Sosoknya Diragukan Barat, Simak Bukti-bukti Arkeologis Nabi Muhammad
CNN Indonesia
Kamis, 28 Sep 2023 08:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Sejumlah pakar mempertanyakan bukti ilmiah sejarah keberadaan Nabi Muhammad. (iStockphoto/REIMUSS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa akademisi Barat meragukan keberadaan sosok Nabi Muhammad karena beberapa alasan, termasuk soal bukti konkret sejarah. Benarkah tak ada rujukan ilmiah tentang keberadaan Rasul dalam perjalanan sejarah?
Muhammad Sven Kalisch, peneliti di Centre for Religious Studies di the University of Münster, mengklaim setelah melakukan penelitian dan studi yang ekstensif dirinya sampai pada kesimpulan yang sangat kontroversial.
Yakni, Nabi Muhammad mungkin bukan orang yang benar-benar ada dalam sejarah.
"Hasilnya sedemikian rupa sehingga saya yakin bahwa tidak dapat dibuktikan apakah Muhammad benar-benar hidup atau tidak," kata Kalisch dalam sebuah wawancara radio pada 2008.
"Saya percaya bahwa tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini, meskipun saya harus mengakui bahwa saya lebih condong pada pandangan bahwa dia tidak pernah ada. Namun, kita harus bisa mengatakannya dan kita harus bisa berdebat secara akademis tentang hal itu."
Kalisch merupakan salah satu pakar yang menjadi bagian dari program Inârah yang berarti pencerahan. Para peneliti dari Eropa dan Amerika yang tergabung dalam program ini mencoba mendalami sejarah Islam lebih dalam.
Senada, para orientalists seperti Goldziher, Sprenger, and Schacht, dikutip dari Inarah, menuding semua sumber ajaran Islam mengenai sirah (biografi Nabi), Hadits, dan catatan sejarah lainnya sekitar abad pertama hanyalah cerminan dari perdebatan dan pola pikir teologis abad kedua Islam.
Walau begitu, ada sejumlah bukti dan alasan yang bisa menjawab klaim-klaim tersebut.
Salah satu yang utama adalah proyek konstruksi massal di Mekah dan Madinah yang berkontribusi terhadap hilangnya banyak situs bersejarah, tanpa terdokumentasi dengan baik.
Meski demikian, sejumlah temuan arkeologis menunjukkan bukti yang dapat mendebat pendapat para pakar Barat tersebut.
Berikut rincian bukti-bukti arkeologis keberadaan Nabi Muhammad:
Tulisan tertua (manuskript) Al-Quran tertua yang tersimpan di University of Birmingham merupakan salah satu bukti sejarah awal kehadiran Islam di Bumi.
Menurut analisis penanggalan karbon, manuskrip yang terdiri dari dua lembar perkamen ini berasal dari tahun di mana Nabi Muhammad hidup, yakni sekitar tahun 570 hingga 632.
Dikutip dari laman University of Birmingham, naskah Al-Quran tersebut berisi bagian-bagian dari Surat 18 hingga 20 yang ditulis dengan tinta dalam bentuk awal aksara Arab yang dikenal sebagai Hijazi.
Manuskrip Syria
Sebuah manuskrip Syria dari abad keenam diketahui mengandung ayat-ayat tentang penaklukan Arab. Dalam manuskrip tersebut bahkan tersemat nama Muhammad.
"Pada bulan Januari {orang-orang Hims} menerima firman untuk hidup mereka dan banyak desa-desa yang dirusak oleh pembunuhan {Orang-orang Arab} Muhammad (Muhmd) dan banyak orang yang dibunuh dan ditawan dari Galilea sampai ke Beth," tulis potongan manuskrip yang kata-katanya terpencar tersebut.
Dalam buku berjudul 'Seeing Islam as others saw it' karya Robert G. Hoyland, disebutkan ada beberapa hal yang penting dalam fragmen manuskrip tersebut.
Salah satunya adalah kesesuaian dengan tanggal yang diberikan dalam sumber-sumber Arab untuk pertempuran di Gabitha, yaitu 20 Agustus 947 Masehi/12 Rajab 15 Hijriah, dan memiliki kemiripan dengan beberapa catatan dalam Theophanes.
Manuskrip hingga prasasti di halaman berikutnya...
Koin khalifah
Uang koin perak menjadi salah satu metode pembayaran yang digunakan pada masa-masa awal kelahiran Islam.
Koin dari abad pertama kehadiran Islam dari abad pertama Islam yang menunjukkan bagaimana Islam mengadaptasi mata uang dari kerajaan-kerajaan yang sudah ada dan mencetak koin-koin unik mereka sendiri yang bernuansa Islam.
Sebelum menggunakan koin, masyarakat Arab bertransaksi dengan barter perdagangan, bertukar makanan, ternak, serta rempah-rempah dan wewangian langka seperti kemenyan dan mur yang diperoleh dalam perjalanan mereka.
