Apakah Gerhana Matahari Pertanda Besok Sudah Lebaran Idulfitri?
CNN Indonesia
Kamis, 20 Apr 2023 15:47 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Gerhana matahari cincin yang tampak di Australia. Pakar mengungkap hubungan fenomena ini dengan bulan baru hijriah. (AAP Image/Centre for Radio Astronomy Research/Michael Goh via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Gerhana matahari hibrida yang terjadi pada Kamis (20/4) disebut bisa menjadi penanda alam bahwa bulan hijriah baru hadir keesokan harinya. Simak penjelasan ilmiahnya berikut.
Fenomena alam ini disebut terbilang langka karena, menurut Planetarium dan Observatorium Jakarta, terakhir kali terjadi 216 tahun yang lalu.
Bedanya dengan gerhana matahari biasa adalah gerhana kali ini memiliki dua jenis gerhana dalam momen yang sama, yakni gerhana matahari cincin dan total.
Namun, momen itu hanya bisa dinikmati di beberapa wilayah tertentu di timur Indonesia. Sebagian besar daerah lainnya hanya bisa menikmati gerhana matahari sebagian.
Najmuddin Saifullah, Alumni Magister Ilmu Falak Universitas Walingsongo, menyebut fenomena ini punya kaitan dengan penentuan bulan baru di kalender hijriah.
"Ketika terjadi gerhana Matahari, kemungkinan besar esoknya sudah masuk bulan baru karena ijtimak (konjungsi, satu putaran penuh Bulan mengelilingi Bumi) sudah terjadi," urainya, dikutip dari situs Muhammadiyah.
"Namun harus disesuaikan juga posisi Bulan ketika Matahari terbenam pada hari itu. Kalau Bulan masih berada di atas ufuk, maka menurut hisab hakiki wujudul hilal besok sudah masuk bulan baru," imbuh dia.
Menurut Najmuddin, memahami gerhana harus dimulai dengan memahami fase Bulan. Ia menuturkan gerhana pada dasarnya melibatkan tiga benda langit, yaitu Matahari, Bumi, dan Bulan.
Perhitungan fase Bulan dipengaruhi oleh posisi Bulan terhadap Matahari. Ketika Bulan dan Matahari berdekatan atau memiliki nilai ekliptika (sudut yang dibentuk keduanya dengan pusat di Bumi) yang sama, maka dimulai fase bulan baru.
Sementara, ketika Bulan dan Matahari berkebalikan atau memiliki nilai ekliptika mendekati 180° (posisi berurutan Matahari, Bumi, Bulan), maka fasenya adalah Bulan purnama.
Najmuddin menyebut Bulan mengelilingi Bumi dalam satu putaran (mulai bulan baru hingga ke titik awal) selama 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik.
Pada mulanya, Bulan akan bergerak menjauh dari Matahari. Sampai ke titik terjauh (ekliptika 180°) pada pertengahan bulan, disebut dengan fase purnama.
Bulan perlahan melanjutkan peredarannya dengan mendekati titik yang sama dengan Matahari sampai ke titik awal kembali (ekliptika mendekati 0°, urutannya Matahari, Bulan, Bumi).
"Ketika Bulan kembali ke titik awal itulah para astronom menyebutnya dengan ijtimak/konjungsi. Peristiwa itu juga dianggap sebagai bulan baru, karena Bulan memang mulai mengelilingi Bumi kembali," tutur Najmuddin, dikutip dari situs Muhammadiyah.
Gerhana hingga hilal di halaman berikutnya...
Najmuddin menyatakan Matahari, Bulan, dan Bumi pada saat konjungsi memang berada dalam posisi yang berurutan, meski tidak selalu dalam ekliptika yang sama.
Hal ini disebabkan oleh bidang orbit Bulan mengelilingi Bumi memiliki kemiringan yang berbeda dengan bidang orbit Bumi terhadap Matahari.
Pada waktu tertentu, kata dia, posisi Matahari, Bulan, dan Bumi akan berada pada garis lurus dengan bidang ekliptika yang sama. "Ketika berada dalam bidang ekliptika yang sama inilah terjadi gerhana Matahari," kata Najmuddin.
"Sehingga bisa dikatakan bahwa gerhana Matahari terjadi ketika ijtimak, namun tidak setiap ijtimak terjadi gerhana Matahari. Jadi memang benar ketika terjadi gerhana Matahari, berarti bulan baru telah lahir," tutur dia.
Ini juga berlaku untuk gerhana Bulan, yang terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu bidang ekliptika alias sejajar.
"Jadi setiap gerhana Bulan memang terjadi ketika purnama, namun tidak setiap purnama akan terjadi gerhana Bulan," jelasnya.
Pergantian hari dan hilal
Masalahnya, perlu ada beberapa syarat tambahan terpenuhi pada saat yang sama dengan waktu konjungsi. Yakni, masalah pergantian hari dan kecocokannya dengan posisi hilal (bulan sabit tipis tanda periode bulan baru).
Najumuddin menjelaskan Bulan bisa menuntaskan satu putaran penuh atau ijtimak di waktu pagi ataupun malam dalam sudut pandang penduduk Bumi. Secara astronomi, kapan pun waktunya, sepanjang sudah Ijtimak, maka bulan (hijriah) baru telah dimulai.
Dia menyebut mesti ada kriteria tertentu untuk mengatur kapan dimulainya bulan baru. Kalau hanya berpatokan pada Ijtimak, maka awal bulan bisa dimulai pagi, sore, atau tengah malam.
Ia menuturkan para ulama lantas bersepakat untuk memulai hari baru versi hijriah ketika Matahari terbenam atau waktu maghrib.
Selain pergantian hari, syarat bulan baru adalah posisi hilal.
Konsep wujudul hilal yang dipakai Muhammadiyah sebagai acuan pergantian bulan kamariah, menambahkan syarat hilal (bulan sabit tipis penanda masuk bulan baru) masih berada di atas ufuk saat Matahari terbenam.
Jika tiga syarat itu, yakni konjungsi, pergantian hari, posisi hilal, Najmuddin menyebut "secara astronomi Bulan memang sudah masuk bulan baru dan untuk kepentingan menentukan awal Bulan, kaidah ini bisa dipakai secara praktis."
Dengan kata lain, bulan baru bisa disimpulkan terjadi esok saat konjungsi terjadi sebelum waktu magrib dengan hilal di atas ufuk.
Jakarta, CNN Indonesia --
Gerhana matahari hibrida yang terjadi pada Kamis (20/4) disebut bisa menjadi penanda alam bahwa bulan hijriah baru hadir keesokan harinya. Simak penjelasan ilmiahnya berikut.
Fenomena alam ini disebut terbilang langka karena, menurut Planetarium dan Observatorium Jakarta, terakhir kali terjadi 216 tahun yang lalu.
Bedanya dengan gerhana matahari biasa adalah gerhana kali ini memiliki dua jenis gerhana dalam momen yang sama, yakni gerhana matahari cincin dan total.
Namun, momen itu hanya bisa dinikmati di beberapa wilayah tertentu di timur Indonesia. Sebagian besar daerah lainnya hanya bisa menikmati gerhana matahari sebagian.
Najmuddin Saifullah, Alumni Magister Ilmu Falak Universitas Walingsongo, menyebut fenomena ini punya kaitan dengan penentuan bulan baru di kalender hijriah.
"Ketika terjadi gerhana Matahari, kemungkinan besar esoknya sudah masuk bulan baru karena ijtimak (konjungsi, satu putaran penuh Bulan mengelilingi Bumi) sudah terjadi," urainya, dikutip dari situs Muhammadiyah.
"Namun harus disesuaikan juga posisi Bulan ketika Matahari terbenam pada hari itu. Kalau Bulan masih berada di atas ufuk, maka menurut hisab hakiki wujudul hilal besok sudah masuk bulan baru," imbuh dia.
Menurut Najmuddin, memahami gerhana harus dimulai dengan memahami fase Bulan. Ia menuturkan gerhana pada dasarnya melibatkan tiga benda langit, yaitu Matahari, Bumi, dan Bulan.
Perhitungan fase Bulan dipengaruhi oleh posisi Bulan terhadap Matahari. Ketika Bulan dan Matahari berdekatan atau memiliki nilai ekliptika (sudut yang dibentuk keduanya dengan pusat di Bumi) yang sama, maka dimulai fase bulan baru.
Sementara, ketika Bulan dan Matahari berkebalikan atau memiliki nilai ekliptika mendekati 180° (posisi berurutan Matahari, Bumi, Bulan), maka fasenya adalah Bulan purnama.
Najmuddin menyebut Bulan mengelilingi Bumi dalam satu putaran (mulai bulan baru hingga ke titik awal) selama 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik.
Pada mulanya, Bulan akan bergerak menjauh dari Matahari. Sampai ke titik terjauh (ekliptika 180°) pada pertengahan bulan, disebut dengan fase purnama.
Bulan perlahan melanjutkan peredarannya dengan mendekati titik yang sama dengan Matahari sampai ke titik awal kembali (ekliptika mendekati 0°, urutannya Matahari, Bulan, Bumi).
"Ketika Bulan kembali ke titik awal itulah para astronom menyebutnya dengan ijtimak/konjungsi. Peristiwa itu juga dianggap sebagai bulan baru, karena Bulan memang mulai mengelilingi Bumi kembali," tutur Najmuddin, dikutip dari situs Muhammadiyah.
Gerhana hingga hilal di halaman berikutnya...
Gerhana Bulan dan Matahari
Ilustrasi. Hilal di atas ufuk menentukan pergantian bulan hijriah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Najmuddin menyatakan Matahari, Bulan, dan Bumi pada saat konjungsi memang berada dalam posisi yang berurutan, meski tidak selalu dalam ekliptika yang sama.
Hal ini disebabkan oleh bidang orbit Bulan mengelilingi Bumi memiliki kemiringan yang berbeda dengan bidang orbit Bumi terhadap Matahari.
Pada waktu tertentu, kata dia, posisi Matahari, Bulan, dan Bumi akan berada pada garis lurus dengan bidang ekliptika yang sama. "Ketika berada dalam bidang ekliptika yang sama inilah terjadi gerhana Matahari," kata Najmuddin.
"Sehingga bisa dikatakan bahwa gerhana Matahari terjadi ketika ijtimak, namun tidak setiap ijtimak terjadi gerhana Matahari. Jadi memang benar ketika terjadi gerhana Matahari, berarti bulan baru telah lahir," tutur dia.
Ini juga berlaku untuk gerhana Bulan, yang terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu bidang ekliptika alias sejajar.
"Jadi setiap gerhana Bulan memang terjadi ketika purnama, namun tidak setiap purnama akan terjadi gerhana Bulan," jelasnya.
Pergantian hari dan hilal
Masalahnya, perlu ada beberapa syarat tambahan terpenuhi pada saat yang sama dengan waktu konjungsi. Yakni, masalah pergantian hari dan kecocokannya dengan posisi hilal (bulan sabit tipis tanda periode bulan baru).
Najumuddin menjelaskan Bulan bisa menuntaskan satu putaran penuh atau ijtimak di waktu pagi ataupun malam dalam sudut pandang penduduk Bumi. Secara astronomi, kapan pun waktunya, sepanjang sudah Ijtimak, maka bulan (hijriah) baru telah dimulai.
Dia menyebut mesti ada kriteria tertentu untuk mengatur kapan dimulainya bulan baru. Kalau hanya berpatokan pada Ijtimak, maka awal bulan bisa dimulai pagi, sore, atau tengah malam.
Ia menuturkan para ulama lantas bersepakat untuk memulai hari baru versi hijriah ketika Matahari terbenam atau waktu maghrib.
Selain pergantian hari, syarat bulan baru adalah posisi hilal.
Konsep wujudul hilal yang dipakai Muhammadiyah sebagai acuan pergantian bulan kamariah, menambahkan syarat hilal (bulan sabit tipis penanda masuk bulan baru) masih berada di atas ufuk saat Matahari terbenam.
Jika tiga syarat itu, yakni konjungsi, pergantian hari, posisi hilal, Najmuddin menyebut "secara astronomi Bulan memang sudah masuk bulan baru dan untuk kepentingan menentukan awal Bulan, kaidah ini bisa dipakai secara praktis."
Dengan kata lain, bulan baru bisa disimpulkan terjadi esok saat konjungsi terjadi sebelum waktu magrib dengan hilal di atas ufuk.