Meta Soal 3 Pemain Prancis Dapat Ujaran Rasis: Kami Telah Pakai AI

CNN Indonesia
Selasa, 20 Des 2022 21:00 WIB
Tiga pemain Prancis menerima ujaran rasis usai kalah di final Piala Dunia. Namun Meta mengklaim telah gunakan AI untuk melawan hal itu. Ilustrasi. Meta mengomentari ujara kebencian dan rasis yang tertuju kepada tiga pemain Prancis. (AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV)
Jakarta, CNN Indonesia --

Meta mengecam ujaran rasis di Instagram yang tertuju kepada tiga pemain Prancis: Kingsley Coman, Kolo Muani, dan Aurelien Tchouameni. Ketiganya menerima ujaran rasis usai Prancis kalah di final Piala Dunia 2022 melawan Argentina, Minggu (18/12).

"Kami tak ingin ujaran rasis di Instagram dan kami telah menghapus komen menjijikkan karena telah melanggar peraturan," kata Meta seperti dikutip dari The Athletic.

Dalam laga di Lusail Stadium, Qatar, Prancis takluk 2-4 dari Argentina lewat babak adu penalti usai bermain imbang 3-3 hingga 120 menit. Hal itu membuat Prancis gagal mempertahankan gelar juara dunia.

Ketiga pemain ini dianggap sebagai biang keladi kekalahan tersebut. Muani gagal memanfaatkan peluang emas setelah tendangannya ditepis kiper Argentina, Emiliano Martinez.

Sementara itu, Coman dan Tchouameni gagal menuntaskan tugasnya sebagai eksekutor tendangan penalti. Alhasil, kolom komentar ketiganya dibanjiri ujaran rasis berupa emoji pisang dan monyet.

Tchouameni dan Muani memilih membatasi kolom komentar mereka. Sementara, pengguna tetap bebas berkomentar di kolom komentar akun Coman.

Meta mengatakan, pihaknya pertama-tama ingin membantu orang-orang untuk tidak melihat ujaran itu.

"Itulah kenapa kami mengembangkan fitur Sembunyikan Kata-kata (Hidden Words), sebuah fitur yang menyaring komen ofensif, DM, dan Limits, yang membatasi komentar serta DM dari orang yang tidak mengikuti atau mengikuti Anda baru-baru ini,"

Meta mengaku sudah berkomunikasi secara langsung dengan para pemain sejak final piala dunia kemarin, sehingga bisa lekas mengaktifkan fitur-fitur tersebut.

Melansir situs resminya, Meta mengklaim telah berusaha dengan segala cara untuk melawan ujaran kebencian termasuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Akan tetapi, Meta mengakui AI tersebut belumlah sempurna.

"Kami mengidentifikasi ujaran kebencian menggunakan kombinasi AI dan tinjauan manusia. AI membantu kami memprioritaskan laporan dari para peninjau dan mengambil tindakan otomatis yang sesuai," kata Meta.

"Kami tahu, AI tidak sempurna dan ada beberapa situasi mereka gagal. Orang-orang punya hak merasa frutrasi dan telah melapor namun mendapat informasi bahwa komentar yang dilaporkan tidak melanggar peraturan. Itu karena AI kami tak mengerti konteksnya," ujarnya lagi.

[Gambas:Video CNN]

(can/lth)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER