"El Nino ini intensitasnya lemah hingga moderat, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada ketersediaan air atau kekeringan, juga produktivitas pangan atau berdampak terhadap ketahanan pangan," kata Dwikorita beberapa waktu lalu.
Data terbaru menunjukkan indikator-indikator El Nino masih dalam kondisi tidak signifikan. Indeks NINO 3.4 berada pada angka +1,04 atau El Nino lemah, Southern Oscillation Index (SOI) pada angka -11.9 atau tak signifikan.
Selain itu, fenomena iklim yang turut 'mengeringkan' hujan, Indian Ocean Dipole (IOD), masih dalam kondisi tak signifikan (Dipole Mode Index/DMI +0.20).
Peringatan soal potensi kekeringan itu bukan tanpa alasan. Secara geografis, Indonesia pernah mengalami beberapa kali mengalami kekeringan dahsyat terutama akibat El Nino.
Berikut riwayat kekeringan dahsyat yang pernah melanda Indonesia:
1997
Kekeringan panjang jelang-jelang keruntuhan Orde Baru ini melanda sejumlah besar wilayah Indonesia. Bencana ini juga dibarengi dengan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Insiden ini bahkan menjadi perhatian internasional karena RI mengekspor asap ke negara-negara tetangga.
Kebakaran hutan yang melanda sejumlah kawasan di Pulau Sumatera dan Kalimantan saat itu memang terkait dengan El Nino. Lantaran curah hujan amat minim dan kondisi udara kering, api menjadi mudah tersulut dan merambat serta sulit dikendalikan.
Kekeringan dan kemarau panjang saat itu juga menyebabkan banyak wilayah sentra pertanian mengalami gagal panen karena distribusi curah hujan yang tidak memenuhi kebutuhan tanamanan, menurut Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Sebuah studi di Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi mengungkapkan hasil analisis Standarized Precipitation Indeks (SPI) menunjukkan fenomena El Nino saat itu memicu kekeringan dengan intensitas sangat tinggi (ekstrem kering).
SPI merupakan indeks probabilitas dari data curah hujan di mana indeks negatif menunjukkan kondisi kering sedang indeks positif untuk kondisi basah.
Dalam jurnal tersebut, para peneliti mengungkapkan pada tahun 1997 terjadi El Nino kuat dengan nilai SPI 3, 6 dan 12 pada bulan Agustus, September dan Oktober menunjukkan nilai SPI kurang dari -3. Artinya fenomena El Nino 1997 menyebabkan musim kering ekstrim-kering sepanjang tahun.
Para peneliti mengungkap El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang terjadi secara bersamaan pada tahun 1997/1998 mengakibatkan panjangnya musim kemarau di tahun tersebut.
Sepanjang 1997 hanya tiga bulan yang mempunyai curah hujan sedikit di atas normal, sisa bulan yang lain mempunyai curah hujan di bawah normal.
"Anomali positif suhu permukaan laut Samudera Pasifik (El Nino) dan Samudera Hindia (IOD+) yang terjadi secara bersamaan pada tahun 1997/1998, telah menyebabkan kemarau sangat panjang di tahun tersebut," kata peneliti.
"Tingginya intensitas kekeringan pada tahun 1997/1998 ditunjukkan dengan nilai SPI 3 (defisit 3 bulan), 6 (defisit 6 bulan) dan 12 (defisit 12 bulan) berkisar antara -1,5 sampai -3,9 yang berarti telah terjadi kondisi kering sampai sangat kering (ekstrim kering) pada tahun itu," lanjut peneliti.
Mengenal El Nino dan La Nina (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)
Riwayat 2015 dan 2019 di halaman berikutnya...
2015
Kekeringan masif juga pernah melanda Tanah Air pada 2015. Dampak yang ditimbulkannya juga tak main-main.
Merujuk data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kekeringan saat itu melanda 16 provinsi, meliputi 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan di Indonesia.
Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mengalami defisit air sekitar 20 miliar meter kubik, selain itu lahan pertanian seluas 111 ribu hektare juga mengalami kekeringan.
Studi sama yang diterbitkan Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi mengungkapkan El Nino 2015 menyebabkan kekeringan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang. Sepanjang tahun itu hanya terdapat empat bulan dengan curah hujan yang normal.
Pada tahun 2015/2016 terjadi kembali musim kering dengan nilai SPI berkisar antara -1,2 - (-2,6) yang berarti agak kering sampai sangat kering (ekstrem kering).
"Durasi kekeringan tahun 2015/2016 termasuk paling panjang selama periode pengamatan," kata peneliti.
2019
Terakhir kali Indonesia mengalami kekeringan parah adalah pada 2019. Saat itu, merujuk data pemerintah, 48.491.666 juta jiwa terdampak kekeringan di 28 provinsi.
Merujuk data BMKG, musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia terjadi mulai Juli hingga Oktober 2019.
BMKG juga menyatakan kekeringan ini turut dipicu El Nino yang aktif dari September 2018 hingga Juli 2019 di Samudera Pasifik ekuator bagian tengah. Kemudian diikuti oleh fenomena IOD+ yang menguat sejak April 2019.
Selain itu, kekeringan tahun 2019 cukup parah karena lebih dinginnya suhu permukaan laut di wilayah Indonesia terutama bagian selatan kurang dari 0.5°C dari kondisi normalnya pada periode Juni - November 2019.
Suhu permukaan laut yang lebih dingin menyebabkan sulitnya pertumbuhan awan yang berpotensi hujan akibat kurangnya kadar uap air di atmosfer akibat rendahnya penguapan dari lautan.
Kekeringan meteorologis juga ditunjukkan oleh periode tanpa hujan lebih dari tiga bulan yang cukup merata di Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian besar Jawa.
Panjang musim kemarau 2019 di Indonesia cenderung lebih panjang dari normalnya. Pada tahun 2019, sekitar 46 persen dari 342 Zona Musim di Indonesia mengalami panjang musim kemarau sama hingga lebih panjang 6 dasarian (dua bulan) dari normalnya.
Salah satu dampak kekeringan dahsyat ini adalah memburuknya kualitas udara lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan pada Agustus hingga Oktober 2019.
"El Nino ini intensitasnya lemah hingga moderat, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada ketersediaan air atau kekeringan, juga produktivitas pangan atau berdampak terhadap ketahanan pangan," kata Dwikorita beberapa waktu lalu.
Data terbaru menunjukkan indikator-indikator El Nino masih dalam kondisi tidak signifikan. Indeks NINO 3.4 berada pada angka +1,04 atau El Nino lemah, Southern Oscillation Index (SOI) pada angka -11.9 atau tak signifikan.
Selain itu, fenomena iklim yang turut 'mengeringkan' hujan, Indian Ocean Dipole (IOD), masih dalam kondisi tak signifikan (Dipole Mode Index/DMI +0.20).
Peringatan soal potensi kekeringan itu bukan tanpa alasan. Secara geografis, Indonesia pernah mengalami beberapa kali mengalami kekeringan dahsyat terutama akibat El Nino.
Berikut riwayat kekeringan dahsyat yang pernah melanda Indonesia:
1997
Kekeringan panjang jelang-jelang keruntuhan Orde Baru ini melanda sejumlah besar wilayah Indonesia. Bencana ini juga dibarengi dengan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Insiden ini bahkan menjadi perhatian internasional karena RI mengekspor asap ke negara-negara tetangga.
Kebakaran hutan yang melanda sejumlah kawasan di Pulau Sumatera dan Kalimantan saat itu memang terkait dengan El Nino. Lantaran curah hujan amat minim dan kondisi udara kering, api menjadi mudah tersulut dan merambat serta sulit dikendalikan.
Kekeringan dan kemarau panjang saat itu juga menyebabkan banyak wilayah sentra pertanian mengalami gagal panen karena distribusi curah hujan yang tidak memenuhi kebutuhan tanamanan, menurut Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Sebuah studi di Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi mengungkapkan hasil analisis Standarized Precipitation Indeks (SPI) menunjukkan fenomena El Nino saat itu memicu kekeringan dengan intensitas sangat tinggi (ekstrem kering).
SPI merupakan indeks probabilitas dari data curah hujan di mana indeks negatif menunjukkan kondisi kering sedang indeks positif untuk kondisi basah.
Dalam jurnal tersebut, para peneliti mengungkapkan pada tahun 1997 terjadi El Nino kuat dengan nilai SPI 3, 6 dan 12 pada bulan Agustus, September dan Oktober menunjukkan nilai SPI kurang dari -3. Artinya fenomena El Nino 1997 menyebabkan musim kering ekstrim-kering sepanjang tahun.
Para peneliti mengungkap El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang terjadi secara bersamaan pada tahun 1997/1998 mengakibatkan panjangnya musim kemarau di tahun tersebut.
Sepanjang 1997 hanya tiga bulan yang mempunyai curah hujan sedikit di atas normal, sisa bulan yang lain mempunyai curah hujan di bawah normal.
"Anomali positif suhu permukaan laut Samudera Pasifik (El Nino) dan Samudera Hindia (IOD+) yang terjadi secara bersamaan pada tahun 1997/1998, telah menyebabkan kemarau sangat panjang di tahun tersebut," kata peneliti.
"Tingginya intensitas kekeringan pada tahun 1997/1998 ditunjukkan dengan nilai SPI 3 (defisit 3 bulan), 6 (defisit 6 bulan) dan 12 (defisit 12 bulan) berkisar antara -1,5 sampai -3,9 yang berarti telah terjadi kondisi kering sampai sangat kering (ekstrim kering) pada tahun itu," lanjut peneliti.
Mengenal El Nino dan La Nina (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)
Riwayat 2015 dan 2019 di halaman berikutnya...
Kekeringan Masif 2015 dan 2019
Ilustrasi. Kekeringan di Indonesia dipicu terutama oleh fenomena iklim El Nino dan IOD. (Adhi Wicaksono)
2015
Kekeringan masif juga pernah melanda Tanah Air pada 2015. Dampak yang ditimbulkannya juga tak main-main.
Merujuk data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kekeringan saat itu melanda 16 provinsi, meliputi 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan di Indonesia.
Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mengalami defisit air sekitar 20 miliar meter kubik, selain itu lahan pertanian seluas 111 ribu hektare juga mengalami kekeringan.
Studi sama yang diterbitkan Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi mengungkapkan El Nino 2015 menyebabkan kekeringan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang. Sepanjang tahun itu hanya terdapat empat bulan dengan curah hujan yang normal.
Pada tahun 2015/2016 terjadi kembali musim kering dengan nilai SPI berkisar antara -1,2 - (-2,6) yang berarti agak kering sampai sangat kering (ekstrem kering).
"Durasi kekeringan tahun 2015/2016 termasuk paling panjang selama periode pengamatan," kata peneliti.
2019
Terakhir kali Indonesia mengalami kekeringan parah adalah pada 2019. Saat itu, merujuk data pemerintah, 48.491.666 juta jiwa terdampak kekeringan di 28 provinsi.
Merujuk data BMKG, musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia terjadi mulai Juli hingga Oktober 2019.
BMKG juga menyatakan kekeringan ini turut dipicu El Nino yang aktif dari September 2018 hingga Juli 2019 di Samudera Pasifik ekuator bagian tengah. Kemudian diikuti oleh fenomena IOD+ yang menguat sejak April 2019.
Selain itu, kekeringan tahun 2019 cukup parah karena lebih dinginnya suhu permukaan laut di wilayah Indonesia terutama bagian selatan kurang dari 0.5°C dari kondisi normalnya pada periode Juni - November 2019.
Suhu permukaan laut yang lebih dingin menyebabkan sulitnya pertumbuhan awan yang berpotensi hujan akibat kurangnya kadar uap air di atmosfer akibat rendahnya penguapan dari lautan.
Kekeringan meteorologis juga ditunjukkan oleh periode tanpa hujan lebih dari tiga bulan yang cukup merata di Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian besar Jawa.
Panjang musim kemarau 2019 di Indonesia cenderung lebih panjang dari normalnya. Pada tahun 2019, sekitar 46 persen dari 342 Zona Musim di Indonesia mengalami panjang musim kemarau sama hingga lebih panjang 6 dasarian (dua bulan) dari normalnya.
Salah satu dampak kekeringan dahsyat ini adalah memburuknya kualitas udara lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan pada Agustus hingga Oktober 2019.