Kronologi Kemunculan El Nino dan Kekeringan di RI Versi BMKG
CNN Indonesia
Senin, 05 Jun 2023 07:43 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. BMKG paparkan prediksi soal kedatangan El Nino. (Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menuturkan kronologi kemunculan fenomena iklim El Nino hingga memicu kekeringan yang diprediksi mencapai puncaknya di akhir tahun.
Fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) merupakan peristiwa perubahan angin dan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada iklim global.
Indikatornya tercantum dalam Indeks Nino 3.4. Makin naik suhunya, makin jelas pula kemunculan El Nino yang menyebabkan kekeringan. Sebaliknya, makin turun maka makin jelas kemunculan fenomena La Nina yang memicu kenaikan curah hujan.
Menurut pengamatan suhu muka laut di Samudra Pasifik, Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengungkap La Niña, yang memicu kemarau basah dalam tiga tahun terakhir, berakhir pada Februari 2023.
Dia menyebut ENSO berada pada fase Netral, pada periode Maret-April 2023. Hal itu mengindikasikan ketiadaan gangguan iklim dari Samudra Pasifik.
Urip pun mengungkap ada peluang besar peralihan ke El Nino bulan ini.
"Dengan peluang >80%, ENSO Netral diprediksi mulai beralih menuju fase El Niño pada periode Juni 2023 dan diprediksi akan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat," ujar dia, lewat keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Rabu (31/5).
- Aceh bagian timur - Sumatera Utara bagian timur - Riau bagian timur - Bengkulu bagian barat - Lampung bagian selatan - Banten bagian utara - DKI Jakarta - Jawa Barat bagian utara - Jawa Tengah bagian utara dan timur - DIY bagian selatan - Sebagian wilayah Jawa Timur - Bali - NTB - NTT - Gorontalo bagian selatan - Sulawesi Tengah - Sulawesi Tenggara bagian selatan - Kepulauan Maluku - Maluku Utara
"Sementara itu, sejumlah 16% (113 ZOM) lainnya merupakan wilayah yang mengalami musim hujan atau musim kemarau sepanjang tahun (bertipe satu musim)," sambung Urip.
Puncak El Nino dan kekeringan di halaman berikutnya...
BMKG juga memprediksi puncak El Nino, yang berarti tingkat tertinggi anomali suhu di Pasifik, terjadi pada November - Desember.
"Secara umum El Nino akan mengakibatkan iklim kering di Indonesia, terutama pada periode Juni hingga Oktober. Oleh karena itu dampak El Nino akan terasa lebih signifikan pada periode tersebut karena bersamaan dengan periode kemarau di Indonesia," urai Urip.
Dampak fenomena El Nino, kata dia, umumnya akan mengakibatkan curah hujan yang turun lebih rendah dibanding dengan rata-ratanya, terutama pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON).
Menurutnya, berdasarkan catatan sejarah masa lalu, El Nino yang terjadi setelah pertengahan tahun umumnya berlangsung dengan durasi yang pendek (5-7 bulan).
"BMKG memprediksi El Nino dapat terjadi hingga periode Maret - April 2024," ucap dia.
Sementara itu, Urip mengungkapkan puncak periode kering di Indonesia diperkirakan mendahului periode puncak El Nino.
"Jika puncak yang dimaksud adalah periode kering sebagai dampak El nino di Indonesia maka akan dirasakan pada bulan bulan September - Oktober," ujar dia.
"Karena periode tersebut merupakan puncaknya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia," jelas Urip.
[Gambas:Infografis CNN]
Sebab lainnya adalah siklus Matahari yang berada di sekitar ekuator yang bisa memaksimalkan radiasinya.
"Pada saat yang bersamaan Bulan September - Oktober juga matahari secara siklusnya akan kembali berada di sekitar ekuator," ucap Urip.
"Pada periode tersebut radiasi Matahari yang diterima oleh Indonesia akan maksimum, maka tidak heran nanti pada bulan Oktober kita akan mendapatkan laporan suhu udara panas."
Siklus Matahari di sekitar ekuator biasanya mencapai puncak alias pas di titik khatulistiwa pada saat fenomena ekuinoks (equinox).
Sebelumnya, National Atmospheric and Oceanic Administration (NOAA) AS, 11 Mei, memprediksi El Nino punya kemungkinan 90 persen bertahan hingga 2024.
NOAA juga memprediksi kemungkinan yang muncul adalah El Nino moderat; suhu permukaan laut akan naik 1º celcius. Meski begitu, ada 55 persen kemungkinan El Nino kuat, dengan suhu permukaan laut akan naik 1,5º celcius.
Merespons prediksi ini, Urip menyebut "belum ada model prediksi yang dapat memastikan bahwa El Nino akan bertahan hingga akhir 2024."
Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menuturkan kronologi kemunculan fenomena iklim El Nino hingga memicu kekeringan yang diprediksi mencapai puncaknya di akhir tahun.
Fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) merupakan peristiwa perubahan angin dan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada iklim global.
Indikatornya tercantum dalam Indeks Nino 3.4. Makin naik suhunya, makin jelas pula kemunculan El Nino yang menyebabkan kekeringan. Sebaliknya, makin turun maka makin jelas kemunculan fenomena La Nina yang memicu kenaikan curah hujan.
Menurut pengamatan suhu muka laut di Samudra Pasifik, Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengungkap La Niña, yang memicu kemarau basah dalam tiga tahun terakhir, berakhir pada Februari 2023.
Dia menyebut ENSO berada pada fase Netral, pada periode Maret-April 2023. Hal itu mengindikasikan ketiadaan gangguan iklim dari Samudra Pasifik.
Urip pun mengungkap ada peluang besar peralihan ke El Nino bulan ini.
"Dengan peluang >80%, ENSO Netral diprediksi mulai beralih menuju fase El Niño pada periode Juni 2023 dan diprediksi akan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat," ujar dia, lewat keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Rabu (31/5).
- Aceh bagian timur - Sumatera Utara bagian timur - Riau bagian timur - Bengkulu bagian barat - Lampung bagian selatan - Banten bagian utara - DKI Jakarta - Jawa Barat bagian utara - Jawa Tengah bagian utara dan timur - DIY bagian selatan - Sebagian wilayah Jawa Timur - Bali - NTB - NTT - Gorontalo bagian selatan - Sulawesi Tengah - Sulawesi Tenggara bagian selatan - Kepulauan Maluku - Maluku Utara
"Sementara itu, sejumlah 16% (113 ZOM) lainnya merupakan wilayah yang mengalami musim hujan atau musim kemarau sepanjang tahun (bertipe satu musim)," sambung Urip.
Puncak El Nino dan kekeringan di halaman berikutnya...
Puncak Periode Kekeringan
Ilustrasi. Puncak kekeringan diprakirakan terjadi mulai September. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
BMKG juga memprediksi puncak El Nino, yang berarti tingkat tertinggi anomali suhu di Pasifik, terjadi pada November - Desember.
"Secara umum El Nino akan mengakibatkan iklim kering di Indonesia, terutama pada periode Juni hingga Oktober. Oleh karena itu dampak El Nino akan terasa lebih signifikan pada periode tersebut karena bersamaan dengan periode kemarau di Indonesia," urai Urip.
Dampak fenomena El Nino, kata dia, umumnya akan mengakibatkan curah hujan yang turun lebih rendah dibanding dengan rata-ratanya, terutama pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON).
Menurutnya, berdasarkan catatan sejarah masa lalu, El Nino yang terjadi setelah pertengahan tahun umumnya berlangsung dengan durasi yang pendek (5-7 bulan).
"BMKG memprediksi El Nino dapat terjadi hingga periode Maret - April 2024," ucap dia.
Sementara itu, Urip mengungkapkan puncak periode kering di Indonesia diperkirakan mendahului periode puncak El Nino.
"Jika puncak yang dimaksud adalah periode kering sebagai dampak El nino di Indonesia maka akan dirasakan pada bulan bulan September - Oktober," ujar dia.
"Karena periode tersebut merupakan puncaknya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia," jelas Urip.
[Gambas:Infografis CNN]
Sebab lainnya adalah siklus Matahari yang berada di sekitar ekuator yang bisa memaksimalkan radiasinya.
"Pada saat yang bersamaan Bulan September - Oktober juga matahari secara siklusnya akan kembali berada di sekitar ekuator," ucap Urip.
"Pada periode tersebut radiasi Matahari yang diterima oleh Indonesia akan maksimum, maka tidak heran nanti pada bulan Oktober kita akan mendapatkan laporan suhu udara panas."
Siklus Matahari di sekitar ekuator biasanya mencapai puncak alias pas di titik khatulistiwa pada saat fenomena ekuinoks (equinox).
Sebelumnya, National Atmospheric and Oceanic Administration (NOAA) AS, 11 Mei, memprediksi El Nino punya kemungkinan 90 persen bertahan hingga 2024.
NOAA juga memprediksi kemungkinan yang muncul adalah El Nino moderat; suhu permukaan laut akan naik 1º celcius. Meski begitu, ada 55 persen kemungkinan El Nino kuat, dengan suhu permukaan laut akan naik 1,5º celcius.
Merespons prediksi ini, Urip menyebut "belum ada model prediksi yang dapat memastikan bahwa El Nino akan bertahan hingga akhir 2024."