Setelah kematian Nabi Muhammad SAW pada 632 Masehi, kekaisaran Islam terus berkembang di bawah Kekhalifahan Umayyah.
Pada abad ke-7 Masehi, koin-koin yang ada dari kekaisaran Bizantium dan Sasania yang telah dikalahkan, termasuk Suriah, Yordania, Lebanon, dan Mesir modern, menjadi koin pertama yang digunakan oleh umat Islam.
Salah satu contoh koin emas paling awal menunjukkan ukiran "salib yang dimodifikasi", dari 600-an.
Salah satu koin perak yang dijuluki "Khalifah Berdiri," menunjukkan sosok pria berdiri memegang pedang, yang diperkirakan sebagai Khalifah Ummayyah Abd al-Malik, pada salah satu sisinya.
Dilansir Middle East Eye, sisi lain dari koin ini menunjukkan patung mahkota Raja Sasania Khosrow II (591-628 Masehi) yang dimahkotai (591-628 Masehi).
Dalam koin tersebut juga terdapat tulisan Arab, yakni "bismillah Muhammad Rasul Allah."
Dokumen papirus
Dokumen papirus menjadi salah satu catatan bagi sejarah Islam. Puluhan ribu dokumen papirus masih dapat ditemui saat ini, dalam bahasa Yunani, Koptik, dan Arab.
Dalam Bulletin of the American Society of Papyrologists, dari sekian banyak informasi penting yang dikandung papirus, terdapat satu catatan mengenai penaklukan Muslim atas Mesir pada pertengahan abad ke-7.
Ini merupakan sebuah peristiwa penting tidak hanya dalam sejarah peradaban Mediterania, tetapi juga dalam perkembangan salah satu agama dengan jumlah penganut terbanyak di dunia.
Prasasti di Taif
Sebuah prasasti ditemukan di kota Taif, Arab Saudi, dan menjadi salah satu dari lebih dari 60 prasasti Islam awal yang ditemukan.
Di antara isi prasasti ini adalah ayat-ayat Al-Qur'an, doa-doa yang memohon pengampunan, kasih sayang, kesyahidan dan surga; kepercayaan dan keyakinan terhadap Nabi Muḥammad serta pengiriman doa dan shalawat kepadanya.
Prasasti ini, yang sampai sekarang tidak dikenal dalam pengetahuan Barat sangat penting karena tidak hanya menyebutkan syahadat lengkap.
Keduanya juga merupakan peristiwa bersejarah yang penting dan verifikasi dokumenter yang independen, yaitu, rekonstruksi dan renovasi al-Masjid al-Ḥarām di Mekah.
Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa akademisi Barat meragukan keberadaan sosok Nabi Muhammad karena beberapa alasan, termasuk soal bukti konkret sejarah. Benarkah tak ada rujukan ilmiah tentang keberadaan Rasul dalam perjalanan sejarah?
Muhammad Sven Kalisch, peneliti di Centre for Religious Studies di the University of Münster, mengklaim setelah melakukan penelitian dan studi yang ekstensif dirinya sampai pada kesimpulan yang sangat kontroversial.
Yakni, Nabi Muhammad mungkin bukan orang yang benar-benar ada dalam sejarah.
"Hasilnya sedemikian rupa sehingga saya yakin bahwa tidak dapat dibuktikan apakah Muhammad benar-benar hidup atau tidak," kata Kalisch dalam sebuah wawancara radio pada 2008.
"Saya percaya bahwa tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini, meskipun saya harus mengakui bahwa saya lebih condong pada pandangan bahwa dia tidak pernah ada. Namun, kita harus bisa mengatakannya dan kita harus bisa berdebat secara akademis tentang hal itu."
Kalisch merupakan salah satu pakar yang menjadi bagian dari program Inârah yang berarti pencerahan. Para peneliti dari Eropa dan Amerika yang tergabung dalam program ini mencoba mendalami sejarah Islam lebih dalam.
Senada, para orientalists seperti Goldziher, Sprenger, and Schacht, dikutip dari Inarah, menuding semua sumber ajaran Islam mengenai sirah (biografi Nabi), Hadits, dan catatan sejarah lainnya sekitar abad pertama hanyalah cerminan dari perdebatan dan pola pikir teologis abad kedua Islam.
Walau begitu, ada sejumlah bukti dan alasan yang bisa menjawab klaim-klaim tersebut.
Salah satu yang utama adalah proyek konstruksi massal di Mekah dan Madinah yang berkontribusi terhadap hilangnya banyak situs bersejarah, tanpa terdokumentasi dengan baik.
Meski demikian, sejumlah temuan arkeologis menunjukkan bukti yang dapat mendebat pendapat para pakar Barat tersebut.
Berikut rincian bukti-bukti arkeologis keberadaan Nabi Muhammad:
Tulisan tertua (manuskript) Al-Quran tertua yang tersimpan di University of Birmingham merupakan salah satu bukti sejarah awal kehadiran Islam di Bumi.
