Owa Hamil di Kebun Binatang Jepang, Ahli Ungkap Dunia Percintaannya
CNN Indonesia
Jumat, 17 Feb 2023 10:22 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Mitos menyebut owa adalah binatang yang setia pada pasangannya. Yakin? (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia --
Seekor owaalias gibbon bernama Momo di Kebun Binatangdan Kebun Raya Kujukushima, Jepang, yang mendadak hamil meski terkunci sendiri di dalam kandang. Bagaimana sebenarnya hubungan percintaan satwa langka ini?
Sempat jadi misteri, ayah dari bayinya Momo itu terungkap lewat tes DNA. Pihak kebun binatang menyebut Momo dihamili oleh owa jantan bernama Ito (34) yang tinggal di dekat kandangnya.
Kebun binatang mengungkap pasangan ini Momo dan Ito bercinta lewat lubang kecil berukuran 9 milimeter di pelat baja yang terpasang di antara kandang mereka. Hasilnya, bayi seberat 2 kilogram.
"Ini adalah kehidupan berharga yang lahir ke dunia. Kami akan terus merawatnya dengan baik dan berharap dia akan berumur panjang dengan sehat," kata wakil Direktur Kebun Binatang dan Kebun Raya Kujukushima Hideki Hisano, dikutip dari CNN.
Dunia percintaan owa
Owa merupakan spesies kera kecil yang punya suara nyaring kala bernyanyi. Kera itu bisa berayun dari cabang ke cabang dengan kecepatan hingga 35 mil per jam.
Populasi owa lincah ini sendiri saat ini semakin berkurang. Mereka terdaftar sebagai spesies yang terancam punah di International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Pemicunya adalah aktivitas manusia seperti penggundulan hutan, pertambangan, dan pembangunan jalan yang mengancam habitat mereka.
Ia memiliki habitat di hutan hujan wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, mulai dari timur laut India, bagian tenggara China, Banglades, Malaysia, Kalimantan, Jawa, dan Sumatra.
Setiap spesies owa merupakan allopatrically atau berevolusi dengan menyesuaikan kondisi geografis lingkungannya.
Namun, ada beberapa spesies yang mendapat pengecualian, yakni siamang, owa serudung, dan owa ungko yang berevolusi secara sympatric atau berevolusi meski tidak terpisah secara geografis dari spesies leluhurnya.
Hewan ini sejak lama diklaim berkembangbiak dengan sistem monogami atau hanya memiliki satu pasangan sepanjang hidupnya.
Dilansir National Geographic, pasangan owa punya ikatan kuat di antaranya karena aktivitas bernyanyi bersama ketika berkencan. Ikatan ini tumbuh hingga membentuk konsep keluarga yang mirip dengan manusia.
Nantinya, anak-anak owa akan meninggalkan orang tua mereka ketika mereka menjadi dewasa untuk berpasangan dengan owa dewasa lain dan kemudian memiliki wilayah mereka sendiri.
Namun demikian, studi berjudul "Social Monogamy in Gibbons: The Male Perspective" karya Ulrich Reichard dari Southern Illinois University menunjukkan owa tak setia-setia amat.
Itu berdasarkan studi terhadap owa-owa jenis white-handed gibbons di KhaoYai National Park, Thailand selama 2.900 jam atau sekitar 650 hari antara 1991 hingga 2002.
Lewat penelitiannya itu, Reichard tak mendapatkan pembuktian soal klaim berbagai penelitian terkait pilihan monogami owa terkait dengan strategi pertahanan atau keturunan.
Meski ada "pasangan tetap" yang hubungannya erat, ia menemukan beberapa perselingkuhan pejantan dengan "betina tetangga".
"Sanggama ekstra bahkan telah diamati pada owa, alih-alih berasumsi bahwa monogami sosial dikaitkan dengan reproduksi monogami," ungkap peneliti.
Poligini lokal di halaman berikutnya...
Reichard menyodorkan istilah model perkawinan poligini komunitas lokal (LCMP) sebagai alternatif lain untuk menjelaskan evolusi monogami sosial pada owa.
Hubungan semacam ini menggabungkan hidup dengan satu pasangan inti dan kawin dengan beberapa betina lain di lingkungan setempat. Lingkungan ini mencakup semua individu yang berbagi wilayah itu atau wilayah jelajah yang berdekatan.
Peneliti menyebut hubungan erat antara sepasang owa "kemungkinan untuk menghindari penggunaan sumber daya tidak terkendali oleh jantan yang berbagi jangkauan betina."
Menurut data awal tentang strategi pemberian makan dari KhaoYai, semua betina dari tiga kelompok studi menikmati akses prioritas ke sumber makanan.
Pada saat yang sama, campur tangan strategi makan jantan memang menurun terhadap eksploitasi sumber daya betina itu.
"Satu hubungan pasangan yang dekat mungkin sebenarnya mencerminkan upaya untuk memaksimalkan peluang reproduksi dengan tambahan mitra," lanjut periset.
Reichard pun berasumsi bahwa aktivitas menyanyi owa merupakan kompetisi antar jantan untuk mendapatkan pasangan tambahan.
"Menarik untuk memperlajari apakah kegiatan menyanyi pejantan mungkin lebih baik dipahami sebagai hasil dari kompetisi para jantan untuk mraih betina ekstra," ucapnya, mengutip studi Leighton (1987) serta Geissmann & Orgeldinger (2000).
"Ketimbang pemahaman yang lebih tradisional bahwa kegiatan bernyanyi siamang terutama mencerminkan kepentingan timbal balik dari pasangan jantan dan betina," lanjut dia.
Menurut dia, pengamatan di Khao Yai menunjukkan bahwa "setidaknya hubungan pasangan owa setahan lama seperti yang diasumsikan secara umum, dan bahwa mereka jarang, jika pernah, bertahan [dengan pasangannya] seumur hidup."
Jakarta, CNN Indonesia --
Seekor owaalias gibbon bernama Momo di Kebun Binatangdan Kebun Raya Kujukushima, Jepang, yang mendadak hamil meski terkunci sendiri di dalam kandang. Bagaimana sebenarnya hubungan percintaan satwa langka ini?
Sempat jadi misteri, ayah dari bayinya Momo itu terungkap lewat tes DNA. Pihak kebun binatang menyebut Momo dihamili oleh owa jantan bernama Ito (34) yang tinggal di dekat kandangnya.
Kebun binatang mengungkap pasangan ini Momo dan Ito bercinta lewat lubang kecil berukuran 9 milimeter di pelat baja yang terpasang di antara kandang mereka. Hasilnya, bayi seberat 2 kilogram.
"Ini adalah kehidupan berharga yang lahir ke dunia. Kami akan terus merawatnya dengan baik dan berharap dia akan berumur panjang dengan sehat," kata wakil Direktur Kebun Binatang dan Kebun Raya Kujukushima Hideki Hisano, dikutip dari CNN.
Dunia percintaan owa
Owa merupakan spesies kera kecil yang punya suara nyaring kala bernyanyi. Kera itu bisa berayun dari cabang ke cabang dengan kecepatan hingga 35 mil per jam.
Populasi owa lincah ini sendiri saat ini semakin berkurang. Mereka terdaftar sebagai spesies yang terancam punah di International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Pemicunya adalah aktivitas manusia seperti penggundulan hutan, pertambangan, dan pembangunan jalan yang mengancam habitat mereka.
Ia memiliki habitat di hutan hujan wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, mulai dari timur laut India, bagian tenggara China, Banglades, Malaysia, Kalimantan, Jawa, dan Sumatra.
Setiap spesies owa merupakan allopatrically atau berevolusi dengan menyesuaikan kondisi geografis lingkungannya.
Namun, ada beberapa spesies yang mendapat pengecualian, yakni siamang, owa serudung, dan owa ungko yang berevolusi secara sympatric atau berevolusi meski tidak terpisah secara geografis dari spesies leluhurnya.
Hewan ini sejak lama diklaim berkembangbiak dengan sistem monogami atau hanya memiliki satu pasangan sepanjang hidupnya.
Dilansir National Geographic, pasangan owa punya ikatan kuat di antaranya karena aktivitas bernyanyi bersama ketika berkencan. Ikatan ini tumbuh hingga membentuk konsep keluarga yang mirip dengan manusia.
Nantinya, anak-anak owa akan meninggalkan orang tua mereka ketika mereka menjadi dewasa untuk berpasangan dengan owa dewasa lain dan kemudian memiliki wilayah mereka sendiri.
Namun demikian, studi berjudul "Social Monogamy in Gibbons: The Male Perspective" karya Ulrich Reichard dari Southern Illinois University menunjukkan owa tak setia-setia amat.
Itu berdasarkan studi terhadap owa-owa jenis white-handed gibbons di KhaoYai National Park, Thailand selama 2.900 jam atau sekitar 650 hari antara 1991 hingga 2002.
Lewat penelitiannya itu, Reichard tak mendapatkan pembuktian soal klaim berbagai penelitian terkait pilihan monogami owa terkait dengan strategi pertahanan atau keturunan.
Meski ada "pasangan tetap" yang hubungannya erat, ia menemukan beberapa perselingkuhan pejantan dengan "betina tetangga".
"Sanggama ekstra bahkan telah diamati pada owa, alih-alih berasumsi bahwa monogami sosial dikaitkan dengan reproduksi monogami," ungkap peneliti.
Poligini lokal di halaman berikutnya...
Poligami Lokal
BBKSDA Riau mengamankan sejumlah owa yang hendak diselundupkan keluar. Satwa ini kerap diperjualbelikan di pasar gelap. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Reichard menyodorkan istilah model perkawinan poligini komunitas lokal (LCMP) sebagai alternatif lain untuk menjelaskan evolusi monogami sosial pada owa.
Hubungan semacam ini menggabungkan hidup dengan satu pasangan inti dan kawin dengan beberapa betina lain di lingkungan setempat. Lingkungan ini mencakup semua individu yang berbagi wilayah itu atau wilayah jelajah yang berdekatan.
Peneliti menyebut hubungan erat antara sepasang owa "kemungkinan untuk menghindari penggunaan sumber daya tidak terkendali oleh jantan yang berbagi jangkauan betina."
Menurut data awal tentang strategi pemberian makan dari KhaoYai, semua betina dari tiga kelompok studi menikmati akses prioritas ke sumber makanan.
Pada saat yang sama, campur tangan strategi makan jantan memang menurun terhadap eksploitasi sumber daya betina itu.
"Satu hubungan pasangan yang dekat mungkin sebenarnya mencerminkan upaya untuk memaksimalkan peluang reproduksi dengan tambahan mitra," lanjut periset.
Reichard pun berasumsi bahwa aktivitas menyanyi owa merupakan kompetisi antar jantan untuk mendapatkan pasangan tambahan.
"Menarik untuk memperlajari apakah kegiatan menyanyi pejantan mungkin lebih baik dipahami sebagai hasil dari kompetisi para jantan untuk mraih betina ekstra," ucapnya, mengutip studi Leighton (1987) serta Geissmann & Orgeldinger (2000).
"Ketimbang pemahaman yang lebih tradisional bahwa kegiatan bernyanyi siamang terutama mencerminkan kepentingan timbal balik dari pasangan jantan dan betina," lanjut dia.
Menurut dia, pengamatan di Khao Yai menunjukkan bahwa "setidaknya hubungan pasangan owa setahan lama seperti yang diasumsikan secara umum, dan bahwa mereka jarang, jika pernah, bertahan [dengan pasangannya] seumur hidup."