101 SCIENCE

Kenapa Tak Kunjung Muncul Manusia Super?

CNN Indonesia
Jumat, 15 Jul 2022 07:44 WIB
Ras manusia superior tak juga nampak dalam ribuan tahun terakhir. Apakah evolusi manusia berhenti? Atau manusia memang sudah dalam bentuk yang sebaik-baiknya? Ilustrasi. Proses evolusi manusia diklaim masih terus berlangsung. (Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ahli masih berdebat soal proses evolusi manusia. Ada yang menyebut proses evolusi manusia sudah melambat dan bahkan berhenti, dan sebaliknya. Jika pendapat kedua benar, kenapa tak juga muncul ras superior atau mutan dengan kemampuan telepati, misalnya?

Teori evolusi Darwin di pelajaran sekolah intinya memberi pesan bahwa perubahan fisik, yang berawal dari mutasi genetik, pada makhluk hidup terus berlangsung amat perlahan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Masalahnya, manusia sejauh ini tampak 'begini-begini saja', terlepas dari kecerdasannya dalam inovasi teknologi dan sains sejauh ini.

Pada 2000, ahli paleontologi Stephen Jay Gould menyatakan "tidak ada perubahan biologis pada manusia dalam 40.000 atau 50.000 tahun terakhir." Hal ini menunjukkan evolusi pada manusia sangat lambat atau mungkin telah berhenti sama sekali.

Pendapat itu didukung oleh naturalis dan penyiar asal Inggris Sir David Attenborough. Ia menyatakan pengendalian kelahiran dan aborsi menjadi salah satu hal yang berkontribusi pada terhentinya evolusi fisik di antara manusia.

"Kita menghentikan seleksi alam segera setelah kita mulai mampu membesarkan 90-95 persen bayi yang lahir. Kita adalah satu-satunya spesies yang menghentikan seleksi alam, seolah-olah atas kehendaknya sendiri, "katanya kepada majalah Inggris The Radio Times pada 2013, seperti dikutip Medical News.

Meski berhenti mengalami evolusi, Attenborough menyebut spesies kita memastikan kelangsungan hidupnya lewat percepatan evolusi budaya.

Lihat Juga :

"Menghentikan seleksi alam tidaklah sepenting, atau menyedihkan, kedengarannya - karena evolusi kita sekarang bersifat budaya [...] Kita dapat mewarisi pengetahuan tentang komputer atau televisi, elektronik, pesawat terbang, dan sebagainya," tuturnya.

Namun pendapat Attenborough dan Jay Gould mendapat kritik Ian Rickard dari University of Durham. Ia menyebut aborsi dan kontrol kelahiran mungkin membuat beberapa orang punya lebih banyak anak dari yang lain.

Akan tetapi, seleksi alam menurutnya tidak berhenti di situ. Sebaliknya, proses aborsi itu memperbarui fokus kepada materi genetik yang dialihkan oleh mereka yang memiliki anak.

"Seleksi alam membutuhkan variasi. Itu membutuhkan seorang individu yang lebih bertahan daripada yang lain," katanya.

Menurut Rickard, kemungkinan bertahan hidup di seluruh dunia dalam beberapa dekade dan abad terakhir mungkin memperkecil kemungkinan seleksi alam. Akan tetapi, kata dia, itu bukan akhir perdebatannya.

"Bahkan ketika seseorang bertahan di tingkat umur yang sama, masih ada variasi untuk seleksi alam bekerja. Seleksi alam tidak begitu peduli dengan bertahan hidup," katanya.

Rickard tidak sendiri. Alan R. Templeton dalam makalahnya berjudul Has Human Evolution Stopped? menyebut evolusi budaya justru membuka pintu bagi evolusi adaptif manusia. Ia meyakini, proses evolusi manusia tidak berhenti.

"Apakah evolusi manusia berhenti? Jawabannya jelas tidak. Satu-satunya cara untuk menghentikan organisme biologi mana pun untuk berevolusi adalah kepunahan. Evolusi bisa diperlambat dengan mengurangi dan menjaga jumlah populasi ke dalam jumlah kecil individu," tulisnya.

Evolusi Mikro

Salah satu contoh yang mudah dipahami tentang bagaimana manusia berevolusi selama berabad-abad terakhir adalah bagaimana tubuh kita beradaptasi untuk mentoleransi sumber makanan paling melimpah di wilayah terkait.

Sekitar 11.000 tahun yang lalu, misalnya, manusia dewasa tidak dapat mencerna laktosa (gula dalam susu).

Ketika manusia di beberapa daerah mulai mengandalkan peternakan sapi perah sebagai sumber makanan, tubuh kita menyesuaikan dari waktu ke waktu untuk lebih mampu mencerna makanan ini, yang sebelumnya hanya bisa ditoleransi oleh bayi dan balita.

Buktinya, warga di daerah peternakan sapi perah Eropa jauh lebih toleran terhadap laktosa daripada orang-orang di daerah yang tidak memiliki tradisi peternakan sapi seperti Asia.

Cuma 5 persen orang keturunan Eropa Utara yang tak toleran laktosa. Sementara, lebih dari 90 persen orang keturunan Asia Timur bisa dibilang alergi susu sapi dalam berbagai level.

Templeton menambahkan proses evolusi manusia yang masih berlangsung juga bisa dilihat dalam bidang medis. Contohnya, kondisi warga Afrika saat diperkenalkan dengan sistem bercocok tanam ala Malaysia 1500 tahun lalu. Sistem tersebut membuat warga hidup berdekatan di dekat lahan pertanian.

Pada mulanya, penyakit malaria tidak banyak ditemukan di sana. Setelah sistem itu diperkenalkan, malaria malah menjadi sering terjadi.

"Kebudayaan kita membentuk lingkungan yang memaksa adanya seleksi alam. Evolusi adaptif dengan demikian terus ada di populasi manusia dan kebanyakan evolusi manusia saat ini punya dampak langsung terhadap insiden penyakit menular, genetik, dan sistemik pada manusia, " katanya.

Beberapa bukti itu memberi petunjuk bahwa evolusi masih terjadi. Meskipun, bukan pada tingkat mutasi genetik yang bisa membuat manusia mengendalikan besi bak Erik Lensherr alias Magneto atau menjadikan manusia punya sayap seperti Archangel.

[Gambas:Video CNN]

(lom/lth)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER