu yang tidak dimasak sempurna dari hewan tertular. "[Ini] bisa mengandung sejumlah virus PMK."

(ttf/arh)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER