Spesifikasi Rumah Tahan Gempa, Mesti Simetris Hingga Atap Ringan
CNN Indonesia
Minggu, 11 Des 2022 23:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Salah satu unit rumah tahan gempa yang dibangun pasca-gempa Cianjur. (Foto: CNN Indonesia/ Khaira Ummah)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rumah tahan gempa jadi salah satu kampanye utama yang digaungkan para pakar menyusul rangkaian lindu di daerah selatan Pulau Jawa. Seperti apa spesifikasi idealnya?
Salah satu insiden gempa yang mendorong pembuatan rumah tahan gempa terkini adalah Gempa Cianjur dengan Magnitudo 5,6, Senin (21/11)..
Bencana alam di Cianjur, yang merupakan daerah yang secara geologi rawan gerakan tanah, ini juga menyebabkan 17.864 rumah rusak dan puluhan fasilitas umum seperti perkantoran terdampak.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono pernah mengatakan tidak ada larangan untuk membangun di daerah rawan gempa. Namun, struktur bangunan yang tahan gempa wajib dipenuhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita bisa kasih jarak 100 meter dari jalur sesar. Tidak ada larangan bangun di daerah rawan gempa tapi struktur bangunan wajib dipenuhi," katanya, pada 2019.
Masalahnya, banyak permukiman warga yang dibangun seadanya. Salah satu temuan BMKG adalah para korban gempa Malang 2021.
"Dari hasil survei dan evaluasi di lapangan banyak ditemukan struktur bangunan yang tidak memenuhi persyaratan tahan gempa. Mayoritas bangunan tidak menggunakan struktur kolom pada bagian sudutnya," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, 14 April 2021.
Presiden Jokowi, usai mengunjungi korban gempa Cianjur dan pembangunan rumah tahan gempa, mengungkap sedikit spesifikasi bangunan semacam ini.
"Ini rumah contoh tahan gempa di kompleks Yonif Raider 300, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Spesifikasinya berupa pondasi lajur batu kali, struktur baja, dinding bata ringan, kusen dan rangka atapnya dari baja ringan," kicaunya di akun Instagram-nya.
"Rumah contoh tersebut merupakan salah satu skema untuk perbaikan rumah warga terdampak gempa Cianjur. Rumah seperti ini pernah dibangun sebagai hunian tetap tahan gempa di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan," lanjut dia.
Erwin Rommel, pengajar Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengungkapkan kebanyakan bangunan di Cianjur belum memenuhi spek tahan gempa.
"Sebagian besar bangunan yang berdiri di daerah Cianjur adalah bangunan rendah dan bangunan sederhana yang belum memenuhi kaidah rumah tahan gempa. Kebanyakan masyarakat awam beranggapan bahwa gempa yang terjadi lebih berdampak signifikan pada bangunan tinggi saja," tuturnya, dikutip dari situs UMM.
"Nyatanya bencana gempa bisa mengakibatkan kerusakan pada semua bangunan, baik rumah tinggal maupun gedung-gedung bertingkat," imbuh dosen asal Medan tersebut.
Soal spesifikasi rumah tahan gempa, Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kamus (BP2K) UMM itu mengatakan ada sederet utama.
Pertama, pembuatan bangunan dengan bentuk sesimetris mungkin. Kedua, cukup tersedianya pengaku pada dinding. Minimal, katanya, setiap 12 meter persegi luasan dinding harus diberikan kolom dan balok praktis.
Ketiga, memberi peng-angkur-an yang cukup pada setiap sambungan elemen pada bangunan. Misalnya, sambungan dari dinding ke balok pondasi, sambungan dinding ke kolom, ataupun sambungan balok ke konstruksi atap.
Pihaknya sudah mengenalkan beberapa bangunan sederhana tahan gempa. "Di antaranya rumah sederhana tahan gempa berbahan kayu, bambu, dan beton. Spesifikasi utama yang harus dipenuhi agar rumah tahan gempa yakni adanya integritas bangunan," imbuh dia.
Rumah tahan gempa dapat tercipta jika seluruh elemen-elemen dari bangunan mulai dari pondasi, balok sloof, kolom, dinding, serta balok atap tersambung dengan baik dan benar.
Selain itu, perlu adanya penyalur beban dari satu elemen ke elemen lain agar bangunan tidak mudah runtuh dan dapat menahan beban gempa.
Rasio campuran semen, pasir, air hingga harga mahal di halaman berikutnya...
Berdasarkan Lampiran Surat Keputusan Direktur Jenderal Cipta Karya No. 111/KPTS/CK/1993, tertanggal 26 September 1993, tentang Pedoman Bangunan Tahan Gempa Bangunan Beton Bretulang, ada sejumlah deret spesifikasi rumah tahan gempa.
CNNIndonesia.com merangkum sejumlah hal utama, yakni:
1. Bentuk denah bangunan sebaiknya sederhana dan simetris. Misalnya, rumah berbentuk L, baiknya ada pemisahan struktur menjadi dua persegi panjang vetikal dan horzontal.
2. Penempatan dinding-dinding penyekat dan lubang (lubang pintu/jendela diusahakan sedapat mungkin simetris terhadap sumbu-sumbu denah bangunan.
3. Bidang-bidang dinding sebaiknya membentuk kotak-kotak tertutup.
4. Atap sedapat mungkin dibuat ringan
5. Dalam hal pondasi, ada sejumlah ketentuan yang mesti diterapkan:
Sebaiknya tanah dasar pondasi merupakan tanah yang kering, padat, dan merata kekerasannya.
Dasar pondasi sebaiknya terletak lebih dalam dari 45 cm di bawah permukaan tanah.
Pondasi sebaiknya dibuat menerus keliling bangunan tanpa terputus, pondasi dinding penyekat juga dibuat menerus. Jika pondasi terdiri dari batu kali, maka perlu dipasang balok pengikat/sloof sepanjang pondasi.
Pondasi-pondai setempat perlu diikat kuat satu sama lain dengan memakai balok.
6. Pencampuran komponen-komponen beton harus dilakukan dengan baik dan pengadukan harus merata serta mengikuti rasio tertentu, yakni 1 semen: 2 pasir: 3 kerikil: 1/2 air.
Siasati biaya mahal
Erwin mengakui dalam realisasinya pembuatan rumah tahan gempa "memang membutuhkan biaya yang lebih mahal dibanding rumah pada umumnya."
Namun, dia mengatakan bahwa hal tersebut bisa disiasati dengan penggunaan bahan-bahan bangunan yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal. Masyarakat bisa menggunakan bambu atau rotan sebagai pengganti tulangan baja. Selain itu, penggunaan kayu juga bisa menjadi alternatif bahan pengganti lainnya.
"Intinya, konsep pembangunan rumah tahan gempa adalah membuat bangunan menjadi lebih ringan, lebih daktail, dan adanya penyaluran beban dari setiap elemennya sampai ke pondasi," ujar dia.
"Jika kita bisa memanfaatkan kekayaan alam sebagai pengganti bahan bangunan, maka rumah tinggal tahan gempa bisa menjadi lebih murah dan terjangkau di masyarakat," tandas dia, yang juga menjabat ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) wilayah Malang Raya itu.
Jakarta, CNN Indonesia --
Rumah tahan gempa jadi salah satu kampanye utama yang digaungkan para pakar menyusul rangkaian lindu di daerah selatan Pulau Jawa. Seperti apa spesifikasi idealnya?
Salah satu insiden gempa yang mendorong pembuatan rumah tahan gempa terkini adalah Gempa Cianjur dengan Magnitudo 5,6, Senin (21/11)..
Bencana alam di Cianjur, yang merupakan daerah yang secara geologi rawan gerakan tanah, ini juga menyebabkan 17.864 rumah rusak dan puluhan fasilitas umum seperti perkantoran terdampak.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono pernah mengatakan tidak ada larangan untuk membangun di daerah rawan gempa. Namun, struktur bangunan yang tahan gempa wajib dipenuhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita bisa kasih jarak 100 meter dari jalur sesar. Tidak ada larangan bangun di daerah rawan gempa tapi struktur bangunan wajib dipenuhi," katanya, pada 2019.
Masalahnya, banyak permukiman warga yang dibangun seadanya. Salah satu temuan BMKG adalah para korban gempa Malang 2021.
"Dari hasil survei dan evaluasi di lapangan banyak ditemukan struktur bangunan yang tidak memenuhi persyaratan tahan gempa. Mayoritas bangunan tidak menggunakan struktur kolom pada bagian sudutnya," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, 14 April 2021.
Presiden Jokowi, usai mengunjungi korban gempa Cianjur dan pembangunan rumah tahan gempa, mengungkap sedikit spesifikasi bangunan semacam ini.
"Ini rumah contoh tahan gempa di kompleks Yonif Raider 300, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Spesifikasinya berupa pondasi lajur batu kali, struktur baja, dinding bata ringan, kusen dan rangka atapnya dari baja ringan," kicaunya di akun Instagram-nya.
"Rumah contoh tersebut merupakan salah satu skema untuk perbaikan rumah warga terdampak gempa Cianjur. Rumah seperti ini pernah dibangun sebagai hunian tetap tahan gempa di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan," lanjut dia.
Erwin Rommel, pengajar Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengungkapkan kebanyakan bangunan di Cianjur belum memenuhi spek tahan gempa.