Menurut analisis penanggalan karbon, manuskrip yang terdiri dari dua lembar perkamen ini berasal dari tahun di mana Nabi Muhammad hidup, yakni sekitar tahun 570 hingga 632.
Dikutip dari laman University of Birmingham, naskah Al-Quran tersebut berisi bagian-bagian dari Surat 18 hingga 20 yang ditulis dengan tinta dalam bentuk awal aksara Arab yang dikenal sebagai Hijazi.
Manuskrip Syria
Sebuah manuskrip Syria dari abad keenam diketahui mengandung ayat-ayat tentang penaklukan Arab. Dalam manuskrip tersebut bahkan tersemat nama Muhammad.
"Pada bulan Januari {orang-orang Hims} menerima firman untuk hidup mereka dan banyak desa-desa yang dirusak oleh pembunuhan {Orang-orang Arab} Muhammad (Muhmd) dan banyak orang yang dibunuh dan ditawan dari Galilea sampai ke Beth," tulis potongan manuskrip yang kata-katanya terpencar tersebut.
Dalam buku berjudul 'Seeing Islam as others saw it' karya Robert G. Hoyland, disebutkan ada beberapa hal yang penting dalam fragmen manuskrip tersebut.
Salah satunya adalah kesesuaian dengan tanggal yang diberikan dalam sumber-sumber Arab untuk pertempuran di Gabitha, yaitu 20 Agustus 947 Masehi/12 Rajab 15 Hijriah, dan memiliki kemiripan dengan beberapa catatan dalam Theophanes.
Manuskrip hingga prasasti di halaman berikutnya...
Koin Hingga Prasasti
Ilustrasi. Manuskrip-manuskri kuno bisa jadi dasar pencarian buktu sejarah Nabi. (Safir Makki)
Koin khalifah
Uang koin perak menjadi salah satu metode pembayaran yang digunakan pada masa-masa awal kelahiran Islam.
Koin dari abad pertama kehadiran Islam dari abad pertama Islam yang menunjukkan bagaimana Islam mengadaptasi mata uang dari kerajaan-kerajaan yang sudah ada dan mencetak koin-koin unik mereka sendiri yang bernuansa Islam.
Sebelum menggunakan koin, masyarakat Arab bertransaksi dengan barter perdagangan, bertukar makanan, ternak, serta rempah-rempah dan wewangian langka seperti kemenyan dan mur yang diperoleh dalam perjalanan mereka.
Setelah kematian Nabi Muhammad SAW pada 632 Masehi, kekaisaran Islam terus berkembang di bawah Kekhalifahan Umayyah.
Pada abad ke-7 Masehi, koin-koin yang ada dari kekaisaran Bizantium dan Sasania yang telah dikalahkan, termasuk Suriah, Yordania, Lebanon, dan Mesir modern, menjadi koin pertama yang digunakan oleh umat Islam.
Salah satu contoh koin emas paling awal menunjukkan ukiran "salib yang dimodifikasi", dari 600-an.
Salah satu koin perak yang dijuluki "Khalifah Berdiri," menunjukkan sosok pria berdiri memegang pedang, yang diperkirakan sebagai Khalifah Ummayyah Abd al-Malik, pada salah satu sisinya.
Dilansir Middle East Eye, sisi lain dari koin ini menunjukkan patung mahkota Raja Sasania Khosrow II (591-628 Masehi) yang dimahkotai (591-628 Masehi).
Dalam koin tersebut juga terdapat tulisan Arab, yakni "bismillah Muhammad Rasul Allah."
Dokumen papirus
Dokumen papirus menjadi salah satu catatan bagi sejarah Islam. Puluhan ribu dokumen papirus masih dapat ditemui saat ini, dalam bahasa Yunani, Koptik, dan Arab.
Dalam Bulletin of the American Society of Papyrologists, dari sekian banyak informasi penting yang dikandung papirus, terdapat satu catatan mengenai penaklukan Muslim atas Mesir pada pertengahan abad ke-7.
Ini merupakan sebuah peristiwa penting tidak hanya dalam sejarah peradaban Mediterania, tetapi juga dalam perkembangan salah satu agama dengan jumlah penganut terbanyak di dunia.
Prasasti di Taif
Sebuah prasasti ditemukan di kota Taif, Arab Saudi, dan menjadi salah satu dari lebih dari 60 prasasti Islam awal yang ditemukan.
Di antara isi prasasti ini adalah ayat-ayat Al-Qur'an, doa-doa yang memohon pengampunan, kasih sayang, kesyahidan dan surga; kepercayaan dan keyakinan terhadap Nabi Muḥammad serta pengiriman doa dan shalawat kepadanya.
Prasasti ini, yang sampai sekarang tidak dikenal dalam pengetahuan Barat sangat penting karena tidak hanya menyebutkan syahadat lengkap.
Keduanya juga merupakan peristiwa bersejarah yang penting dan verifikasi dokumenter yang independen, yaitu, rekonstruksi dan renovasi al-Masjid al-Ḥarām di Mekah.