"Sebagian besar bangunan yang berdiri di daerah Cianjur adalah bangunan rendah dan bangunan sederhana yang belum memenuhi kaidah rumah tahan gempa. Kebanyakan masyarakat awam beranggapan bahwa gempa yang terjadi lebih berdampak signifikan pada bangunan tinggi saja," tuturnya, dikutip dari situs UMM.
"Nyatanya bencana gempa bisa mengakibatkan kerusakan pada semua bangunan, baik rumah tinggal maupun gedung-gedung bertingkat," imbuh dosen asal Medan tersebut.
Soal spesifikasi rumah tahan gempa, Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kamus (BP2K) UMM itu mengatakan ada sederet utama.
Pertama, pembuatan bangunan dengan bentuk sesimetris mungkin. Kedua, cukup tersedianya pengaku pada dinding. Minimal, katanya, setiap 12 meter persegi luasan dinding harus diberikan kolom dan balok praktis.
Ketiga, memberi peng-angkur-an yang cukup pada setiap sambungan elemen pada bangunan. Misalnya, sambungan dari dinding ke balok pondasi, sambungan dinding ke kolom, ataupun sambungan balok ke konstruksi atap.
Pihaknya sudah mengenalkan beberapa bangunan sederhana tahan gempa. "Di antaranya rumah sederhana tahan gempa berbahan kayu, bambu, dan beton. Spesifikasi utama yang harus dipenuhi agar rumah tahan gempa yakni adanya integritas bangunan," imbuh dia.
Rumah tahan gempa dapat tercipta jika seluruh elemen-elemen dari bangunan mulai dari pondasi, balok sloof, kolom, dinding, serta balok atap tersambung dengan baik dan benar.
Selain itu, perlu adanya penyalur beban dari satu elemen ke elemen lain agar bangunan tidak mudah runtuh dan dapat menahan beban gempa.
Rasio campuran semen, pasir, air hingga harga mahal di halaman berikutnya...
Spek PUPR hingga Siasati Bahan
Salah satu wilayah yang terdampak gempa Cianjur. (Foto: AFP/ADITYA AJI)
Berdasarkan Lampiran Surat Keputusan Direktur Jenderal Cipta Karya No. 111/KPTS/CK/1993, tertanggal 26 September 1993, tentang Pedoman Bangunan Tahan Gempa Bangunan Beton Bretulang, ada sejumlah deret spesifikasi rumah tahan gempa.
CNNIndonesia.com merangkum sejumlah hal utama, yakni:
1. Bentuk denah bangunan sebaiknya sederhana dan simetris. Misalnya, rumah berbentuk L, baiknya ada pemisahan struktur menjadi dua persegi panjang vetikal dan horzontal.
2. Penempatan dinding-dinding penyekat dan lubang (lubang pintu/jendela diusahakan sedapat mungkin simetris terhadap sumbu-sumbu denah bangunan.
3. Bidang-bidang dinding sebaiknya membentuk kotak-kotak tertutup.
4. Atap sedapat mungkin dibuat ringan
5. Dalam hal pondasi, ada sejumlah ketentuan yang mesti diterapkan:
Sebaiknya tanah dasar pondasi merupakan tanah yang kering, padat, dan merata kekerasannya.
Dasar pondasi sebaiknya terletak lebih dalam dari 45 cm di bawah permukaan tanah.
Pondasi sebaiknya dibuat menerus keliling bangunan tanpa terputus, pondasi dinding penyekat juga dibuat menerus. Jika pondasi terdiri dari batu kali, maka perlu dipasang balok pengikat/sloof sepanjang pondasi.
Pondasi-pondai setempat perlu diikat kuat satu sama lain dengan memakai balok.
6. Pencampuran komponen-komponen beton harus dilakukan dengan baik dan pengadukan harus merata serta mengikuti rasio tertentu, yakni 1 semen: 2 pasir: 3 kerikil: 1/2 air.
Siasati biaya mahal
Erwin mengakui dalam realisasinya pembuatan rumah tahan gempa "memang membutuhkan biaya yang lebih mahal dibanding rumah pada umumnya."
Namun, dia mengatakan bahwa hal tersebut bisa disiasati dengan penggunaan bahan-bahan bangunan yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal. Masyarakat bisa menggunakan bambu atau rotan sebagai pengganti tulangan baja. Selain itu, penggunaan kayu juga bisa menjadi alternatif bahan pengganti lainnya.
"Intinya, konsep pembangunan rumah tahan gempa adalah membuat bangunan menjadi lebih ringan, lebih daktail, dan adanya penyaluran beban dari setiap elemennya sampai ke pondasi," ujar dia.
"Jika kita bisa memanfaatkan kekayaan alam sebagai pengganti bahan bangunan, maka rumah tinggal tahan gempa bisa menjadi lebih murah dan terjangkau di masyarakat," tandas dia, yang juga menjabat ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) wilayah Malang Raya itu.